Beringharjo dan Mega-Mega

Setiap kali saya melintas di depan Pasar Beringharjo Jogjakarta, saya selalu teringat pada naskah drama “Mega-Mega” karya almarhum Arifin C. Noer, yang ia tulis antara tahun 1964-1966. Naskah drama – yang mendapat penghargaan sebagai Lakon Sandiwara Terbaik dari Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) 1967 – itu menceritakan kehidupan para gelandangan dan preman di pinggiran Pasar Beringharjo.

Tampak depan Pasar Beringharjo.

Mega-Mega, seperti umumnya naskah-naskah drama yang ditulis Arifin C. Noer, adalah lakon tentang manusia-manusia yang terpinggirkan. Manusia-manusia yang bergulat mengatasi kesengsaraan dengan segala cara, dan mencoba menikmati kesengsaraan itu meskipun dengan nafas yang megap-megap.

Naskah ini pernah saya pentaskan pada akhir 70-an, bersama para remaja asuhan saya yang tergabung dalam grup Teater Gemanti (Generasi Masa Nanti) Jakarta Timur, sebagai keikutsertaan kami pada Festival Teater Remaja se-DKI Jakarta, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Naskah drama karya Arifin C. Noer ini memang merupakan favorit para teaterawan remaja saat itu. Selain karena plot-plotnya yang mudah dibedah, naskah ini tidak terlalu banyak membutuhkan pemain.

Hanya ada tujuh tokoh dalam lakon drama ini, yakni Ma’e, Retno, Koyal, Panut, Tukijan, Hamung dan seorang Pemuda tanpa nama. Jadi tidak perlu mengumpulkan banyak orang untuk mementaskan lakon drama ini. Namun setiap tokoh Mega-Mega, mempunyai karakter yang khas dan kuat, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk “menghidupkannya” di atas pentas.

Mega-mega, yang juga berarti “awan-gemawan” adalah atap rumah suatu kelompok manusia marjinal, yang membentuk sebuah keluarga karena kesamaan nasib. Setiap malam, setelah sepanjang siang mereka mencari makan di sekitar pasar Beringharjo, keluarga yang mempunyai seorang ibu bernama panggilan Ma’e itu bercengkerama di sebuah lapangan luas beratapkan langit. Di situlah mereka bersama-sama merenungi dan menertawakan nasib, sambil “membunuh sepi” agar malam segera berlalu. Dan, esok harinya, mereka akan kembali berkeliaran di pasar Beringharjo yang kumuh dan becek.

Kumuh dan becek. Itulah gambaran pasar Beringharjo yang tersirat dalam lakon drama tersebut, dan konon seperti itu pulalah kenyataannya pada dekade 60-an. Sebuah pasar tradisional yang belum tertata dengan baik. Gambaran ini jualah yang menyebabkan saya tidak pernah tertarik untuk memasuki pasar Beringharjo, walau berulang-kali saya mengunjungi Jogja, dan berulang-ulang saya mengitari jalan Malioboro. Padahal pasar yang legendaris ini letaknya tak terpisahkan dengan jalan Malioboro, pusat wisata belanja kota Jogja.  

Jalan Malioboro di siang hari.

Ketidaktertarikan terhadap pasar bersejarah ini terus berlangsung sampai saya menikahi Indri. Isteri saya ini sangat gandrung bahkan nyaris tergila-gila pada pasar Beringharjo. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar Beringharjo setiap kali kami berlibur atau bertugas di Jogjakarta. Dan, saya, lebih suka memilih untuk tetap beristirahat di hotel, atau berjalan kaki di pinggiran jalan Malioboro dan mengacak-acak toko Mirota Batik, ketimbang harus menemani Indri memasuki gang-gang sempit di pasar Beringharjo.

“Batiknya bagus-bagus dan murah-murah,” kata isteri saya setiap kali pulang dari pasar Beringharjo dengan sejumlah kantong kresek berisikan kain dan baju batik untuk pria dan wanita.

