Arsip

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Adegan Seks Berbalut Film Horor

Betulkah film Indonesia bangkit kembali? Jika menilik jumlah film Indonesia yang dibuat setiap tahun, angka-angkanya memang terlihat meningkat dengan cukup meyakinkan. Jika di tahun 2007 sekitar 53 film Indonesia diproduksi, di tahun 2008 angkanya sudah menjadi 87 film. Jumlah 100 film yang  diproduksi dalam waktu 1 tahun, bahkan sudah terlampaui di tahun 2009 lalu.

Secara kasat mata, coba saja lihat gedung-gedung bioskop di sekitar Anda. Setidaknya, dalam satu masa pemutaran, ada 1 film Indonesia. Sering kali dari (biasanya) 4 teater, 2 hingga 3 teater di antaranya  memutar film Indonesia.

Namun kalau dilihat lebih cermat, ada satu fenomena menarik. Film-film Indonesia yang diproduksi dan tentunya diputar di bioskop belakangan ini, sebagian di antaranya adalah film horor. Masalahkah itu?

Bumbu Seks dalam Film Horor Indonesia

Banyaknya film horor, seharusnya bukan masalah. Apalagi ternyata genre film yang muncul di Indonesia sejak tahun 1941 melalui Film Tengkorak Hidoep ini juga diminati banyak penikmat film tanah air. Sebut saja film Sundel Bolong yang menjadi Film Terlaris III di Jakarta di tahun 1981 setelah ditonton 301.280 orang.

Di tahun 1982, film Nyi Blorong bahkan menjadi Film Terlaris I di Jakarta 1982, dengan jumlah penonton 354.790. Penonton sebanyak itu, mampu membuat Nyi Blorong menggondol Piala Antemas FFI (Festival Film Indonesia) untuk Film Terlaris 1982-1983.  Di tahun-tahun lain, film-film horor juga terus mampu meraup jumlah penonton yang besar. Kalaupun tidak menjadi yang terlaris, pendapatan dari pembeli tiket bioskop dapat memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Lantas, di mana masalahnya?

Masalahnya adalah, bumbu adegan seks yang banyak ada di film-film horor Indonesia. Malahan di sebagian film horor, adegan seks tidak lagi menjadi sekedar bumbu. Adegan seks seakan menjadi bahan dasar dalam racikan film.

Beberapa adegan dalam film  “Suster Keramas”.

Adegan seks yang berbalut film horor seakan membenarkan kekhawatiran saya tentang berulangnya peta tema film Indonesia (baca: Adegan Berulang di Film Indonesia). Sama seperti di masa lalu, sebelum perfilman Indonesia mati suri, setelah era film komedi, layar perak diambil alih oleh film esek-esek.

Siasat Membalut Seks dengan Horor

Adalah kreativitas para sineas Indonesia untuk membalut seks dengan label film horor. Kreativitas yang makin lama, makin menjadi. Dari sedikit, adegan seks makin merajalela di film-film horor anak negeri. Melihat judul-judulnya saja, aroma seks sangat terasa. Sebutlah film Hantu Puncak Datang Bulan, Suster Keramas, Diperkosa Setan dan masih banyak lagi.

Belakangan, banyaknya adegan seks di film (horor) Indonesia membuat gerah banyak pihak. Kecaman dan ancaman dikeluarkan berbagai organisasi dalam berbagai bidang tapi para sineas tetap bergeming. Film-film sejenis tetap mengisi layar perak di tanah air, bahkan diekspor hingga ke negara tetangga serumpun.

Cara para pembuat film menyiasati kecaman dan ancaman juga makin kreatif. Tentu belum hilang dari ingatan kita, pro dan kontra diimpornya Miyabi, bintang film porno Jepang, untuk membintangi film Menculik Miyabi. Miyabi memang gagal datang tapi Rin Sakuragi, rekan seprofesi Miyabi di negeri Sakura, tiba-tiba menyengat dengan adegan-adegan berbau syahwat di film Suster Keramas.

Dewi Persik dalam film “Paku Kuntilanak”.

Tidak hanya artis impor, artis lokal juga tidak kurang berani. Tidak sekedar memperlihatkan paha dan dada, nama-nama seperti Andi Soraya, Julia Perez dan Dewi Persik mau beradegan berani dengan pameran bagian tubuh yang vital meski hanya beberapa detik. Jika begini kondisinya, di mana peran LSF?

Memotong Sedikit, Menyisakan Banyak

Sekian detik atau menit adegan berani yang lolos sensor seringkali menimbulkan pertanyaan, masihkah ada peran LSF? Pertanyaan ini rasanya sering muncul dalam diskusi dengan rekan-rekan media. Jawabannya, LSF (Lembaga Sensor Film) tentu akan bilang mereka sudah garang.

Mereka memang sebisa mungkin masih meloloskan film. Alasannya, jika banyak film tidak bisa tayang tentu banyak biaya terbuang. Produser bisa malas lagi membuat film dan industri film Indonesia bisa kembali tidur panjang.

Meski begitu, LSF menjamin gunting sensor tetap tajam. Tidak sedikit adegan panas yang masuk sampah terkena sensor. Misalnya, untuk film Hantu Puncak Datang Bulan. Film dengan suguhan Andi Soraya yang membuka bra serta akting panas Trio Macan ini menurut Muklis Paeni, Ketua LSF, sudah dipotong lebih dari 100 meter.

Adegan pembangkit syahwat

di film “Hantu Puncak Datang Bulan”.

