Adegan Berulang di Film Indonesia

Hampir sejak awal sejarahnya, film di Indonesia sudah menjadi bagian dari industri budaya, baik di Indonesia maupun dunia. Sebagai bagian dari sebuah industri, film Indonesia tunduk pada mekanisme kerja dalam sebuah industri. Meminjam pandangan Theodore Adorno dan Max Horkheimer, dua empu dalam bidang industri budaya, film merupakan contoh nyata sebuah usaha komersial yang menggunakan mekanisme ban berjalan.


Adorno dan Horkheimer


Lihat saja proses produksi sebuah film. Sutradara memang tetap berada di tempat tertinggi dalam rantai komando pembuatan sebuah film. Tapi peran sutradara dibatasi oleh peran-peran lain dalam mekanisme tersebut. Pekerja film lainnya, seperti pembuat skenario, director of photography, penata cahaya, penata musik, penata busana hingga para aktor dan aktris memberi kontribusi yang besar (pada beberapa bagian mungkin sama besarnya) dengan sang sutradara. Mekanisme ban berjalan membuat para pekerja film bekerja secara professional menurut bagian tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Seperti puzzle, semua menyumbang bagian tertentu untuk memberi gambaran utuh sebuah film.


Mekanisme seperti itu tentunya menjadi dasar standarisasi karya-karya yang dibuat. Hal ini lebih mungkin terjadi ketika para pekerja film memberi kontribusi tidak hanya dalam satu karya. Bekerja pada mesin industri membuat mereka bahkan bisa bekerja pada beberapa proyek, pada saat yang nyaris bersamaan. Kembali meminjam kekhawatiran kedua tokoh di atas, kondisi yang terjadi kemudian adalah apa yang disebut repetisi dan reproduksi, mengulang dan membuat ulang karya yang ada.


Kegiatan dalam pengambilan gambar (shooting) film.


Standarisasi dengan proses repetisi dan reproduksi di dalamnya, membuat karya yang dibuat seringkali mirip satu sama lain. Keunikan sebuah karya seni menjadi terabaikan. Kondisi yang lagi-lagi sudah diprediksi akan muncul oleh Adorno dan Horkheimer, jauh sebelum budaya popular, termasuk film, menjadi industri yang besar.


Kita bisa mengambil contoh ilustrasi musik film horor. Resep yang dipakai selalu sama. Tidak heran kita kadang tidak bisa lagi membedakan ilustrasi antara satu film dengan film lainnya, tidak usah juga berbicara mengenai kesesuaian antara ilustrasi tersebut dengan cerita dan situasi yang ada. Saat situasi seram musik harus menegangkan. Walaupun harus diakui ada juga pekerja film yang ”tidak patuh” pada pakem yang ada dan justru menghasilkan karya yang menarik. Keberhasilan cukup baik dicatat oleh film Bangsal 13.


Ilustrasi musik yang seram memang menggiring penonton untuk merasakan ketegangan karena pertanda munculnya sang Hantu. Namun dugaan dan harapan penonton seringkali tidak terbukti karena yang dihadirkan kemudian adalah suasana lucu yang jauh dari perkiraan penonton.


Repetisi pada karya, terlihat pula pada cerita sebuah film. Sebuah film yang booming bisa dipastikan akan menghadirkan pengikut untuk cerita-cerita sejenis. Film  Ada Apa dengan Cinta membuat genre film cinta remaja yang pernah berjaya di tahun ’80an, era Rano Karno-Jessy Gusman, kembali naik daun. Film  Tusuk Jelangkung kembali menaikkan pamor film horor, yang pernah berkibar di era ’70 dan ‘80-an dengan Suzanna sebagai legenda yang hingga kini tak tergantikan.


Quicky Express, film komedi dengan bumbu adegan-adegan sensual, langsung mendapat pengikut dengan berbagai adegan sensual yang cenderung vulgar. Walaupun belum terbukti, kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya era film “esek-esek” yang pernah berjaya di tahun ’80an.


Film Quicky Express.


Repetisi dan reproduksi dengan mengadaptasi karya asli yang cukup baik dapat kita lihat pada film Nagabonar jadi Dua. Beberapa kelebihan film Nagabonar (yang digarap oleh sutradara yang berbeda) bisa kembali dihadirkan dengan kualitas yang nyaris sama walaupun dengan penggarapan secara berbeda. Sesungguhnya memang tidak perlu ada kesamaan antara karya Asrul Sani pada Nagabonar dengan karya Deddy Mizwar pada Nagabonar jadi Dua.