“Yang ini harganya cuman 20 ribu, yang ini 50 ribu, yang ini 75 ribu. Nah yang ini agak mahal, 100 ribu. Tapi batiknya dan jahitannya memang bagus,” celoteh Indri sambil memperlihatkan barang-barang belanjaannya. “Ini semua oleh-oleh untuk keluarga kita. Bukan untuk kamu. Kamu kan gak suka batik.”

Saya memang tidak terlalu suka pada pakaian bermotif batik. Bodo amat. Meskipun bakal dicap tidak mencintai produk lokal buatan bangsa sendiri, kalau tidak suka memang kenapa? Ini kan soal selera. Ya, sesekali suka juga saya pakai baju batik kalau pergi kondangan – itu pun kalau dipaksa isteri saya. Tetapi bukan karena kekurangsukaan saya terhadap batik, yang membuat saya malas memasuki bagian dalam pasar Beringharjo. Melainkan, ya itu tadi, kesan yang membekas di kepala saya: kumuh dan becek.

“Itu kan tahun 60-an,” kata isteri saya. “Coba deh. Sekali saja kamu ikut aku ke pasar Beringharjo, pasti kamu kaget.”

Hingga pada suatu hari, saya paksakan diri mengikuti sang isteri memasuki pasar Beringharjo. Dan, benar saja, kesan becek dan kumuh itu seketika menghilang. Pasar Beringharjo, ternyata sebuah pasar yang megah, bersih, rapi, tertata dan apik. Batik, batik dan batik sepanjang mata memandang. Mulai dari batik tradisional hingga batik kontemporer, ada di sini. Harganya beragam, mulai dari yang 20 ribuan hingga di atas 100 ribuan rupiah. Meskipun tetap saya kurang menyukai batik, namun deretan batik beraneka model dan corak itu, membuat saya terpana.

Pusat belanja batik.

Pasar Beringharjo, menurut gudeg.net, berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar yang semula merupakan tanah berlumpur, agak becek dan banyak pohon beringinnya. Pada tahun 1758, Sultan Jogja yang bertahta pada saat itu, menjadikan wilayah ini sebagai tempat pertemuan rakyat. Lalu rakyat setempat pun membangun payon-payon sebagai peneduh.

Tahun 1925, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan  pemerintah Hindia-Belanda memandang perlu untuk membangun pasar sebagai pusat transaksi niaga rakyat Jogja di atas lahan tersebut. Los-los pasar pun dibangun dengan menggunakan konstruksi beton, dan selesai setahun kemudian (1926). Nama Beringharjo diberikan setelah bertahtanya Sri Sultan Hamengku Bowono IX. Selain untuk mengenang cikal-bakal pasar yang semula merupakan hutan beringin, juga lantaran beringin adalah lambang kebesaran dan pengayoman bagi masyarakat Jawa.

Pasar Beringharjo pernah direnovasi pada tahun 1951 dan 1970, dan pernah pula terbakar pada tahun 1986. Perbaikan demi perbaikan pasar Beringharjo terus berlangsung dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan, sekarang, pasar Beringharjo adalah pasar yang megah terdiri atas tiga lantai, dengan produk utama tekstil, khususnya batik. Di sini juga terdapat banyak jajanan pasar.

Pasar tradisional tiga lantai.

Sekarang, justru sayalah yang selalu mengajak isteri saya untuk berkunjung ke pasar Beringharjo, setiap kali kami bertandang ke Jogja. Menyaksikan isteri saya mengobrak-abrik tumpukan batik bersama kaum ibu lainnya, dan bertransaksi secara tradisional dengan para pedagangnya yang ramah-ramah, sungguh merupakan pertunjukan yang cukup menghibur hati. Tak ada lagi kekumuhan di pasar ini. Tak ada lagi tanah becek. Meski Mega-Mega tetap berarak di langit Jogja, dan melintas di atas pasar Beringharjo.

