Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian Menyengat

Ciater selalu membuat saya dan Indri (isteri saya) rindu. Jika dalam tiga bulan saja kami tidak berkunjung ke Ciater, sudah bisa dipastikan Indri akan merengek-rengek minta diajak ke sana, barang satu hingga dua hari. Ciater memang ngangenin.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat kami selalu kangen Ciater. Pertama, udaranya yang sejuk dan masih bersih alias bebas polusi karena berada di lereng pegunungan. Kedua, di tempat ini waktu terasa sangat lambat, sehingga kami benar-benar bisa beristirahat tanpa harus merasa terburu waktu. Ketiga, nah ini yang paling penting, air belerangnya yang hangat (bahkan nyaris panas) yang dialirkan dari kawah Tangkuban Parahu.

Kami bisa berjam-jam berada di kolam rendam berair hangat itu. Ketika hampir seluruh tubuh  (mulai dari leher hingga ke kaki) ditenggelamkan ke dalam kolam rendam, rasanya seperti ada yang memijati tubuh dengan lembut dan hangat.

Tentu saja tidak selama berjam-jam kami merendamkan tubuh, karena tekanan sulfur dan kandungan garamnya akan membuat kita lemas bila terlalu lama berada di dalamnya. Paling-paling 15-30 menit kami berendam, lalu naik ke tepian kolam untuk mengeringkan tubuh sekitar 20 menit, lantas nyebur lagi berkali-kali sampai puas.

Belum lama ini ketika kami berkunjung ke Ciater, hujan sedang turun teramat deras. Semula kami berniat menunggu sampai hujan reda, baru kami akan pergi ke kolam rendam. Tetapi hujan malahan semakin lebat, padahal kerinduan kami pada air belerang Tangkuban Perahu sudah tak tertahankan lagi.

Di kolam rendam, dalam guyuran hujan.

Hujan pun akhirnya tak lagi menjadi masalah. Toh kami memang akan berbasah-basahan di kolam rendam, mengapa pula harus menghindari air hujan. Hujan tak hujan, efek yang akan dihasilkan sama saja: basah kuyup.

Tadinya, saya pikir, kehangatan kolam rendam akan berkurang karena bercampur air hujan. Namun ternyata waw … panas sekali. Mungkin karena udara di luar kolam lebih dingin dibandingkan air kolam yang hangat, maka air kolam pun terasa panas menyengat. Atau mungkin juga karena debit air kolam yang terus-menerus mengalir dari arah kawah, lebih tinggi dibandingkan debit air hujan.

Hanya beberapa detik kami berusaha menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu kolam dan suhu di luar kolam, hingga kemudian kami benar-benar berendam. Sangat menyegarkan rasanya. Namun sekonyong-konyong petir menyambar-nyambar di atas kami dengan kilatnya yang menyilaukan mata,  dan gelegarnya yang membuat jantung berdegup kencang.  Kami pun menyingkir sejenak menjauhi kolam. Tetapi ternyata hanya kami yang pengecut. Para pengunjung lainnya tetap berendam, tak peduli petir.

Keharusan Berpakaian Renang Diabaikan

Sambil menunggu petir berhenti berpentas, dari tempat teduh yang agak jauh, kami mulai memerhatikan para pengunjung kolam rendam satu per satu. Rupanya banyak pengunjung kolam rendam yang tidak menggunakan pakaian renang. Padahal peraturannya jelas-jelas tertulis bahwa semua pengunjung yang berendam di kolam, tanpa terkecuali, harus mengenakan pakaian renang.

Yang berpakaian renang.

Yang berpakaian jilbab sehari-hari (kiri)

dan yang berpakaian renang model  jilbab (kanan)

Ini membuktikan bahwa orang Indonesia umumnya memang susah diatur karena kesadaran dirinya yang sangat rendah. Beraktifitas di kolam renang ataupun di kolam rendam tanpa menggunakan pakaian renang, sesungguhnya membahayakan si empunya diri. Pakaian biasa yang dipakai untuk berbasah-basahan akan membuat beban tubuh memberat dan tentunya kurang sehat bagi tubuh karena pakaian biasa menyerap dan menyimpan air. Tapi peduli apa? Mereka pasti bilang, “yang penting saya tidak mengganggu Anda. Suka-suka dong.” Itu kalau misalnya kita beritahu mereka tentang tentang pentingnya pakaian renang.