Angka 100 meter film terkesan sangat banyak. Tapi sesungguhnya dalam hitungan waktu atau durasi, berapakah durasi dari 100 meter film? Dengan menggunakan standar 24 frame per detik untuk film bioskop yang biasanya berformat 35 mm maka dalam 100 meter ada 5249,2 frame (bisa dihitung sendiri menggunakan film calculator)  Jika tiap detik ada 24 frame, maka 5249,2 frame berdurasi 218,7 detik yang setara dengan sekitar 3,5 menit.

Durasi 3,5 menit tentu tidak lagi memperlihatkan angka yang besar. Apalagi harus diingat ada 1 resep jitu yang dipakai pembuat film: kasih adegan yang sangat vulgar sehingga adegan vulgar bisa tertutup dan akhirnya lolos sensor.

Nah jika sudah begini, tinggal penonton yang menentukan. Apakah mau terus dicekoki adegan seks dalam beragam variannya? Jika kembali mengaca pada sejarah termasuk sejarah perfilman Indonesia, saya percaya akan ada titik jenuh. Penonton akan bosan dan kembali menjauhi bioskop dengan film Indonesia. Kondisi ini pernah terjadi hanya sesaat sebelum dunia film Indonesia mati suri. Relakah kita perfilman Indonesia yang baru seumur jagung bangkit harus kembali tidur panjang…..???

Indriati Yulistiani

Australia dan Tembang Mantrawi Kaum Pribumi

Senin, 29 Desember 2008 Billy Soemawisastra Tinggalkan komentar

australia01

Di penghujung tahun 2008 ini, para penggemar sinema di seluruh dunia disuguhi film berjudul: Australia. Sebuah karya besar sutradara Baz Luhrmann, yang pernah sukses dengan film Moulin Rouge (2001) dan William Shakespeare’s Romeo & Juliet (1996). Film termahal berbiaya 150 juta dollar Australia, atau sekitar 1,1 trilyun rupiah itu, merupakan film yang sudah lama diimpi-impikan Baz Luhrmann. Maklum, Baz adalah sutradara kelahiran Australia.

Impiannya bukan sekedar membuat film tentang negeri kelahirannya, tetapi ia juga ingin film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris asal Australia, dan dikerjakan oleh kru kelahiran Australia. Kebetulan di Hollywood, cukup banyak pemain film terkenal kelahiran benua kangguru. Begitu pula orang-orang yang biasa bekerja di balik layar, tak sedikit yang berasal dari Australia. Maka jadilah Baz Luhrmann memboyong para pemain dan pekerja film yang hampir keseluruhannya merupakan orang Australia. Lokasi pembuatannya, langsung di Australia. Judulnya pun tak tanggung-tanggung: Australia.

australia1

“Saya ingin film Australia menjadi film yang bisa berbekas di hati penonton, dan dapat dinikmati oleh semua usia,” ujar Baz Luhrmann, dalam behind the scene yang saya tonton melalui Star Movie. Dan, film itu memang membekas di hati saya. Sehingga saya pun mensejajarkannya dengan film-film legendaris seperti The God Father, Dancing with Wolves, The Kingdom of Heaven, Gang of New York, Brave Heart dan film-film besar serta kolosal lainnya.

australia12-director

Sutradara Baz Luhrmann.

Bagi mereka yang berharap bahwa film ini akan berkisah tentang sejarah Australia, dan penindasan terhadap bangsa Aborigin yang dilakukan para imigran kulit putih dari Inggris, tentu akan kecewa. Karena film ini sebenarnya “hanya” film drama dengan latar belakang Australia akhir dasarwarsa 1930-an hingga meletusnya Perang Dunia Kedua. Salah satu yang kecewa adalah pembuat resensi film di harian Kompas. Sang penulis resensi tersebut menyatakan, judul: Australia, terlalu berat untuk sebuah film yang hanya bercerita di seputar peternakan sapi bernama Faraway Downs, di wilayah Northern Territory. Seharusnya, kata sang penulis, judul film ini cukup Faraway Downs saja.

Itulah akibatnya jika menonton film dengan ekspektasi terlalu tinggi, dan membuat mindset terlebih dulu, sebelum memelototi layar bioskop. Kompas, yang diwakili sang penulis resensi, berharap Baz Luhrmann akan membuat film tentang sejarah penindasan atas kaum aborigin, oleh para imigran dari Britania Raya. Kompas, tampaknya berharap film ini akan dipenuhi adegan-adegan ngeri, yang menggambarkan betapa dahsyatnya penyiksaan-penyiksaan yang dialami bangsa Aborigin, penduduk asli Australia. Sehingga Kompas, yang merupakan harian terkemuka di negeri ini, sama sekali tidak melihat sisi lain kelebihan Aborigin dan keserakahan kaum kulit putih, yang dituturkan Baz Luhrmann secara halus namun sinikal itu.

australia3

King George (David Gulpilil)

australia9

Nullah (Brandon Walters)

Melalui tokoh King George (yang diperankan oleh David Gulpilil) dan aktor cilik Brandon Walters (12 tahun) yang memerankan tokoh Nullah, Baz Luhrmann dengan indahnya mengungkapkan kearifan lokal bangsa Aborigin. King George, tetua Aborigin yang disebut Guppala (orang pintar) itu, sering mengajarkan tembang-tembang mantrawi kepada Nullah, yang tak lain adalah cucunya. Senandung mantrawi itu, mampu menjinakkan ikan-ikan di sungai, menghentikan ribuan ekor sapi yang berlarian panik menuju bibir jurang, membangkitkan kerinduan orang-orang tercinta di tempat yang jauh. Senandung mantrawi itu dinyanyikan seirama angin, sehingga seolah terbang menyatu bersama alam, menuju orang-orang tercinta.