Billy Soemawisastra

Bakmi Kadin dan Musik Kroncong

Jika Anda termasuk manusia “jadul” berusia minimal 40-an tahun, Anda pasti mengenal atau paling tidak pernah mendengar lagu The Autumn Leaves, yang pertama kali dilantunkan oleh Nat King Cole pada tahun 50-an. Dekade berikutnya lagu ini dikumandangkan oleh Frank Sinatra, dan dasawarsa berikutnya lagi Andy Williams tak mau ketinggalan mendendangkan lagu ini. Singkat kata, lagu ini pernah sangat terkenal hingga sekitar tahun 80-an, karena berganti-ganti dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kelas dunia seperti Elvis Presley, Tom Jones, Engelbert Humperdinck, Eva Cassidy, Johny Mathis, bahkan George Benson dengan irama Jazz-nya.

Liriknya sederhana, nadanya pun sederhana, bisa dinyanyikan dengan nada rendah maupun nada tinggi. Kalau Anda tergolong manusia jadul lalu mengaku tak pernah mengenal atau mendengar lagu The Autumn Leaves sepanjang hidup Anda, maka akuilah bahwa Anda termasuk manusia jadul yang gak gaul pada jamannya. Kalau begitu buru-burulah searching di You Tube. Di situ, akan Anda temukan lagu The Autumn Leaves yang dilantunkan berbagai penyanyi dalam beragam versi.

The Autumn Leaves, tiba-tiba lagu itu terdengar kembali mengalun secara live, dalam irama kroncong, pada pertengahan Juni lalu. Yang menyanyikannya bukan penyanyi terkenal, yang mengiringinya pun bukan band terkenal. Melainkan sebuah grup orkes kroncong jalanan di sudut kota Jogja. Tepatnya di emper  jalan, di teras warung Bakmi Kadin, menghibur para penikmat bakmi. Membuat bakmi Jawa yang sudah terkenal puluhan tahun itu semakin nikmat disantap.

Para musisi kroncong di Bakmi Kadin Jogjakarta.

Warung Bakmi Kadin. Menurut riwayat yang cukup shahih, warung bakmi ini didirikan pada tahun 1947 oleh Mbak Hj, Karto, dan sekarang dikelola penerusnya bernama Rochadi. Disebut bakmi Kadin karena letaknya berada di belakang kantor Kadin (kamar Dagang dan Industri) Jogjakarta, di jalan Bintaran Kulon nomor 3 & 6. Warung bakmi ini sangat terkenal. Dari sudut mana pun di kota Jogja, kalau Anda meminta tukang becak mengantarkan Anda ke warung tersebut, Anda pasti diantarkan ke sana tanpa bertanya lagi. Tentunya setelah tercapai  kesepakatan harga atau ongkos becak.

Para pengunjung Warung Bakmi Kadin.

Di warung bakmi Kadin, Anda akan disambut alunan orkes kroncong yang melantunkan berbagai jenis lagu. Lagu kroncong tradisional, modern, pop Indonesia maupun Barat, termasuk lagu The Autumn Leaves tadi. Sebelum pulang, jangan lupa masukkan uang ke dalam wadah yang memang disediakan untuk upah para penyanyi dan pemusik kroncong ini. Jumlahnya terserah Anda, sekedar untuk  menghargai kreativitas mereka, para musisi kroncong yang tak luluh tergerus jaman.

Dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang.

Bakmi Kadin adalah bakmi tradisional Jawa, yang dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang. Mau bakmi godog (rebus), bakmi goreng ataupun kwetiau, semuanya ada di sini. Anda tinggal pesan. Warung yang buka sejam pukul 9 pagi hingga jam 12 malam itu tak pernah sepi pengunjung. Konon setiap harinya, warung Bakmi Kadin mampu menjual sedikitnya 500 porsi.