Ada satu kondisi lain yang perlu diwaspadai dengan adanya repetisi, yaitu hilangnya konteks sebuah karya. Konteks yang biasanya terkait dengan artis pembuatnya dan lebih luas lagi dengan akar budaya asli tempatnya berada. Dalam film Indonesia, hal itu sudah terjadi.


Lihat saja kehadiran film-film laga yang mengadopsi cerita sejarah dan legenda yang sebetulnya merupakan repetisi dari film-film laga ‘China Ngamuk’ dalam film silat Mandarin. Repetisi dan reproduksi yang sebetulnya tidak tepat karena tidak mengindahkan aspek budaya dan situasi masyarakat Indonesia (bahkan di masa lalu yang digambarkan secara tidak akurat dalam film-film tersebut).


Namun kondisi yang paling mengkhawatirkan terkait dengan reproduksi sebuah film adalah menyangkut originalitas sebuah karya. Dengan bantuan teknologi, kita mudah sekali melakukan reproduksi sebuah karya tanpa ada perbedaan kualitas dengan karya aslinya. Dari sisi visual, kualitas karya sebuah film tidak akan ada perbedaan. Apalagi dengan adanya teknologi digital.


Mudahnya reproduksi bahkan kini memunculkan isu lain, isu yang menguasai perkembangan media di era ’90-an yaitu masalah hak cipta. Kepentingan ekonomi membuat hak cipta menjadi penting. Pembajakan tentunya membuat hasil yang mungkin didapat sebuah karya (asli) menjadi berkurang.


Kerugian yang diderita masyarakat dengan begitu banyaknya karya film Indonesia yang mengambil, merepetisi dan mereproduksi sebuah karya asli juga tidak sedikit. Masyarakat sebetulnya hanya memilih dari apa yang ditawarkan pembuat fillm. Padahal penawaran para penguasa media itu sebetulnya adalah film-film dengan jenis yang sama.



Masyarakat pada akhirnya tidak memiliki pilihan yang riil karena beragam pembatasan sudah dilakukan oleh sang pembuat film. Perilaku pembuat film yang melakukan pembatasan cerita, penggarapan bahkan pemain, bukan tidak mungkin berujung pada keseragaman selera para penonton.


Indriati Yulistiani


{Referensi: Theodore Adorno dan Max Horkheimer, “ The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception,” http://www.marxists.org, 1944; Edward S. Herman dan Robert W. McChesney, “The Global Media in The late 1990s”, dalam The Global Media: The New Missionaries of Corporate Capitalism”, London: Cassell, 1997}
[Foto: www.neptunepictures.com, http://winduradityo.multiply.com, http://jejakandromeda.wordpress.com, www.ajangkita.com, http://cinemasia.hyves.nl]

Adegan Cium Itu …

Masih ingat ribut-ribut soal film Buruan Cium Gue di tahun 2004? Karena judulnya yang dianggap kontroversial, ditambah memang ada adegan cium di film tersebut, film besutan itu, ramai-ramai diprotes banyak orang. Tidak kurang dari ulama-ulama kondang Indonesia ikut berkomentar dan mendesak supaya film yang sudah terlanjur diloloskan Lembaga Sensor Film (LSF) itu ditarik dari peredaran.

Akhir cerita kita sudah tahu, film Buruan Cium Gue ditarik dari peredaran, walau kemudian muncul lagi berganti judul menjadi Satu Kecupan. Sang produser (Raam Pundjabi-Multivision) dan tentunya juga LSF, tidak mau dan tidak juga berani melawan suara (sebagian- besar/kecil?) masyarakat Indonesia. LSF bahkan mengaku kecolongan dalam peredaran film itu.

Sebetulnya tidak ada yang aneh ketika film yang dianggap tidak menjunjung tinggi nilai ketimuran serta tidak sesuai dengan etika moral bangsa Indonesia itu, menuai kontroversi. Reaksi (lagi-lagi harus dibilang sebagian) masyarakat adalah reaksi yang sudah bisa diduga. Walaupun harus dicatat juga banyak pihak dan kalangan yang justru menyesalkan kenapa film Buruan Cium Gue ditarik dari peredaran. Logika mereka sederhana, bukankah ciuman antar-remaja yang berpacaran bukan perilaku langka?