Tentu saja ini legenda. Tetapi bangsa mana yang tidak memiliki legenda? Bahkan bangsa Inggris yang modern itu pun, sangat percaya pada legenda tentang King Arthur dengan pedang Excalibur-nya. Selain itu, bukankah legenda juga dibuat berdasarkan kejadian nyata, yang diberi bumbu di sana-sini?

Kembali pada film Australia, yang menyelipkan tembang-tembang mantrawi bangsa pribumi. Menyaksikan adegan-adegan King George dan Nullah menyenandungkan tembang mantrawi, saya jadi ingat cerita tentang John Glenn, astronot Amerika pertama yang berhasil mengililingi orbit Bumi. Dalam perjalanannya di luar angkasa yang gelap dan sepi, ia tak bisa melihat apapun di hadapannya. Kondisi itu dilaporkannya ke markas Nasa di Cape Canaveral.

Temannya, Allan B. Sheppard, yang juga astronot, segera terbang menuju Australia karena John Glenn diperkirakan sedang melayang di atas orbit benua tersebut. Di salah satu pojok negeri kangguru, Allan meminta sekelompok Aborigin untuk menggelar upacara ritual. Bangsa asli atau kaum pribumi Australia ini segera melakukan tarian-tarian sakral ditingkahi sara tifa, seraya mengghidupkan api unggun yang percikan-percikan apinya tampak terbang vertikal ke arah  langit.

Tak lama kemudian, John Glenn melapor melalui radio bahwa kini ia bisa melihat pemandangan di depannya, karena ada ribuan kunang-kunang menerangi jalannya. Kunang-kunang yang dilihat Glenn, tak lain percikan-percikan api unggun yang membumbung tinggi menggapai langit.

Dan, melalui film Australia, penulis skenario dan sutradara Baz Luhrmann, sekali lagi mengedepankan kearifan lokal bangsa Aborigin, yang selalu bersahabat dengan alam. Kearifan lokal masyarakat pribumi Australia, yang selalu diabaikan dan bahkan dicoba dihapuskan oleh bangsa kulit putih, pendatang dari Eropa.

Generasi yang Dicuri dan Runtuhnya Keangkuhan Bangsawan

Si kecil Nullah (Brandon Walters) adalah wakil Generasi yang Dicuri (Stolen Generation). Demikian istilah resmi yang digunakan untuk menyebut anak-anak Aborigin itu. Sejak 1880-an hingga awal 1970-an, anak-anak pribumi, terutama yang berdarah campuran, dipisahkan secara paksa dari para orangtua mereka, sebagai realisasi dari politik asimilasi. Mereka dididik dengan cara Barat, agar akar budaya mereka tercerabut. Tujuannya tak lain supaya kehidupan sosial dan budaya Aborigin benar-benar punah dari bumi Australia. Sementara para orangtuanya harus melakukan kerja paksa sebagai buruh kasar di tempat-tempat peternakan milik kulit putih.

australia10

Anak-anak Aborigin.

Nullah, adalah satu-satunya anak Aborigin (dalam film tersebut) yang selalu berusaha menghindar dari incaran aparat pemerintah, yang ingin membawanya ke tempat proyek asimilasi. Untuk sementara upayanya berhasil karena mendapat perlindungan dari Lord Maitland Ashley, pemilik peternakan Faraway Downs, yang bersahabat dengan penduduk asli. Tetapi keadaan menjadi lain, setelah Lord Ashley ditemukan tewas dengan tombak menghunjam tubuhnya. Neil Fletcher (David Wenham) menuduh King George sebagai pembunuh Lord Ashley. Tentu saja polisi pun percaya karena Fletcher adalah orang kepercayaan Lord Ashley.

australia4

The Drover  dan Lady Sarah Ashley.

Sebelum menemui kematian, Lord Ashley selalu menolak bujukan Fletcher, agar menjual peternakannya kepada saudagar King Carney (Bryan Brown). Saudagar serakah yang berkeinginan memegang monopoli peternakan sapi di seluruh Australia, supaya menjadi satu-satunya pemasok daging sapi untuk tentara Australia. Secara kebetulan, pada hari tewasnya Lord Ashley, isterinya, Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) tiba di peternakan tersebut bersama The Drover atau Sang Penggembala (Hugh Jackman). Setelah berhari-hari melewati perjalanan yang melelahkan, melintasi padang savana Australia, dengan berkendaraan truk.

australia02

The Drover (Hugh Jackman)

Mengikuti jejak suaminya, Lady Ashley pun bersikeras untuk tetap mempertahankan Faraway Downs, dan memecat Fletcher, setelah dilihatnya Fletcher berlaku kasar terhadap Nullah dan ibunya. Padahal tujuan semula kedatangan Lady Ashley ke peternakan tersebut, tak lain untuk menjual Faraway Downs, agar sang suami kembali ke Inggris. Cerita selanjutnya diisi dengan perjuangan Lady Ashley, The Drover, Nullah dan beberapa pekerja Faraway Downs, yang bahu-membahu menggiring ribuan sapi milik Faraway Downs, menuju Darwin, untuk dijual kepada tentara.