Billy Soemawisastra

Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian Menyengat

Ciater selalu membuat saya dan Indri (isteri saya) rindu. Jika dalam tiga bulan saja kami tidak berkunjung ke Ciater, sudah bisa dipastikan Indri akan merengek-rengek minta diajak ke sana, barang satu hingga dua hari. Ciater memang ngangenin.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat kami selalu kangen Ciater. Pertama, udaranya yang sejuk dan masih bersih alias bebas polusi karena berada di lereng pegunungan. Kedua, di tempat ini waktu terasa sangat lambat, sehingga kami benar-benar bisa beristirahat tanpa harus merasa terburu waktu. Ketiga, nah ini yang paling penting, air belerangnya yang hangat (bahkan nyaris panas) yang dialirkan dari kawah Tangkuban Parahu.

Kami bisa berjam-jam berada di kolam rendam berair hangat itu. Ketika hampir seluruh tubuh  (mulai dari leher hingga ke kaki) ditenggelamkan ke dalam kolam rendam, rasanya seperti ada yang memijati tubuh dengan lembut dan hangat.

Tentu saja tidak selama berjam-jam kami merendamkan tubuh, karena tekanan sulfur dan kandungan garamnya akan membuat kita lemas bila terlalu lama berada di dalamnya. Paling-paling 15-30 menit kami berendam, lalu naik ke tepian kolam untuk mengeringkan tubuh sekitar 20 menit, lantas nyebur lagi berkali-kali sampai puas.

Belum lama ini ketika kami berkunjung ke Ciater, hujan sedang turun teramat deras. Semula kami berniat menunggu sampai hujan reda, baru kami akan pergi ke kolam rendam. Tetapi hujan malahan semakin lebat, padahal kerinduan kami pada air belerang Tangkuban Perahu sudah tak tertahankan lagi.

Di kolam rendam, dalam guyuran hujan.

Hujan pun akhirnya tak lagi menjadi masalah. Toh kami memang akan berbasah-basahan di kolam rendam, mengapa pula harus menghindari air hujan. Hujan tak hujan, efek yang akan dihasilkan sama saja: basah kuyup.

Tadinya, saya pikir, kehangatan kolam rendam akan berkurang karena bercampur air hujan. Namun ternyata waw … panas sekali. Mungkin karena udara di luar kolam lebih dingin dibandingkan air kolam yang hangat, maka air kolam pun terasa panas menyengat. Atau mungkin juga karena debit air kolam yang terus-menerus mengalir dari arah kawah, lebih tinggi dibandingkan debit air hujan.

Hanya beberapa detik kami berusaha menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu kolam dan suhu di luar kolam, hingga kemudian kami benar-benar berendam. Sangat menyegarkan rasanya. Namun sekonyong-konyong petir menyambar-nyambar di atas kami dengan kilatnya yang menyilaukan mata,  dan gelegarnya yang membuat jantung berdegup kencang.  Kami pun menyingkir sejenak menjauhi kolam. Tetapi ternyata hanya kami yang pengecut. Para pengunjung lainnya tetap berendam, tak peduli petir.

Keharusan Berpakaian Renang Diabaikan

Sambil menunggu petir berhenti berpentas, dari tempat teduh yang agak jauh, kami mulai memerhatikan para pengunjung kolam rendam satu per satu. Rupanya banyak pengunjung kolam rendam yang tidak menggunakan pakaian renang. Padahal peraturannya jelas-jelas tertulis bahwa semua pengunjung yang berendam di kolam, tanpa terkecuali, harus mengenakan pakaian renang.

Yang berpakaian renang.