Kalau bicara mengenai adegan cium dalam film Indonesia, harus diakui Buruan Cium Gue bukanlah satu-satunya film yang mengandung adegan cium. Masih banyak film lain yang memiliki adegan serupa, bahkan dilengkapi berbagai adegan seks yang menggidikkan bulu roma. Tidak percaya? Coba anda buka koleksi film-film tahun ’80an.

Pertanyaannya, kenapa gunting sensor LSF (yang pernah bernama BSF- Badan Sensor Film) saat itu tidak tajam? Apakah film-film di masa itu yang mengumbar adegan sekitar paha dan dada, dianggap sesuai dengan norma bangsa Indonesia sehingga tidak mengundang protes keras?


Lolosnya Adegan Cium Sesama Jenis.

Jika adegan cium antar-sepasang kekasih (remaja laki-laki dan perempuan) sudah menimbulkan protes, bagaimana jika adegan yang sama dilakukan oleh pasangan sesama jenis? Logika sederhana akan menyatakan, mestinya reaksi dan protes yang muncul lebih keras. Sehingga adegan-adegan semacam itu akan tercincang habis. Nyatanya tidak demikian, seperti yang bisa kita lihat dalam film Arisan dan Coklat Stroberi.

Adegan ciuman dalam film Arisan menjadi tidak sekedar adegan cium karena dilakukan oleh dua tokoh gay. Adegan ciuman itu terjadi setelah adanya suasana intim yang dibangun di antara kedua tokoh. Pada saat itu, salah satu tokoh (yang diperankan oleh Tora Sudiro) baru mulai bisa menerima dirinya sendiri sebagai seorang gay. Penerimaan yang didorong hubungannya dengan tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra.

Lolosnya adegan mesra antar gay dari gunting Lembaga Sensor Film sebetulnya cukup mengagetkan. Meski adegan ciumnya tidak jelas terlihat, tapi pesan tentang adanya adegan yang sensual sangat terasa. Reaksi masyarakat umum terhadap adegan itu cenderung biasa saja. Film ini bahkan bisa dibilang sukses bila dilihat dari jumlah penontonnya. Di Jakarta saja pada 4 minggu pertama diputar telah meraup penonton hingga 100.000 orang.

Reaksi atas “tidak adanya reaksi” terhadap adegan cium antar-gay, justru banyak muncul dari kalangan gay. Di beberapa situs gay bahkan muncul artikel-artikel yang mempertanyakan mengapa adegan cium antar-gay bisa beredar bebas di layar bioskop. Belum lagi berbagai diskusi di beberapa chat room yang memuat berbagai komentar warga.

Nasib film Coklat Stroberi sama beruntungnya dengan Arisan. Padahal, lebih dari pendahulunya itu, film Coklat Stroberi jelas-jelas menampilkan adegan cium sesama jenis, berupa cium antar-pasangan gay dan lesbi. Tapi ”hebatnya”, adegan yang sebetulnya berpotensi untuk memunculkan kontroversi itu, lagi-lagi lolos. Penonton bebas menikmatinya di ruang-ruang bioskop.

Lantas bagaimana reaksi masyarakat? Sebelas dua belas alias tidak berbeda dengan film Arisan, yaitu tidak ada reaksi apalagi protes terhadap adegan itu. Kalaupun muncul perdebatan, justru menyangkut kualitas film atau masalah penggambaran kaum gay-lesbi yang dianggap tidak tepat. Soal cium pasangan sesama jenis, tampaknya aman dari hujatan.


Mengundang Birahi atau Sekedar Akibat Judul?

Dalam obrolan dengan beberapa sineas Indonesia, ada joke yang cederung disepakati. Joke itu berawal dari penjelasan LSF bahwa adegan ”panas” yang akan disensor, adalah adegan yang berpotensi mengundang birahi. Birahi siapa? Mungkin birahi para anggota LSF, yang semuanya heteroseksual itu. Birahi mereka hanya akan terbangkitkan, jika melihat adegan mesra antar-pasangan lawan jenis. Tapi tidak demikian halnya bila adegan mesra yang ditunjukkan dalam film, adalah adegan mesra homoseksual.

Para sineas juga punya trik untuk menghindari tajamnya gunting sensor LSF, yaitu dengan menghadirkan adegan panas (yang mereka yakini tidak akan terlewat sensor) untuk mengalihkan perhatian dari adegan ”agak panas” yang diharapkan tidak dibabat. Resep ini mungkin yang terjadi pada kasus Arisan. Adegan cium hilang tapi adegan mesra dan sensual lainnya tetap aman.