Di sepanjang perjalanan, mereka selalu diganggu oleh Fletcher dan kawan-kawan, yang berusaha keras menggagalkan upaya mereka. Melalui berbagai adegan menegangkan, Lady Ashley, The Drover, Nullah dan tiga orang pekerja lainya, akhirnya berhasil menjual sekitar 1500 ekor sapi milik peternakan Faraway Downs kepada tentara, mengalahkan King Carney.

australia11

Neil Fletcher (David Wenham)

Sampai di sini, banyak penonton mengira bahwa film akan segera berakhir. Tetapi ternyata masih ada babak kedua. The Drover, yang biasa mengembara di setiap musim panas, memutuskan pergi bersama tentara Australia, meninggalkan Lady Ashley. Padahal di antara keduanya telah terjalin kisah cinta. Sementara Nullah, dengan paksa dibawa aparat pemerintah untuk mengikuti proyek asimilasi seperti anak-anak aborigin lainnya. Lady Ashley pun kehilangan dua orang yang dicintainya. The Drover, yang sudah dianggap calon suaminya, dan Nullah, anak blasteran kulit putih dengan aborigin, yang sudah dianggap anaknya sendiri.

Kepiawaian Nicole Kidman dalam berakting, tampak sangat menonjol. Ia yang semula memerankan perempuan bangsawan yang angkuh dan kurang menyukai Aborigin, tiba-tiba berubah menjadi sosok seorang ibu yang mencintai anak aborigin, dan bergaul sangat dekat dengan penduduk asli. Sedangkan Hugh Jackman, sejak awal hingga akhir memang berperan sebagai laki-laki yang sangat keras, sosok pengembara padang savana, yang memang sudah menyatu dengan penduduk asli. Bahkan isteri pertamanya yang telah meninggal dunia, adalah seorang wanita Aborigin.

australia03

Adegan percintaan: The Drover dan Lady Ashley.

Di tengah suasana kehilangan yang melanda Lady Ashley, sekonyong-konyong ratusan pesawat bomber Jepang, membombardir Darwin, dan kota ini pun luluh-lantak, menjadi lautan api. Lady Ashley lalu menjadi sukarelawan, yang bertugas membantu komunikasi tentara. Sementara pulau tempat Nullah dan kawan-kawan diasimilasi, juga dikabarkan musnah dibom tentara Dai Nippon.

australia6

Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman)

Singkat cerita, Nullah dan kawan-kawan akhirnya diselamatkan The Drover, yang merasa terpanggil datang ke pulau tempat penampungan anak-anak Aborigin yang telah diduduki tentara Jepang, berkat nyanyian mantrawi yang disenandungkan Nullah. Nyanyian mantrawi ini pula, yang membuat Lady Ashley merasa akan bertemu Nullah, sehingga menunda evakuasi. Dan, orang-orang tercinta ini pun berkumpul kembali untuk melanjutkan hidup mereka.

Tetapi Nullah harus pergi untuk sementara waktu. Sebagai anak blasteran (ia ternyata anaknya Fletcher, hasil hubungan gelap dengan ibunya Nullah) Nullah merasa tidak diakui oleh kulit putih maupun Aborigin. Sehingga ia sering dijuluki sebagai anak krim, karena kulitnya yang kecoklatan. Untuk membuktikan bahwa ia merupakan keturunan penduduk asli, Nullah harus melakukan walkabout, suatu perjalanan spiritual yang biasa dijalani anak-anak Aborigin menjelang dewasa. Nullah pun berangkat untuk melakukan tradisi walkabout, bersama kakeknya, King George, alias Sang Guppala.

australia8

King George dan Nullah.

Film berdurasi sekitar 2,5 jam ini sungguh tidak membosankan. Jalan ceritanya berjalan cepat, dibumbui adegan-adegan menegangkan. Dipadu gambar-gambar indah khas alam Australia, yang kemudian menjadi kontras dan ironis dengan munculnya gambar-gambar kehancuran akibat perang. Lalu, senandung-senandung mantrawi itu. Senandung mantrawi milik pribumi, selalu menyelusup di sela-sela berbagai adegan, seperti suara angin yang mistis, menyuarakan kepedihan sekaligus kebahagiaan.

Jadi, di penghujung tahun 2008 ini, tak ada salahnya jika Anda menonton film Australia. Tetapi tontonlah tanpa kerangka pikiran apapun. Nikmatilah sebagaimana Anda menikmati karya seni, apa adanya, tanpa prasangka. Sebab kalau tidak, Anda mungkin akan kecewa. Atau menyesal seperti pemerintah Australia, yang baru menyampaikan permintaan maaf kepada bangsa Aborigin di awal tahun 2008 ini. Permintaan maaf yang sangat terlambat, setelah lebih dari dua abad bangsa Aborigin ditindas hingga nyaris musnah, dan anak-anaknya menjadi stolen generation. Tetapi pemerintah Australia masih lebih baik bila dibandingkan dengan pemerintah Amerika Serikat, yang tidak pernah meminta maaf kepada bangsa Indian, hingga sekarang.

Bila Anda berminat menonton film Australia, ajak pula anak-anak Anda, karena film ini memang dibuat untuk semua usia. Biarkan anak-anak menikmati akting mengesankan dari Brandon Walters yang memerankan Nullah, malaikat kecil yang juga berperan sebagai narator film ini.