Lalu siapa bilang tidak mengganggu? Kalau Anda beraktifitas di kolam renang atau kolam rendam dengan menggunakan cangcut atau kolor atau celana panjang dan kaos singlet, bukankah itu mengganggu? Ya, paling tidak mengganggu pemandangan orang lain. Apalagi kalau yang menggunakannya perempuan: Masalah ini pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya tentang Ciater: Ciater Masih yang Ter ….

Selain itu, para pengelola wisata kolam rendam pun tidak pernah bersikap tegas bila ada pengunjung yang bericikiprah di kolam tanpa berpakaian renang. Mereka membiarkan diri mereka kehilangan wibawa, dengan mencantumkan larangan tertulis di tepi kolam, tapi bersikap “menutup mata” terhadap sebagian besar pengunjung yang mengabaikan larangan itu.

Pakaian renang model jilbab, ada dijual.

Tak ada alasan jelas, mengapa sebagian besar pengunjung enggan berpakaian renang. Kalau tidak punya, bisa membeli atau menyewa dari pengelola kolam rendam. Harga jual dan harga sewanya pun tidak lebih mahal dari karcis masuk ke kolam rendam. Bagi kaum ibu yang biasa berpakaian jilbab dan tidak mau kelihatan auratnya di kolam rendam, juga tersedia pakaian renang khusus bagi para pengguna jilbab. Secara kasat mata pun akan terlihat lebih elok, melihat perempuan memakai pakaian renang model jilbab, ketimbang memakai jilbab sehari-hari lalu menceburkan diri ke dalam kolam.

Sari Ater Hot Spring Resort

Hanya ada dua tempat yang sering saya datangi bila ingin berendam di Ciater, yakni  Ciater Spa Resort dan Sari Ater Hot Spring Resort. Keduanya mempunyai pemilik yang sama, hanya manajemennya saja yang berbeda. Ciater Spa Resort lebih ditujukan untuk mereka yang ingin berobat atau memelihara kebugaran, sedangkan Sari Ater Hot Spring Resort difokuskan pada wisata.

Belakangan saya dan isteri lebih gandrung pada Sari Ater Hot Spring Resort, karena resort yang telah berusia sekitar 35 tahun itu sangat lengkap dan sangat tertata. Resort ini memiliki banyak kolam rendam dan air hangat yang mengalir di sungai-sungai, lengkap dengan air terjunnya. Juga tersedia berbagai hiburan seperti Bioskop 4 dimensi, rumah hantu, fasilitas outbond dan lain  sebagainya.

Air terjun yang panas.

Sungai yang mengalirkan air panas dari sumbernya.

Tetapi saya dan isteri lebih suka menghabiskan waktu dengan berendam di kolam rendam Mayang Sari, yang airnya paling hangat (paling panas?) dibandingkan kolam-kolam rendam lainnya di komplek Sari Ater. Suhu air di kolam rendam Mayang Sari diatur agar tidak kurang dari 42 derajat Celius dan tidak lebih dari 45 derajat Celcius. Ah, saya jadi ingin segera berendam lagi di sana. Ciater memang ngangenin (Sssttt … sebenarnya saya yang tergila-gila pada Ciater, bukan isteri saya. Dia mah nurut ajah kalau diajak ke sana).

Billy Soemawisastra

Wisata Kabut Ciwidey

Jika Anda menyukai kabut, datanglah ke Ciwidey pada musim penghujan. Kabutnya begitu tebal, terutama di daerah-daerah wisata seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, yang terletak di puncak gunung Patuha. Tetapi terkadang, ketika Anda tengah menikmati kabut, tiba-tiba sang kabut beranjak pergi. Itu lantaran awan kelabu yang semula menutupi sinar mentari, sekonyong-konyong membuyarkan diri.

situ-patengang-3Situ Patenggang dalam selimut kabut.