Jika alasan di atas dianggap bisa menjelaskan perilaku lembaga resmi penyensor, bagaimana penjelasan kita atas reaksi masyarakat? Mengapa masyarakat cenderung tenang-tenang saja dengan adegan mesra antar-pasangan sejenis? Padahal hubungan homoseksual belumlah menjadi pola hidup yang diterima masyarakat luas. Jika perilaku pasangan sejenis masih tabu, mengapa adegan kemesraan mereka di layar (perak dan kemudian setelah habis masa edarnya berpindah ke layar kaca) tidak menimbulkan kontroversi?

Apakah mungkin karena kebanyakan orang memang tidak menonton? Ataukah seperti dugaan sebagian orang bahwa reaksi itu muncul bukan karena adegannya tapi karena judul, resensi atau bahkan gunjingan orang? Jika kembali lagi melihat kasus film Buruan Cium Gue, indikasi itu mungkin ada benarnya. Judul Buruan Cium Gue-lah yang mengundang kontroversi. Karena soal isi, Buruan Cium Gue masih jauh lebih sopan dibandingkan banyak film lain yang beredar, tetapi aman dari reaksi, protes, apalagi hujatan.

Indriati Yulistiani.

(Referensi: Devi Asmarani, “Guy Kisses Guy, And Movie Crowds Lap It Up” dalam www.utopia-asia.com, 5 Januari 2004, Diskusi di BoyzForum! www.readybb.com, Devi Asmarani dan Tomi Soetjipto, “Gay Kiss Unlock Ancient Taboo” di http://thescotsman.scotsman.com)
[Foto: www.sctv.co.id, www.geocities.com/maayadbali/film1, http://phantermerahputih.wordpress.com]

Film Indonesia, Industri Budaya yang Kembali Belajar Berjalan

”Loetoeng Kasaroeng”, Sang Pembuka Sejarah Film Indonesia

Lahirnya perfilman nasional disepakati tahun 1950, tepatnya tanggal 30 Maret yang merupakan permulaan produksi film Darah dan Doa karya Usmar Ismail. Karya pertama yang dibuat sineas negeri sendiri. Copy film ini menjadi copy film tertua yang tersimpan di Sinematek Usmar Ismail.

Tapi sesungguhnya, Darah dan Doa bukanlah film pertama di negeri ini. Sebelumnya sudah ada Loetoeng Kasaroeng yang dibuat 80 tahun lalu. walaupun harus diakui film itu memang tidak murni film Indonesia. Bintang-bintangnya memang warga pribumi Indonesia. Namun para pekerja film yang dibuat di Bandung itu adalah warga Belanda yaitu F. Carli dan Kruger. Maklum saja, film Loetoeng Kasaroeng Dibuat saat Belanda masih menjajah bumi pertiwi. Jangan heran pula jika tidak ada copy film ini di Indonesia. Copy film Loetoeng Kasaroeng justru tersimpan rapi di Belanda.

Film Indonesia, Cerminan Sejarah dan Budaya Bangsanya?

Setelah Darah dan Doa, produksi film Indonesia terus ada. Genre-nya pun beragam. Sebutlah era film horor yang dimulai di tahun 1970-an dan terus merajalela hingga tahun 1990-an. Suzanna bisa disebut sebagai ikon film horor di masa itu.

Di akhir tahun 1970-an, muncul era baru dengan bintang-bintang baru. Drama yang mengambil cerita-cerita cinta anak SMA dengan ikon utama Rano Karno – Yessy Gusman, menjadi wajah baru film nasional.

Puluhan film di era itu mengambil wajah yang sama dengan Gita Cinta dari SMA atau sequel-nya Puspa Indah Taman Hati atau Kampus Biru, tentu dengan sedikit modifikasi pada cerita atau pemain. Tapi nama-nama seperti Zainal Abidin atau Rahmat Hidayat nyaris selalu ‘didapuk’ sebagai ayah dengan stereotype masa itu, bersetelan safari dengan menenteng tas kerja ‘Echolac’.

Eksperimen para sineas tak pernah berhenti. Genre baru pun dimunculkan. Tidak semua bisa diterima tapi sebagian bisa memuaskan hasrat hiburan penggemarnya. Sebutlah era film panas yang kemudian muncul. Di saat yang tidak terlalu lama juga muncul era film silat berkedok legenda Indonesia. Semua film-film asal jadi dengan biaya murah.