Billy Soemawisastra

[Poster dan foto: www.australiamovie.com, movie.yahoo.com]

Perjalanan Alat Rekam: Dari Phonograph hingga Compact Disc

Selasa, 18 November 2008 Indriati Yulistiani Tinggalkan komentar

Disadari atau tidak, musik kini menguasai banyak ruang dengar manusia. Pada berbagai kegiatan dalam kehidupannya, manusia melibatkan musik, walaupun seringkali memang hanya sebagai pendengar pasif.

Pada awalnya kebutuhan manusia untuk mendengar musik hanya bisa terpuaskan dengan berbagai pertunjukan langsung. Tentu saja, tidak selalu keinginan manusia ini terpuaskan. Karena, seberapa banyak pertunjukan musik, dalam berbagai skalanya, bisa digelar? Seberapa besar pula kemampuan manusia untuk bisa terus mengaksesnya?

Di akhir abad 18 dan awal abad 19, kebutuhan manusia untuk bisa mereproduksi musik sehingga bisa terus menerus dinikmati publik yang semakin luas, melahirkan beberapa penemuan. Kebutuhan manusia terpuaskan sementara dengan alat seperti ’kotak musik’ dan ’nickelodeons’.kotak-musik-balerina

music-boxKotak musik atau music box adalah perangkat dari abad 19 yang bisa memperdengarkan suara. Alat ini pertama kali dibuat oleh para artis pembuat jam di Swiss yang digerakkan dengan mesin jam.

Dalam perkembangannya, kotak musik memiliki ukuran yang beragam mulai dari ukuran saku hingga yang bisa diletakkan sebagai furniture di ruangan. Sedangkan nickelodeons adalah sejenis phonograph atau alat untuk memainkan musik yang dioperasikan dengan menggunakan uang koin (nickel).

Namun demikian, kebutuhan lain hadir hingga menuntut penemuan teknologi yang lain pula. Teknologi rekaman pertama dibuat di tahun 1877 oleh Thomas Edison. Alat yang merupakan prototip phonograph yang mengeluarkan suara akustik itu memainkan lagu ”Mary Had a Little Lamb”.

Kehadiran phonograph dan kemudian gramophon (versi Inggris dan salah satu merek dari phonograph) yang diciptakan oleh Emile Berliner di tahun 1882, membuat manusia menjadi terbiasa mendengarkan musik di rumah. Piringan hitam menjadi piranti untuk memutar bergam jenis musik

gramophon

Phonograph karya Edison (atas) dan Gramophon (bawah).

Saat itu juga mulai muncul beragam jenis musik. Musik-musik jenis baru seperti Jazz dan Blues, yang lebih dikenal sebagai musik popular mulai mencuri perhatian. Apalagi musik-musik popular terdengar lebih ringan dan lebih mudah dicerna dibandingkan musik klasik yang telah lebih dulu populer. Kehadiran beragam jenis musik ini, membuat kebutuhan masyarakat semakin besar. Industri rekaman pun mendapat imbasnya.

radioradio-2

Industri rekaman yang mulai menggeliat sejalan dengan membesarnya kebutuhan masyarakat atas musik rekaman, sempat dikagetkan dengan munculnya radio. Pada awal radio ditemukan, angka penjualan rekaman musik menurun hingga separuhnya. Peluang mendengarkan musik melalui radio tanpa perlu memiliki rekaman aslinya, membuat masyarakat sempat melupakan kebiasaan mereka membeli album rekaman.

Namun kemudian disadari, radio bisa menjadi alat yang efektif untuk mempromosikan album rekaman. Bahkan akhirnya, industri musik, termasuk penjualan gramophone sebagai alat pemutar musik rekaman di rumah, terdongkrak dengan kehadiran radio.

Industri rekaman juga mengalami perkembangan pesat di tahun ’50-’60an karena adanya perkembangan musik Rock n Roll yang merangsang pembeli anak muda. Apalagi saat itu piringan hitam yang sebelumnya hanya mampu menyimpan musik dengan durasi beberapa menit, digantikan piringan hitam versi panjang yang dapat menyimpan musik sepanjang 20 menit di setiap sisinya.

kaset

Perkembangan pada medium perekam membuat musik rekaman semakin murah dengan kualitas yang semakin baik. Misalnya saja penemuan pita magnetik oleh 3M di tahun 1947 yang membuat suara rekaman semakin baik, dengan biaya yang lebih murah dan memudahkan dalam proses editing. Demikian pula kaset audio, yang jauh lebih kecil dan dapat direkam serta diputar ulang, yang mulai dikenal di tahun 1963.

cd

Kualitas suara yang jernih kemudian menjadi kelebihan compact-disc atau cakram audio sejak dikenalkan di tahun 1982. Sedangkan jangkauan luas dengan biaya super ringan merupakan keistimewaan yang ditawarkan medium internet yang mulai dikenal orang di tahun 1990-an (malah dalam banyak situs sering ditawarkan download atau fasilitas mengunduh lagu secara gratis). Teknologi digital membuat musik semakin dekat dalam jangkauan masyarakat. Musik pun semakin menguasai beragam ruang dengar manusia.

Indriati Yulistiani

(Dari: Berbagai Sumber)
[Gambar-gambar diambil dari: www.wikipedia.org, aftasta.blogspot.com, kunangkunangku.wordpress.com, toshare.dynup.net]

Adegan Berulang di Film Indonesia

Selasa, 26 Agustus 2008 Indriati Yulistiani 2 komentar

Hampir sejak awal sejarahnya, film di Indonesia sudah menjadi bagian dari industri budaya, baik di Indonesia maupun dunia. Sebagai bagian dari sebuah industri, film Indonesia tunduk pada mekanisme kerja dalam sebuah industri. Meminjam pandangan Theodore Adorno dan Max Horkheimer, dua empu dalam bidang industri budaya, film merupakan contoh nyata sebuah usaha komersial yang menggunakan mekanisme ban berjalan.