Jangan pergi dulu. Tunggulah beberapa saat lagi, sampai angin dingin pegunungan secara perlahan membelai tubuh kita. Dan, awan kelabu di langit yang sudah tidak lagi biru, kembali menghalangi cahaya sang surya. Pada saat itulah, sambil tersipu malu, sang kabut datang lagi merayap dari puncak Patuha. Perlahan. Merayapi pepohonan. Meluncur gemulai menuruni lereng. Sampai akhirnya menyentuh permukaan air di Kawah Putih maupun di Situ Patenggang. Ia pun berjalan di atas air, seperti Kian Santang, putra Prabu Siliwangi, yang konon trampil berjalan di atas air. Seperti Yesus Kristus, yang dalam Alkitab, dikisahkan pernah berjalan di atas telaga.

view-kawah-putih-21

view-kawah-putih-4

view-kawah-putih-31

Ketika kabut merayapi Kawah Putih.

Hanya dalam beberapa detik setelah sang kabut mempertontonkan performing art di atas telaga, tanpa terasa diri kita pun diselimuti kabut. Di depan kita kabut. Di samping kita kabut. Di belakang kita kabut. Di bawah kita kabut. Di atas kita kabut. Yang ada, hanya kabut. Kabut yang menyatu bersama keheningan. Sayangnya, banyak pengunjung Kawah Putih dan Situ Patenggang yang tidak pernah bisa menyatu dengan keheningan. Tidak pernah bisa merasakan getar misteri Illahi di balik kemegahan sang kabut. Tak sedikit di antara para pelancong domestik justru berteriak-teriak memecah sunyi, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara pecah seperti kaleng rombeng.

kabut-kawah-putih-2-editedIndri dan saya di depan Kawah Putih berkabut.

kawah-putih-3-editedIndri dan saya, di depan Kawah Putih tanpa kabut.

billy-di-kawah-putih-1Saya, di “bibir” Kawah Putih penuh kabut.

Untungnya, ada original sound denting kecapi Parahyangan, mengiringi lagu klasik Sunda Hariring Nu Kungsi Leungit. Dentingnya terdengar sayup diterbangkan angin. Liriknya menyayat hati. Tunggu dulu. Jangan mengira denting kecapi berirama Cianjuran itu berasal dari alam gaib, atau dari kahyangan tempat para dewa bersemayam. Melainkan memang benar-benar berasal dari kecapi sungguhan, yang dimainkan oleh seorang pengamen tetap di kawasan wisata Kawah Putih.

kecawi-bw1Denting kecapi Sunda di Kawah Putih.

Rasanya lebih baik mendengarkan lagu Cianjuran daripada menyimak teriakan para wisatawan yang tidak pernah bisa merasakan kesunyian. Denting kecapi dan keheningan alam Pasundan, terasa menjalin harmoni. Seperti musik blues di tengah daerah kumuh masyarakat Afro-Amerika. Hanya nuansanya saja yang berbeda.

Kawah Putih dan Situ Patenggang, adalah juga surga bagi para fotografer. Baik fotografer amatir maupun professional. Merekalah yang paling sabar menunggu datang dan perginya kabut, untuk mendapatkan momen terindah yang mampu ditangkap mata lensanya. Dalam diam mereka menunggu. Dalam diam mereka membidik. Dalam diam mereka merekam. Hasilnya, bisa kita lihat di berbagai website yang mem-posting foto-foto indah Kawah Putih dan situ Patenggang.

Kawasan Wisata Ciwidey yang Tidak Ditata Dinas Pariwisata

Ciwidey adalah sebuah kota Kecamatan, yang berbatasan dengan Kecamatan Soreang dan Cianjur Selatan. Ciwidey dan Soreang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung, yang juga sering disebut sebagai Bandung Selatan. Jalan yang paling mudah untuk menuju Ciwidey adalah melalui pintu tol Kopo dan Soreang di jalur tol Purbaleunyi. Begitu keluar pintu tol, dan sesampainya di perempatan, berbeloklah ke kanan. Ikuti saja jalan raya Soreang terus lurus, hingga Soreang pun terlewati dan kita akan bertemu dengan kecamatan Ciwidey.