Di saat seperti itu bukan tidak muncul film berkualitas. Nama-nama seperti Asrul Sani, Teguh Karya, Sjuman Jaya atau bahkan Eros Djarot memberi warna lain. Beberapa film berkualitas muncul. Sebagian mengambil cerita sejarah hingga lahir film RA Kartini serta Tjoet Nya’ Dhien, dua pahlawan wanita Indonesia. Ada juga yang berjaya di festival film Internasional. Tapi tidak bisa dipungkiri arus besar saat itu adalah film panas yang mengumbar paha dan dada para pemainnya.

Tidur Panjang Film Indonesia

PT Inem Film di awal tahun 1980-an menjadi pelopor munculnya film “esek-esek” yang cenderung asal jadi namun malah merajai film nasional saat itu. Publik film harus menerima film-film berjudul seram seperti Ranjang Cinta, Gairah Terlarang, Gejolak Nafsu hingga Permainan Erotik. Selera publik ternyata tidak bisa begitu saja dipaksa menerima film-film pengumbar nafsu (meski sebagian hingga kini tetap bisa ditonton di bioskop-bioskop kelas bawah yang masih tersisa). Namun akibatnya sangat dahsyat bagi perfilman nasional. Di tahun 1990-an film nasional mulai mati suri.

Jumlah produksi film yang tidak memadai membuat ajang anugerah bagi insan film Indonesia, yaitu Piala Citra juga tidak bisa diselenggarakan selama beberapa tahun. Beberapa produksi film yang masih tersisa tidak cukup kuat untuk membangunkan film Indonesia yang tertidur lelap.

Untunglah di akhir tahun 1990-an mulai bermunculan sineas-sineas muda yang membawa angin segar bagi film nasional. Garin Nugroho adalah nama yang tidak bisa tidak harus disebut sebagai pelopor. Meski beberapa filmnya kurang bisa diterima sebagian khalayak film Indonesia karena dianggap terlampau rumit, film-film Garin memiliki kualitas yang tidak sembarangan. Cinta dalam Sepotong Roti, karya pertama Garin misalnya. Gaya film itu sangat berbeda dengan gaya dan pakem para sineas Indonesia masa itu. Karya-karya berikutnya makin menempatkan Garin dalam papan atas sineas Indonesia.

Namun film Indonesia baru bisa benar-benar dibilang mulai bangun kembali dengan Ada Apa dengan Cinta karya Mira Lesmana. Film dengan cerita sederhana, cinta anak SMA – mirip-mirip pendahulunya di tahun 1980-an. Tapi dari segi kualitas film ini jauh di atas film sejenis yang ramai diproduksi di era Rano Karno-Yessy Gusman.

Idola baru pun muncul. Nicholas Saputra dan Dian Sastro menjadi ikon baru sebelum nama-nama lain ikut muncul. Begitu pula dengan sineas-sineasnya. Nama-nama seperti Nia Dinata, Rudi Sudjarwo, Djoko Anwar hanyalah sebagian kecil di antaranya. Mereka rata-rata sineas kelas menengah ke atas yang sempat mengecap sekolah film. Hasilnya terlihat dalam film yang mereka besut. Film nasional, walaupun belum benar-benar berkibar setidaknya sudah mulai menggeliat.

Film Indonesia, Industri Budaya yang Masih Mencari Tempat Berpijak

Melihat jumlah film yang diproduksi serta penontonnya, industri film di Indonesia mengalami masa keemasan sekitar tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an. Jika di tahun 1977-1988 jumlah penonton per tahun masih mencapai angka 937.700.000, di tahun 1992 penonton film Indonesia hanya mencapai 50% dari angka tersebut.

Salah satu alasan berkurangnya jumlah penonton film Indonesia adalah karena memang tidak ada yang bisa ditonton. Produksi film nasional jauh menurun. Bahkan di tahun 1998 dan 1999, saat krisis ekonomi menerjang semua sendi perekonomian masyarakat, film nasional yang dibuat dalam satu tahun hanya 4 film saja.

Angka ini menurun tajam dibanding tahun 1997, tahun awal krisis ekonomi, yang masih mencatat produksi 32 judul film nasional. Produksi film sempat meningkat menjadi 11 judul di tahun 2000, namun kembali menukik tajam menjadi hanya 3 judul di tahun 2001. Jumlah produksi baru mulai kembali meningkat sejak 2002.