Adorno dan Horkheimer


Lihat saja proses produksi sebuah film. Sutradara memang tetap berada di tempat tertinggi dalam rantai komando pembuatan sebuah film. Tapi peran sutradara dibatasi oleh peran-peran lain dalam mekanisme tersebut. Pekerja film lainnya, seperti pembuat skenario, director of photography, penata cahaya, penata musik, penata busana hingga para aktor dan aktris memberi kontribusi yang besar (pada beberapa bagian mungkin sama besarnya) dengan sang sutradara. Mekanisme ban berjalan membuat para pekerja film bekerja secara professional menurut bagian tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Seperti puzzle, semua menyumbang bagian tertentu untuk memberi gambaran utuh sebuah film.


Mekanisme seperti itu tentunya menjadi dasar standarisasi karya-karya yang dibuat. Hal ini lebih mungkin terjadi ketika para pekerja film memberi kontribusi tidak hanya dalam satu karya. Bekerja pada mesin industri membuat mereka bahkan bisa bekerja pada beberapa proyek, pada saat yang nyaris bersamaan. Kembali meminjam kekhawatiran kedua tokoh di atas, kondisi yang terjadi kemudian adalah apa yang disebut repetisi dan reproduksi, mengulang dan membuat ulang karya yang ada.


Kegiatan dalam pengambilan gambar (shooting) film.


Standarisasi dengan proses repetisi dan reproduksi di dalamnya, membuat karya yang dibuat seringkali mirip satu sama lain. Keunikan sebuah karya seni menjadi terabaikan. Kondisi yang lagi-lagi sudah diprediksi akan muncul oleh Adorno dan Horkheimer, jauh sebelum budaya popular, termasuk film, menjadi industri yang besar.


Kita bisa mengambil contoh ilustrasi musik film horor. Resep yang dipakai selalu sama. Tidak heran kita kadang tidak bisa lagi membedakan ilustrasi antara satu film dengan film lainnya, tidak usah juga berbicara mengenai kesesuaian antara ilustrasi tersebut dengan cerita dan situasi yang ada. Saat situasi seram musik harus menegangkan. Walaupun harus diakui ada juga pekerja film yang ”tidak patuh” pada pakem yang ada dan justru menghasilkan karya yang menarik. Keberhasilan cukup baik dicatat oleh film Bangsal 13.


Ilustrasi musik yang seram memang menggiring penonton untuk merasakan ketegangan karena pertanda munculnya sang Hantu. Namun dugaan dan harapan penonton seringkali tidak terbukti karena yang dihadirkan kemudian adalah suasana lucu yang jauh dari perkiraan penonton.


Repetisi pada karya, terlihat pula pada cerita sebuah film. Sebuah film yang booming bisa dipastikan akan menghadirkan pengikut untuk cerita-cerita sejenis. Film  Ada Apa dengan Cinta membuat genre film cinta remaja yang pernah berjaya di tahun ’80an, era Rano Karno-Jessy Gusman, kembali naik daun. Film  Tusuk Jelangkung kembali menaikkan pamor film horor, yang pernah berkibar di era ’70 dan ‘80-an dengan Suzanna sebagai legenda yang hingga kini tak tergantikan.


Quicky Express, film komedi dengan bumbu adegan-adegan sensual, langsung mendapat pengikut dengan berbagai adegan sensual yang cenderung vulgar. Walaupun belum terbukti, kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya era film “esek-esek” yang pernah berjaya di tahun ’80an.


Film Quicky Express.


Repetisi dan reproduksi dengan mengadaptasi karya asli yang cukup baik dapat kita lihat pada film Nagabonar jadi Dua. Beberapa kelebihan film Nagabonar (yang digarap oleh sutradara yang berbeda) bisa kembali dihadirkan dengan kualitas yang nyaris sama walaupun dengan penggarapan secara berbeda. Sesungguhnya memang tidak perlu ada kesamaan antara karya Asrul Sani pada Nagabonar dengan karya Deddy Mizwar pada Nagabonar jadi Dua.


Ada satu kondisi lain yang perlu diwaspadai dengan adanya repetisi, yaitu hilangnya konteks sebuah karya. Konteks yang biasanya terkait dengan artis pembuatnya dan lebih luas lagi dengan akar budaya asli tempatnya berada. Dalam film Indonesia, hal itu sudah terjadi.


Lihat saja kehadiran film-film laga yang mengadopsi cerita sejarah dan legenda yang sebetulnya merupakan repetisi dari film-film laga ‘China Ngamuk’ dalam film silat Mandarin. Repetisi dan reproduksi yang sebetulnya tidak tepat karena tidak mengindahkan aspek budaya dan situasi masyarakat Indonesia (bahkan di masa lalu yang digambarkan secara tidak akurat dalam film-film tersebut).


Namun kondisi yang paling mengkhawatirkan terkait dengan reproduksi sebuah film adalah menyangkut originalitas sebuah karya. Dengan bantuan teknologi, kita mudah sekali melakukan reproduksi sebuah karya tanpa ada perbedaan kualitas dengan karya aslinya. Dari sisi visual, kualitas karya sebuah film tidak akan ada perbedaan. Apalagi dengan adanya teknologi digital.


