Bakmi Kadin dan Musik Kroncong

Jika Anda termasuk manusia “jadul” berusia minimal 40-an tahun, Anda pasti mengenal atau paling tidak pernah mendengar lagu The Autumn Leaves, yang pertama kali dilantunkan oleh Nat King Cole pada tahun 50-an. Dekade berikutnya lagu ini dikumandangkan oleh Frank Sinatra, dan dasawarsa berikutnya lagi Andy Williams tak mau ketinggalan mendendangkan lagu ini. Singkat kata, lagu ini pernah sangat terkenal hingga sekitar tahun 80-an, karena berganti-ganti dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kelas dunia seperti Elvis Presley, Tom Jones, Engelbert Humperdinck, Eva Cassidy, Johny Mathis, bahkan George Benson dengan irama Jazz-nya.

Liriknya sederhana, nadanya pun sederhana, bisa dinyanyikan dengan nada rendah maupun nada tinggi. Kalau Anda tergolong manusia jadul lalu mengaku tak pernah mengenal atau mendengar lagu The Autumn Leaves sepanjang hidup Anda, maka akuilah bahwa Anda termasuk manusia jadul yang gak gaul pada jamannya. Kalau begitu buru-burulah searching di You Tube. Di situ, akan Anda temukan lagu The Autumn Leaves yang dilantunkan berbagai penyanyi dalam beragam versi.

The Autumn Leaves, tiba-tiba lagu itu terdengar kembali mengalun secara live, dalam irama kroncong, pada pertengahan Juni lalu. Yang menyanyikannya bukan penyanyi terkenal, yang mengiringinya pun bukan band terkenal. Melainkan sebuah grup orkes kroncong jalanan di sudut kota Jogja. Tepatnya di emper  jalan, di teras warung Bakmi Kadin, menghibur para penikmat bakmi. Membuat bakmi Jawa yang sudah terkenal puluhan tahun itu semakin nikmat disantap.

Para musisi kroncong di Bakmi Kadin Jogjakarta.

Warung Bakmi Kadin. Menurut riwayat yang cukup shahih, warung bakmi ini didirikan pada tahun 1947 oleh Mbak Hj, Karto, dan sekarang dikelola penerusnya bernama Rochadi. Disebut bakmi Kadin karena letaknya berada di belakang kantor Kadin (kamar Dagang dan Industri) Jogjakarta, di jalan Bintaran Kulon nomor 3 & 6. Warung bakmi ini sangat terkenal. Dari sudut mana pun di kota Jogja, kalau Anda meminta tukang becak mengantarkan Anda ke warung tersebut, Anda pasti diantarkan ke sana tanpa bertanya lagi. Tentunya setelah tercapai  kesepakatan harga atau ongkos becak.

Para pengunjung Warung Bakmi Kadin.

Di warung bakmi Kadin, Anda akan disambut alunan orkes kroncong yang melantunkan berbagai jenis lagu. Lagu kroncong tradisional, modern, pop Indonesia maupun Barat, termasuk lagu The Autumn Leaves tadi. Sebelum pulang, jangan lupa masukkan uang ke dalam wadah yang memang disediakan untuk upah para penyanyi dan pemusik kroncong ini. Jumlahnya terserah Anda, sekedar untuk  menghargai kreativitas mereka, para musisi kroncong yang tak luluh tergerus jaman.

Dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang.

Bakmi Kadin adalah bakmi tradisional Jawa, yang dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang. Mau bakmi godog (rebus), bakmi goreng ataupun kwetiau, semuanya ada di sini. Anda tinggal pesan. Warung yang buka sejam pukul 9 pagi hingga jam 12 malam itu tak pernah sepi pengunjung. Konon setiap harinya, warung Bakmi Kadin mampu menjual sedikitnya 500 porsi.

Billy Soemawisastra

Ikan Mas Goreng Cobek

Ini bukan promosi mengenai rumah makan, karena saya tidak memperoleh imbalan sepeser pun dari rumah makan — yang mau tak mau — akan saya sebutkan nama dan alamatnya. Ini hanya sekedar berbagi pengalaman dengan sesama penggemar ikan mas, terutama penggemar fanatik yang rajin “berburu” ikan mas (yang telah dimasak tentunya).