Yang berpakaian jilbab sehari-hari (kiri)

dan yang berpakaian renang model  jilbab (kanan)

Ini membuktikan bahwa orang Indonesia umumnya memang susah diatur karena kesadaran dirinya yang sangat rendah. Beraktifitas di kolam renang ataupun di kolam rendam tanpa menggunakan pakaian renang, sesungguhnya membahayakan si empunya diri. Pakaian biasa yang dipakai untuk berbasah-basahan akan membuat beban tubuh memberat dan tentunya kurang sehat bagi tubuh karena pakaian biasa menyerap dan menyimpan air. Tapi peduli apa? Mereka pasti bilang, “yang penting saya tidak mengganggu Anda. Suka-suka dong.” Itu kalau misalnya kita beritahu mereka tentang tentang pentingnya pakaian renang.

Lalu siapa bilang tidak mengganggu? Kalau Anda beraktifitas di kolam renang atau kolam rendam dengan menggunakan cangcut atau kolor atau celana panjang dan kaos singlet, bukankah itu mengganggu? Ya, paling tidak mengganggu pemandangan orang lain. Apalagi kalau yang menggunakannya perempuan: Masalah ini pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya tentang Ciater: Ciater Masih yang Ter ….

Selain itu, para pengelola wisata kolam rendam pun tidak pernah bersikap tegas bila ada pengunjung yang bericikiprah di kolam tanpa berpakaian renang. Mereka membiarkan diri mereka kehilangan wibawa, dengan mencantumkan larangan tertulis di tepi kolam, tapi bersikap “menutup mata” terhadap sebagian besar pengunjung yang mengabaikan larangan itu.

Pakaian renang model jilbab, ada dijual.

Tak ada alasan jelas, mengapa sebagian besar pengunjung enggan berpakaian renang. Kalau tidak punya, bisa membeli atau menyewa dari pengelola kolam rendam. Harga jual dan harga sewanya pun tidak lebih mahal dari karcis masuk ke kolam rendam. Bagi kaum ibu yang biasa berpakaian jilbab dan tidak mau kelihatan auratnya di kolam rendam, juga tersedia pakaian renang khusus bagi para pengguna jilbab. Secara kasat mata pun akan terlihat lebih elok, melihat perempuan memakai pakaian renang model jilbab, ketimbang memakai jilbab sehari-hari lalu menceburkan diri ke dalam kolam.

Sari Ater Hot Spring Resort

Hanya ada dua tempat yang sering saya datangi bila ingin berendam di Ciater, yakni  Ciater Spa Resort dan Sari Ater Hot Spring Resort. Keduanya mempunyai pemilik yang sama, hanya manajemennya saja yang berbeda. Ciater Spa Resort lebih ditujukan untuk mereka yang ingin berobat atau memelihara kebugaran, sedangkan Sari Ater Hot Spring Resort difokuskan pada wisata.

Belakangan saya dan isteri lebih gandrung pada Sari Ater Hot Spring Resort, karena resort yang telah berusia sekitar 35 tahun itu sangat lengkap dan sangat tertata. Resort ini memiliki banyak kolam rendam dan air hangat yang mengalir di sungai-sungai, lengkap dengan air terjunnya. Juga tersedia berbagai hiburan seperti Bioskop 4 dimensi, rumah hantu, fasilitas outbond dan lain  sebagainya.

Air terjun yang panas.

Sungai yang mengalirkan air panas dari sumbernya.

Tetapi saya dan isteri lebih suka menghabiskan waktu dengan berendam di kolam rendam Mayang Sari, yang airnya paling hangat (paling panas?) dibandingkan kolam-kolam rendam lainnya di komplek Sari Ater. Suhu air di kolam rendam Mayang Sari diatur agar tidak kurang dari 42 derajat Celius dan tidak lebih dari 45 derajat Celcius. Ah, saya jadi ingin segera berendam lagi di sana. Ciater memang ngangenin (Sssttt … sebenarnya saya yang tergila-gila pada Ciater, bukan isteri saya. Dia mah nurut ajah kalau diajak ke sana).

Billy Soemawisastra

Papan Penunjuk Jalan atau Reklame?

Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Bandung dikenal sebagai kota yang semrawut. Jalan-jalan kota yang hancur, banyak berlubang. Sampah bertebaran di berbagai tempat. Dan, di kota yang pernah dikenal sebagai Parijs van Java itu, sangat jarang ditemukan papan penunjuk jalan. Sehingga, orang-orang yang tidak begitu akrab dengan “kota kembang” — yang sering pula dipelesetkan sebagai “kota kambing” — mengalami kesulitan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, lantaran tak ditemukan petunjuk.

Untungnya, penduduk Bandung masih memiliki sisa-sisa keramahan Pasundan. Mereka dengan senang hati akan menjawab pertanyaan Anda panjang lebar, bila Anda menanyakan jalan. Tetapi, kalau Anda sering-sering bertanya di setiap jalan yang Anda lewati, tentunya capek juga. Terlebih lagi bila Anda mengendarai mobil. Sebentar-sebentar Anda akan berhenti di pinggir jalan untuk bertanya. Kelakuan seperti ini akan menimbulkan kemarahan pengendara mobil di belakang Anda. Klakson panjang pun akan menyalak memaki Anda.

Sekarang, papan penunjuk jalan bertebaran di hampir setiap tikungan, pertigaan, perempatan, perlimaan. Anda tidak perlu sering-sering bertanya untuk mencari tempat tujuan Anda. Karena bukan hanya nama tempat dan daerah wisata yang terpampang di papan-papan penunjuk jalan itu, tetapi juga nama FO (Factory Outlet),  hotel, ATM (Anjungan Tunai Mandiri – Automatic Teller Machine), rumah makan bahkan pabrik tahu.

Itulah uniknya Bandung. Ibukota Parahiyangan ini, dalam banyak hal, selalu kepingin tampil beda. Papan penunjuk jalan, yang dibuat secara resmi oleh Dinas Perhubungan (Dishub) setempat (baik Dishub Kota Bandung maupun Dishub Kabupaten Bandung) tampaknya bisa pula digunakan sebagai papan reklame.

Dengan kata lain, siapapun yang ingin lokasi usaha atau lokasi transaksinya “diabadikan” alias diiklankan pada papan-papan penunjuk jalan, tinggal menghubungi saja Dishub setempat. Saya tidak tahu apakah ada biaya khusus untuk itu, atau gratis. Tetapi kalau gratis, tentunya semua FO,  semua hotel, semua ATM, semua pabrik tahu, semua rumah makan akan dipampangkan di papan penunjuk jalan.

Kenyataannya, hanya ATM-ATM tertentu, FO-FO tertentu, hotel tertentu, rumah makan tertentu dan pabrik-pabrik tahu tertentu, yang terpampang namanya di papan-papan penunjuk jalan. Berdampingan dengan nama-nama tempat dan lokasi wisata yang sudah umum dikenal. Sahkah semua itu?

Tentunya sah-sah saja hal itu dilakukan, mengingat yang memampangkan papan-papan penunjuk jalan itu adalah instansi resmi pemerintah daerah setempat. Termasuk tak ada salahnya bila lembaga-lembaga komersial (FO, bank, rumah makan, hotel, pabrik tahu) itu mengeluarkan dana khusus untuk membayar semacam retribusi kepada pemerintah daerah (dalam hal ini Dinas Perhubungan). Toh itu tak ada bedanya dengan iklan, dan iklan harus membayar, dan pemerintah daerah butuh uang untuk tambahan biaya pengelolaan wilayahnya, dan lain sebagainya dan lain seterusnya.

Karena ada tambahan biaya dari “pemasangan iklan” pada papan-papan penunjuk jalan, tentunya kota Bandung dan kabupaten Bandung akan semakin tertata. Tidak ada lagi jalan berlubang, tidak ada lagi sampah berceceran, tidak ada lagi lampu jalanan yang padam di malam hari. Sayangnya, dalam banyak hal, Bandung masih semrawut. Termasuk di daerah-daerah tujuan wisata yang semestinya lebih tertata. Tapi itu kan sepuluh tahun yang lalu. Sekarang? Sama saja sih. Meskipun memang ada banyak perbaikan pada tahun 2005, menjelang milad ke-50 Konferensi Asia-Afrika. Sisa-sisa perbaikan itu sampai sekarang masih terasa. Kalau centang-perenang lagi, ya tunggu saja sampai ulang tahun KAA ke-100.