Begitu memasuki Ciwidey, udara pegunungan mulai terasa, apalagi bila sudah melewati daerah pesawahan dan kebun-kebun strawberry. Ada banyak hotel dan cottage tempat para wisatawan menginap, yang juga dilengkapi restoran-restoran di tengah sawah. Kalau sudah sampai di Ciwidey, tanya saja penduduk setempat, di mana letaknya Kawah Putih dan Situ Patenggang. Jangan mengandalkan plang-plang penunjuk jalan, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, tampaknya malas membuat plang-plang penunjuk jalan yang memadai. Ada sih beberapa penunjuk jalan, yang anehnya, diletakkan di tempat-tempat yang kurang strategis. Yang paling gampang sih mengikuti Angkot, atau langsung saja naik Angkot dari daerah Kopo, Bandung.

Obyek wisata di kecamatan Ciwidey, bukan hanya Situ Patenggang dan Kawah Putih. Tetapi ada juga kawasan wisata Ranca Upas, Taman Wisata Cimanggu dan Walini yang ada kolam rendam air panasnya. Belum lagi kebun-kebun strawberry yang menawarkan wisata “silakan petik sendiri”. Tapi kalau dalam urusan air panas belerang, kolam rendam Cimanggu maupun Walini sangatlah buruk jika dibandingkan dengan kolam-kolam rendam air panas di kawasan Ciater, Lembang, Bandung. Air yang terdapat di kolam rendam Cimanggu dan Walini tidak begitu panas, kotor alias jarang dibersihkan, dan fasilitasnya pun tidak dikelola dengan baik. Meskipun, harga tiket masuknya memang lebih murah dibandingkan tiket masuk ke kolam-kolam rendam Ciater. (Lihat: Ciater Masih yang Ter …).

Kawasan wisata Ciwidey, juga Pangalengan dan Lembang, dikelola oleh Perum Perhutani III wilayah Jawa Barat dan Banten. Sebagai instansi yang lebih berpengalaman mengelola hutan, Perum Perhutani tampaknya tidak terlalu piawai mengelola kawasan wisata. Sehingga panorama-panorama alam yang indah seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, berkurang keasriannya, begitu kita melihat tempat-tempat penjual makanan dan cinderamata yang tampak kumuh. Tidak terlihat ada “tangan-tangan” Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung di sini, yang mestinya lebih ahli mengelola daerah wisata dibandingkan Perum Perhutani. Atau, jangan-jangan justru Perum Perhutani yang lebih ahli. Buktinya, tempat-tempat wisata di daerah lainnya di Bandung, yang tidak dikelola Perum Perhutani, juga tak kalah carut-marut. Padahal, Bandung sangat kaya dengan potensi wisata.

Billy Soemawisastra

Ciater Masih yang Ter …

Begitu banyak gunung berapi di Indonesia, baik yang masih aktif maupun yang sedang “tidur”. Di dekat gunung-gunung berapi itu, hampir selalu ditemukan tempat-tempat wisata yang menyediakan fasilitas pemandian air panas atau air belerang. Air panas alami yang bersumber dari kawah gunung berapi itu, dialirkan dan ditampung di kolam-kolam renang atau kolam rendam milik para pengelola hotel dan cottage di sekitarnya.

Ada mitos yang dipercaya sejak dulu bahwa air belerang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, karena sejumlah kandungannya. Tetapi mitos itu, ada benarnya. Menurut berbagai penelitian, air belerang dari kawah gunung berapi, mengandung zat-zat seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), aluminium (Al), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (S) dan sulfur (S). Zat-zat kimia tersebut, secara medis sudah dibuktikan memang dapat menghilangkan berbagai penyakit kulit. (Lihat: www.kabarindonesia.com)

Tentu saja manfaat air belerang itu baru efektif bila suhunya terjaga, kolam penampungannya cukup bersih, dan tidak terlalu sering kita berendam di dalamnya. Bila terlalu sering (apalagi kalau berlama-lama berendamnya) justru akan merusak kulit. Begitu pula bila kolam penampungannya tidak bersih (tidak mengalir) atau berendamnya beramai-ramai hingga membuat airnya cepat tercemar.