Belum lagi kalau kita bicara kualitas. Seperti yang telah dijelaskan di muka, awal tahun 1990-an merupakan era film erotis, film-film yang hanya mengumbar birahi. Film yang minim dalam hal kualitas pemain maupun para pembuatnya. Namun, film seperti itu ternyata tidak lelah untuk dibuat, direpetisi dan direproduksi.

Seringkali kita menemukan film esek-esek seperti itu dengan cerita yang selalu nyaris sama (malah sebetulnya seringkali tidak ada cerita yang bisa ditemukan), pemain yang itu-itu saja (pastinya bukan aktor atau aktris dengan bakat besar) dan nama yang terpampang sebagai produser nyaris tidak berubah dari satu produksi ke produksi yang lain. Tidak heran, penonton pun lari. Mereka menolak dipaksa membayar untuk tontonan tak berkualitas.

Bukan hanya itu masalah yang “melilit” film Indonesia. Masih banyak masalah lain, di luar dunia film, yang ikut mendorong mati surinya film Indonesia. Beberapa masalah yang bisa tercatat adalah mulai maraknya sinetron di TV swasta, jaringan bioskop yang cenderung tidak memberi tempat pada film nasional, serbuan film-film asing, serta VCD-DVD (terutama) bajakan yang sangat murah.

Mari kita lihat satu demi satu masalah-masalah itu…

Era TV swasta, juga di tahun 1990-an, membawa sinetron sebagai salah satu primadona acara. Banyak penonton film nasional yang teralihkan perhatiannya ke tayangan sinetron di TV swasta. Apalagi kebanyakan dari mereka adalah penonton drama yang kadang identik dengan cerita penuh cinta, derita dan air mata di sinetron. Kebutuhan mereka tercukupi oleh tayangan sinetron yang murah apalagi langsung hadir di rumah-rumah warga.

Pada saat itu juga ada fenomena baru pada bioskop di tanah air. Bioskop-bioskop tradisional mulai digantikan oleh jaringan 21. Film-film Indonesia, yang kala itu dicap berselera rendah, secara langsung rontok dari peredaran di bioskop jaringan 21. Apalagi ada masalah dibukanya keran impor film asing, sebagai buah perjanjian di bawah WTO. Keran impor film asing (Hollywood) di Indonesia yang sebelumnya dibatasi, harus dibuka sebagai timbal balik pencabutan ekspor produk tekstil Indonesia ke Amerika Serikat.

Serbuan film asing tidak hanya di bioskop. Industriawan di Indonesia sangat kreatif memanfaatkan pasar. Penemuan cakram VCD dan DVD membuka pasar yang baru bagi mereka. Dalam sekejap, VCD dan kemudian diikuti DVD bajakan merajalela. Apalagi harganya sangat murah bila dibandingkan dengan membeli yang asli atau menonton di bioskop. Hukum pasar pun berlaku. Permintaan tinggi membuat pasar semakin terbuka. Dampaknya, baik secara langsung atau tidak langsung semakin terasa bagi film nasional. Kondisinya semakin sesuai dengan pameo, hidup segan mati tak mau.

Untunglah kondisi-kondisi ini semakin lama semakin bisa diatasi. Perbaikan ekonomi sedikit banyak membantu film nasional bergairah kembali. Apalagi muncul kelas-kelas baru pekerja film dengan hasil karya yang membawa angin segar. Film nasional kembali mendapat tempat di jaringan bioskop yang cenderung berada di level menengah ke atas. Bahkan dengan kualitasnya, penonton kembali ditarik untuk memenuhi ruang-ruang bioskop.  Naga Bonar jadi 2 adalah salah satu buktinya. Lebih dari 2 bulan film itu berada di layar bioskop. Prestasi yang sama diikuti film Ayat-ayat Cinta.

Di masa sekarang memang semakin banyak film nasional yang diproduksi. Lihat saja layar-layar poster bioskop yang hampir selalu diisi film nasional selain film Hollywood. Hanya saja, produksi yang ada kini cenderung nyaris seragam berkisar pada hantu dan kerabat-kerabatnya ataupun drama komedi berbumbu seksual. Apakah dengan kondisi ini, film-film Indonesia benar-benar bisa berjalan, bahkan berlari, mengimbangi rival-rivalnya yang juga tak henti berkreasi?

Indriati Yulistiani

[Foto-foto Poster: www.suarapembaruan.com, www.wikipedia.org]