Mudahnya reproduksi bahkan kini memunculkan isu lain, isu yang menguasai perkembangan media di era ’90-an yaitu masalah hak cipta. Kepentingan ekonomi membuat hak cipta menjadi penting. Pembajakan tentunya membuat hasil yang mungkin didapat sebuah karya (asli) menjadi berkurang.


Kerugian yang diderita masyarakat dengan begitu banyaknya karya film Indonesia yang mengambil, merepetisi dan mereproduksi sebuah karya asli juga tidak sedikit. Masyarakat sebetulnya hanya memilih dari apa yang ditawarkan pembuat fillm. Padahal penawaran para penguasa media itu sebetulnya adalah film-film dengan jenis yang sama.



Masyarakat pada akhirnya tidak memiliki pilihan yang riil karena beragam pembatasan sudah dilakukan oleh sang pembuat film. Perilaku pembuat film yang melakukan pembatasan cerita, penggarapan bahkan pemain, bukan tidak mungkin berujung pada keseragaman selera para penonton.


Indriati Yulistiani


{Referensi: Theodore Adorno dan Max Horkheimer, “ The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception,” http://www.marxists.org, 1944; Edward S. Herman dan Robert W. McChesney, “The Global Media in The late 1990s”, dalam The Global Media: The New Missionaries of Corporate Capitalism”, London: Cassell, 1997}
[Foto: www.neptunepictures.com, http://winduradityo.multiply.com, http://jejakandromeda.wordpress.com, www.ajangkita.com, http://cinemasia.hyves.nl]

Bung, Di Mana Kini Kau Berada?

Minggu, 17 Agustus 2008 Billy Soemawisastra 3 komentar

Bung, di mana kini kau berada

Bertahun lamanya kita berpisah

Tak tentu di mana rimbanya

Semenjak …

Malam itu kita bersua

Bung, bilakah kau akan kembali

Gelisah …

Tak sabar hamba menanti lagi.


Kalimat-kalimat di atas, merupakan cuplikan lirik lagu “Bung di Mana” yang dipopulerkan Diah Iskandar pada sekitar tahun 1960-an. Sayangnya, saya tidak ingat lagi siapa penciptanya (Ada yang tahu?).


Sejak era revolusi fisik (1940-an) hingga 1960-an, memang tak sedikit pencipta lagu pop maupun lagu perjuangan, yang mencantumkan panggilan “Bung” dalam lirik lagunya. Mungkin Anda, atau Ayah Anda, atau Kakek Anda, masih ingat dengan lirik lagu sebagai berikut: … waktu semalam Bung/aku bermimpi/digigit ular Bung/ besar sekali.


Kemudian, keterlaluan saja kalau Anda tidak ingat lagi dengan lirik lagu yang berbunyi: … Mari Bung rebut kembali … Itu lirik penutup lagu perjuangan karangan Ismail Marzuki, untuk menyemangati para prajurit Siliwangi yang tengah berjuang merebut kembali Bandung dari tentara Belanda, dalam peristiwa “Bandung Lautan Api”.


Bung Karno


Memasuki dekade 1970-an hingga sekarang, lagu-lagu yang mencantumkan panggilan “Bung” tak pernah lagi diciptakan, seiring surutnya panggilan Bung dalam pergaulan masyarakat Indonesia. Panggilan Bung, yang terasa lebih demokratis karena tidak membeda-bedakan strata sosial ataupun rentang usia, kembali digantikan dengan panggilan yang feodalistik: Bapak. Atau panggilan primordialistik: Mas, Akang, Abang.


Bung Hatta


Saya tidak tahu siapa yang mulai mempopulerkan panggilan Bung. Tetapi kemungkinan besar, panggilan Bung mulai muncul ke permukaan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.


Saat itu, para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta, dengan membawa berbagai kekhasannya, termasuk kekhasannya dalam memanggil sesama teman. Pemuda dari Jawa tengah dan Jawa Timur, misalnya, akan terbiasa memanggil temannya dengan sebutan Mas. Sebutan itu tentu saja terasa asing bagi para pemuda dari daerah lainnya. Sebut saja bagi para pemuda Pasundan yang biasa menggunakan panggilan Akang.


Untuk itu diperlukan suatu panggilan yang bersifat umum dan terasa lebih demokratis, egaliter, tidak membeda-bedakan usia, suku dan golongan. Maka muncullah panggilan Bung. Panggilan Bung, kemudian menjadi semakin populer di kalangan para pejuang kemerdekaan RI. Terutama setelah para pendiri Republik, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir, memberikan contoh dengan menyebut diri mereka: Bung.


Bung Syahrir


Para pejuang kemerdekaan akan menyapa teman-teman seperjuangannya dengan seruan: Merdeka, Bung! Panggilan Bung pun sering terdengar, baik dalam pertemuan formal maupun informal, bahkan masuk pula dalam karya sastra. Salah satunya termaktub dalam puisi Chairil Anwar, Antara Krawang-Bekasi:


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir


Pernah, di masa Orde Baru, para deklamator tidak berani membaca baris-baris: menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Syahrir … Baris-baris tersebut dibuang begitu saja, sehingga puisi Chairil Anwar yang satu ini, menjadi tidak utuh lagi. Bukan karena alergi terhadap panggilan Bung, tetapi lantaran takut dicap antek-antek Soekarno, atau antek-antek Orde Lama.