Billy Soemawisastra

Wisata Kabut Ciwidey

Jika Anda menyukai kabut, datanglah ke Ciwidey pada musim penghujan. Kabutnya begitu tebal, terutama di daerah-daerah wisata seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, yang terletak di puncak gunung Patuha. Tetapi terkadang, ketika Anda tengah menikmati kabut, tiba-tiba sang kabut beranjak pergi. Itu lantaran awan kelabu yang semula menutupi sinar mentari, sekonyong-konyong membuyarkan diri.

situ-patengang-3Situ Patenggang dalam selimut kabut.

Jangan pergi dulu. Tunggulah beberapa saat lagi, sampai angin dingin pegunungan secara perlahan membelai tubuh kita. Dan, awan kelabu di langit yang sudah tidak lagi biru, kembali menghalangi cahaya sang surya. Pada saat itulah, sambil tersipu malu, sang kabut datang lagi merayap dari puncak Patuha. Perlahan. Merayapi pepohonan. Meluncur gemulai menuruni lereng. Sampai akhirnya menyentuh permukaan air di Kawah Putih maupun di Situ Patenggang. Ia pun berjalan di atas air, seperti Kian Santang, putra Prabu Siliwangi, yang konon trampil berjalan di atas air. Seperti Yesus Kristus, yang dalam Alkitab, dikisahkan pernah berjalan di atas telaga.

view-kawah-putih-21

view-kawah-putih-4

view-kawah-putih-31

Ketika kabut merayapi Kawah Putih.

Hanya dalam beberapa detik setelah sang kabut mempertontonkan performing art di atas telaga, tanpa terasa diri kita pun diselimuti kabut. Di depan kita kabut. Di samping kita kabut. Di belakang kita kabut. Di bawah kita kabut. Di atas kita kabut. Yang ada, hanya kabut. Kabut yang menyatu bersama keheningan. Sayangnya, banyak pengunjung Kawah Putih dan Situ Patenggang yang tidak pernah bisa menyatu dengan keheningan. Tidak pernah bisa merasakan getar misteri Illahi di balik kemegahan sang kabut. Tak sedikit di antara para pelancong domestik justru berteriak-teriak memecah sunyi, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara pecah seperti kaleng rombeng.

kabut-kawah-putih-2-editedIndri dan saya di depan Kawah Putih berkabut.

kawah-putih-3-editedIndri dan saya, di depan Kawah Putih tanpa kabut.

billy-di-kawah-putih-1Saya, di “bibir” Kawah Putih penuh kabut.

Untungnya, ada original sound denting kecapi Parahyangan, mengiringi lagu klasik Sunda Hariring Nu Kungsi Leungit. Dentingnya terdengar sayup diterbangkan angin. Liriknya menyayat hati. Tunggu dulu. Jangan mengira denting kecapi berirama Cianjuran itu berasal dari alam gaib, atau dari kahyangan tempat para dewa bersemayam. Melainkan memang benar-benar berasal dari kecapi sungguhan, yang dimainkan oleh seorang pengamen tetap di kawasan wisata Kawah Putih.

kecawi-bw1Denting kecapi Sunda di Kawah Putih.

Rasanya lebih baik mendengarkan lagu Cianjuran daripada menyimak teriakan para wisatawan yang tidak pernah bisa merasakan kesunyian. Denting kecapi dan keheningan alam Pasundan, terasa menjalin harmoni. Seperti musik blues di tengah daerah kumuh masyarakat Afro-Amerika. Hanya nuansanya saja yang berbeda.