Suhu air belerang yang bagus untuk kulit, konon harus berada dalam kisaran 45 derajat celsius, sesuai suhu aslinya. Lalu bagaimana dengan air belerang yang suhunya hangat-hangat kuku? Saya tidak tahu apakah masih efektif menyehatkan kulit atau tidak. Yang jelas, kalau suhunya hangat-hangat kuku, apalagi kalau semakin drop saja kehangatannya, tentunya kurang nikmat untuk direndami.

Seperti itulah kondisi air belerang di kolam-kolam pemandian air panas di kawasan wisata Cipanas, Garut. Hangat-hangat kuku. Nyaris tidak terasa lagi kehangatannya. Berbeda dengan kolam pemandian air panas di kawasan Ciater, Bandung-Subang. Di sini, air belerangnya benar-benar terasa hangat, bahkan masih terlihat kepulan asap di permukaan airnya. Lagi-lagi saya tidak tahu apa yang menyebabkan air belerang di Cipanas Garut kurang terasa hangat. Mungkinkah karena sudah terlalu banyak bercampur dengan air biasa, atau lantaran air belerang di sana sudah berkurang kadarnya?

Tetapi di Ciater, khususnya di Ciater Spa Resort, bukan hanya kehangatan air belerangnya yang selalu terjaga konstan, melainkan juga kolamnya yang rajin dibersihkan. Sehingga airnya selalu terlihat jernih. Pemandangan di sekitarnya berupa bukit-bukit hijau dan pegunungan, membuat pengunjung semakin betah berendam di sana. Ditambah lagi dengan suhu udara di kawasan Ciater yang selalu terasa dingin, mengundang pengunjung untuk sebentar-sebentar memasukkan tubuhnya ke dalam kolam.

Kolam rendam Ciater Spa Resort.

Dari tiga tempat pemandian air panas di kawasan Jawa Barat yang sempat saya kunjungi, hanya Ciater-lah yang ter … baik. Ciater selalu membuat saya nyaman. Di tempat-tempat lainnya, seperti Cipanas Garut dan Ciseeng Bogor, saya memperoleh kesan: para pengelolanya malas merawat obyek-obyek wisata tersebut. Kumuh. Membuat pengunjung tak betah berlama-lama. Padahal tiket masuk ke tiga tempat pemandian air panas tersebut, tidak jauh berbeda, antara Rp 25.000-Rp 35.000 per orang.

Pemandangan di Ciater.

Jalan menuju Ciater.

Di Ciater Spa Resort, kalau kita menginap, bukan hanya berendam air panas saja yang bisa kita lakukan. Kita juga bisa menikmati terapi kesehatan tubuh yang tersedia di sana (ada klinik dengan dokter-dokternya yang terlatih) dan beberapa jenis rekreasi seperti bermain go kart. Mau tahu biaya keseluruhannya? Lihat saja situs Ciater Spa Resort. Kalau  ingin memperoleh diskon untuk biaya penginapannya, Anda bisa membeli voucher di beberapa biro perjalanan. Selisih harganya lumayan, Anda bisa mendapat potongan harga hingga sekitar 35 persen.

Sayangnya, dalam hal menerapkan peraturan, Ciater Spa Resort kurang tegas. Meski di beberapa pojok dekat kolam rendam tertulis kewajiban menggunakan pakaian renang, nyatanya tak sedikit pengunjung yang berendam dengan menggunakan pakaian biasa, dan tidak ada tindakan dari petugas.

Peraturan yang sering dilanggar.

Kok gak pake baju renang?

Berendam tanpa menggunakan pakaian renang memang kurang sedap dipandang. Apalagi bila pakaian yang dikenakannya berwarna putih transparan. Yang juga tidak elok dilihat adalah kecenderungan pengunjung merokok di kolam rendam, memercikkan abu rokok di kolam, dan membuang puntungnya di sembarang tempat. Tak pernah ada teguran dari petugas untuk kelakuan pengunjung seperti itu. Memang, para petugas cukup rajin membersihkan areal kolam rendam. tapi, apa gak capek?

Billy Soemawisastra