Tiga serangkai: Bung Syahrir, Bung Karno, Bung Hatta


Tetapi panggilan Bung memang perlahan menghilang, sejak Soeharto menjadi Presiden RI. Encyclopaedia Americana volume lama yang terbit tahun 1970-an, secara khusus menulis dalam bab tentang Soeharto, bahwa panggilan Bung, sejak Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI, digantikan dengan panggilan Bapak. Dan, panggilan seperti itu tampaknya sesuai bagi masyarakat Indonesia yang paternalistik.


Bukan soal paternalisme, sebetulnya. Namun lebih disebabkan hirarki dalam ketentaraan. Tentara diharuskan memanggil Bapak kepada atasannya, atau kepada orang yang pangkatnya lebih tinggi. Ini berlaku secara universal di kalangan militer. Di Amerika Serikat saja, yang mengklaim sebagai negara paling demokratis pun, para prajuritnya diwajibkan memanggil Sir, kepada atasannya.


Di zaman revolusi fisik, panggilan Bung memang lebih populer di kalangan pejuang sipil, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo, Bung Chairul Saleh, Bung Adam Malik. Sedangkan di kalangan militer panggilannya memang tetap Pak, seperti Pak Dirman, Pak Nasution, Pak Harto, Pak Simatupang, Pak Kawilarang, Pak Urip.


Bung Tomo


Jadi wajarlah. Ketika republik ini dipimpin orang sipil (Soekarno), panggilan Bung bergaung dari Sabang sampai Merauke. Tetapi tatkala pimpinannya digantikan orang militer (Soeharto), panggilan Bapak merebak ke seluruh negeri. Lalu mengapa Habibie dan Abdurrahman Wahid yang notabene orang sipil tidak lantas dipanggil Bung sewaktu menjabat Presiden RI? Mungkin karena Habibie sudah keenakan dengan panggilan Bapak sejak ia masih menjabat Menteri, dan Abdurrahman Wahid sudah terlanjur akrab dengan panggilan Gus sejak masa kanak-kanak. Maklum, dia kan anak Kiyai.


Di masa Soeharto, sebenarnya masih ada pejabat pemerintah yang lebih suka dipanggil Bung, yakni Bung Adam Malik. Dia memang salah seorang pejuang sipil di zaman revolusi kemerdekaan. Tatkala Adam Malik meninggal dunia, majalah Times menulis in memoriam tentang mantan wakil presiden ini, dengan judul: The Last Bung.


Bung Adam Malik


Bila ukurannya adalah pejabat pemerintah, Adam Malik sebenarnya bukan The Last Bung. Masih ada pejabat lainnya yang berusaha keras agar dipanggil Bung, yakni Bung Abdul Gafur dan Bung Harmoko.


Bung Gafur memang sudah biasa dipanggil Bung di kalangan Angkatan ’66 (yang rata-rata dilahirkan pada zaman revolusi). Sedangkan Bung Harmoko adalah wartawan sekaligus seniman, dan panggilan Bung sampai sekarang pun masih digunakan di kalangan kedua profesi tersebut. Paling tidak di kalangan wartawan tua dan seniman tua.


Bung Mochtar Lubis, dalam pidato kebudayaannya tentang “Ciri Manusia Indonesia” di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1977, mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali menggunakan panggilan Bung kepada siapapun, sebagai salah satu upaya membudayakan perilaku demokrasi. Tetapi ajakan Mochtar Lubis ini tampaknya tidak berhasil, bahkan di lingkungannya sendiri.


Sebagai bukti, sewaktu saya menemui Mochtar Lubis di kantornya, kantor penerbit Yayasan Obor Indonesia, pada sekitar tahun 1980-an, saya tidak menemukan satu orang pun bawahan atau pegawai Bung Mochtar, yang memanggilnya Bung. Semuanya memanggilnya Bapak. Saya tidak sempat bertanya mengapa Bung Mochtar tidak melarang pegawainya memanggilnya Bapak.

Sekarang, panggilan Bung sudah nyaris sirna. Kalaupun masih ada yang menggunakannya, tetaplah angkatan tua, seperti saya, atau orang-orang yang lebih tua dari saya. Mungkin masih ada kalangan muda yang menggunakannya, namun jumlahnya sangat sedikit. Saya pernah ditertawakan oleh yunior saya, sewaktu saya memanggilnya Bung. Dia bilang, “kayak pejuang kemerdekaan aja.” Temannya (yang juga yunior saya) menimpali, “jadul banget …”

Jadul alias kuno, itulah pandangan anak-anak sekarang terhadap panggilan Bung. Tetapi yang lebih memprihatinkan, tak sedikit orang tua atau orang yang merasa dituakan, tersinggung ketika dipanggil Bung. Panggilan Bung yang diucapkan oleh orang yang lebih muda, dinilainya sebagai kelancangan. Orang-orang ini lebih merasa dihormati jika dipanggil Bapak.

Sayangnya, negeri ini terlalu machoistic, tidak ada panggilan yang setara Bung, untuk perempuan. Ada sih, yaitu Mbak. Tapi panggilan Mbak sangat terasa Jawa. Meski untuk sementara, bolehlah.

Untuk sementara juga, mari kita populerkan kembali panggilan Bung. Itu pun kalau Anda mau. Saya ingin panggilan Bung kembali membumbung. Tetapi, Bung, di mana kini kau berada?

Billy Soemawisastra

[Foto-foto: www.tokohindonesia.com, kolomsejarah.wordpress.com, www.swaramuslim.com]