Kawah Putih dan Situ Patenggang, adalah juga surga bagi para fotografer. Baik fotografer amatir maupun professional. Merekalah yang paling sabar menunggu datang dan perginya kabut, untuk mendapatkan momen terindah yang mampu ditangkap mata lensanya. Dalam diam mereka menunggu. Dalam diam mereka membidik. Dalam diam mereka merekam. Hasilnya, bisa kita lihat di berbagai website yang mem-posting foto-foto indah Kawah Putih dan situ Patenggang.

Kawasan Wisata Ciwidey yang Tidak Ditata Dinas Pariwisata

Ciwidey adalah sebuah kota Kecamatan, yang berbatasan dengan Kecamatan Soreang dan Cianjur Selatan. Ciwidey dan Soreang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung, yang juga sering disebut sebagai Bandung Selatan. Jalan yang paling mudah untuk menuju Ciwidey adalah melalui pintu tol Kopo dan Soreang di jalur tol Purbaleunyi. Begitu keluar pintu tol, dan sesampainya di perempatan, berbeloklah ke kanan. Ikuti saja jalan raya Soreang terus lurus, hingga Soreang pun terlewati dan kita akan bertemu dengan kecamatan Ciwidey.

Begitu memasuki Ciwidey, udara pegunungan mulai terasa, apalagi bila sudah melewati daerah pesawahan dan kebun-kebun strawberry. Ada banyak hotel dan cottage tempat para wisatawan menginap, yang juga dilengkapi restoran-restoran di tengah sawah. Kalau sudah sampai di Ciwidey, tanya saja penduduk setempat, di mana letaknya Kawah Putih dan Situ Patenggang. Jangan mengandalkan plang-plang penunjuk jalan, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, tampaknya malas membuat plang-plang penunjuk jalan yang memadai. Ada sih beberapa penunjuk jalan, yang anehnya, diletakkan di tempat-tempat yang kurang strategis. Yang paling gampang sih mengikuti Angkot, atau langsung saja naik Angkot dari daerah Kopo, Bandung.

Obyek wisata di kecamatan Ciwidey, bukan hanya Situ Patenggang dan Kawah Putih. Tetapi ada juga kawasan wisata Ranca Upas, Taman Wisata Cimanggu dan Walini yang ada kolam rendam air panasnya. Belum lagi kebun-kebun strawberry yang menawarkan wisata “silakan petik sendiri”. Tapi kalau dalam urusan air panas belerang, kolam rendam Cimanggu maupun Walini sangatlah buruk jika dibandingkan dengan kolam-kolam rendam air panas di kawasan Ciater, Lembang, Bandung. Air yang terdapat di kolam rendam Cimanggu dan Walini tidak begitu panas, kotor alias jarang dibersihkan, dan fasilitasnya pun tidak dikelola dengan baik. Meskipun, harga tiket masuknya memang lebih murah dibandingkan tiket masuk ke kolam-kolam rendam Ciater. (Lihat: Ciater Masih yang Ter …).

Kawasan wisata Ciwidey, juga Pangalengan dan Lembang, dikelola oleh Perum Perhutani III wilayah Jawa Barat dan Banten. Sebagai instansi yang lebih berpengalaman mengelola hutan, Perum Perhutani tampaknya tidak terlalu piawai mengelola kawasan wisata. Sehingga panorama-panorama alam yang indah seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, berkurang keasriannya, begitu kita melihat tempat-tempat penjual makanan dan cinderamata yang tampak kumuh. Tidak terlihat ada “tangan-tangan” Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung di sini, yang mestinya lebih ahli mengelola daerah wisata dibandingkan Perum Perhutani. Atau, jangan-jangan justru Perum Perhutani yang lebih ahli. Buktinya, tempat-tempat wisata di daerah lainnya di Bandung, yang tidak dikelola Perum Perhutani, juga tak kalah carut-marut. Padahal, Bandung sangat kaya dengan potensi wisata.

Billy Soemawisastra