Ikan mas, yang bahasa latinnya: Cyorinus carpio, itu merupakan ikan air tawar terindah bentuknya, dan terlezat dagingnya. Namun penggemar masakan ikan mas, tidak sebanyak penggemar masakan ikan gurame. Padahal rasa ikan gurame tidak selezat ikan mas. Ikan gurame baru bisa dilahap dengan nikmat bila dilumuri berbagai macam bumbu. Itu pun hasilnya tetap tidak seenak ikan mas.

Ikan mas di kolam (www.allposters.com)

Sedangkan ikan mas, cukup dikasih garam sekedarnya, sedikit jeruk nipis atau asem jawa, lebih asyik lagi kalau direndam sebentar di air perasan kunyit, lalu digoreng dalam keadaan masih segar. Setelah itu … wah rasanya, mengalahkan rasa ikan gurame yang sudah dimacem-macemin.

Sebagai penggemar masakan ikan mas, saya telah berburu hidangan ini ke hampir seluruh penjuru negeri (nggak juga sih, paling-paling di sekitar Jakarta dan Jawa Barat). Setelah melalui perburuan yang (tidak) melelahkan itu, saya berkesimpulan bahwa masakan ikan mas paling enak yang pernah saya temukan, hanyalah masakan ikan mas hasil olahan nenek saya, yang pernah tinggal di lereng Gunung Cakrabuana, Malangbong, Garut. Tetapi nenek saya sudah lama berpulang ke alam baqa. Saya pun kehilangan masakan ikan mas yang paling gurih itu.

Sepeninggal almarhumah nenek saya yang sangat dicintai kakek saya itu, saya melanjutkan perburuan untuk mencari masakan ikan mas yang bisa menandingi hasil olahan nenek. Setelah sekian lama akhirnya saya temukan juga masakan ikan mas yang sangat lezat. Nama menunya: Ikan Mas Goreng Cobek, di rumah makan (terpaksa saya sebutkan) Panyawangan.

Ikan Mas Goreng Cobek.

Rumah makan yang terletak di kawasan Jl. Ir. H. Djuanda, Dago, Bandung ini, menawarkan menu masakan ikan mas yang sangat mengesankan (setidaknya bagi saya). Ikan mas segar yang digoreng dengan bumbu secukupnya, lalu dihidangkan dengan ulekan cabe merah. Hidangan ini merupakan salah satu ciri khas rumah makan Panyawangan, sekaligus ciri khas kota kembang. Saya sering berkunjung ke rumah makan ini sekedar untuk melahap ikan mas goreng cobek.

Dihidangkan dengan nasi beras merah.

Kokinya cukup ahli dalam mengelola hidangan ikan mas. Ikan air tawar jenis ini, akan lebih terasa gurihnya, jika digoreng tanpa dibelah. Syarat lainnya, ikan mas itu harus benar-benar segar, baru diangkat dalam keadaan hidup di air. Jangan disimpan dulu di dalam kulkas atau freezer. Nah itu pula yang dilakukan koki rumah makan ini.

Saya tidak pernah bertanya kepada pengelola restoran, bumbu apa saja yang mereka gunakan untuk menggoreng ikan mas pilihan mereka. Namun tampaknya tidak terlalu jauh berbeda dengan bumbu yang biasa digunakan nenek saya. Garam secukupnya, sedikit jeruk nipis atau asem jawa. Sayangnya, saya tidak melihat bekas rendaman air kunyit parutan. Tak apalah. Yang penting enak.

Sebenarnya, ada satu rumah makan lagi yang hidangan ikan masnya cukup gurih dan lezat. Rumah makan ini terletak di pusat kota Jakarta. Berbeda dengan rumah makan Panyawangan yang menjual cita rasa Sunda, rumah makan di Ibu Kota itu menghidangkan masakan ikan mas dengan cita rasa Manado. Tapi lain kali saja ceritanya. Tidak apa-apa kan?

Billy Soemawisastra.