Benton Junction dalam Dimensi Waktu

Mengapa “perjalanan waktu” bisa berbeda di suatu tempat dan tempat lainnya? Di berbagai kota besar, terutama kota metropolitan Jakarta, detak jam terasa begitu cepat, sehingga sebagian besar warganya selalu merasa kekurangan waktu. Sementara masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Seorang teman saya yang “sok sibuk” sering mengatakan bahwa waktu 24 jam sehari, tidaklah cukup untuk memenuhi seluruh kegiatan hariannya.

“Seharusnya, ada 48 jam dalam sehari,” katanya. Padahal hampir setiap hari, teman saya itu lebih sering menghabiskan waktunya di cafe, dari jam sembilan malam hingga pukul tiga menjelang subuh. Jadi mungkin maksudnya, dia ingin berada lebih lama di cafe. Hahaha … Eh, kok saya jadi bergunjing?

Begini. Saya sebenarnya ingin bercerita tentang sebuah tempat berleha-leha di pinggiran Jakarta, yang perjalanan waktunya terasa lebih lambat, bahkan bila dibandingkan dengan mal di sebelahnya. Tetapi sebelumnya, saya ingin berteori sedikit tentang masalah perbedaan putaran waktu.

Di beberapa wilayah di kota Bandung, Jogjakarta dan Bukittinggi, waktu terasa begitu lambat merayap. Juga di sejumlah desa di Indonesia (mungkin juga di mancanegara). Padahal seperti telah saya singgung di atas, putaran waktu di Jakarta terasa bergerak terlalu cepat. Mengapa?

Menurut James Redfield, pengarang trilogi novel spiritual: Celestine Prophecy, The Tenth Insight dan The Secret of Shambala, terjadinya perbedaan putaran waktu (ada yang terasa lebih lambat atau lebih cepat) itu lantaran “dimensi cahaya” yang berbeda-beda di berbagai tempat. Ditambah dengan energi kolektif dari orang-orang yang berkegiatan di tempat-tempat bersangkutan.

Jadi, di daerah wisata yang cahayanya tidak terlalu terang, alias berkabut, waktu akan terasa lebih lambat. Kondisi ini didukung oleh energi positif yang ditebarkan oleh para pengunjung daerah wisata, yang umumnya berada dalam keadaan santai alias tidak terburu-buru. Sebaliknya, di wilayah yang cahayanya lebih terang, dan orang-orangnya yang cenderung terburu-buru, waktu akan terasa lebih cepat.

Nah, kondisi seperti itulah yang saya rasakan ketika berada di Benton Junction. Sebuah tempat untuk beristirahat sambil menikmati berbagai makanan dan minuman. Letaknya di kawasan terpadu Lippo Karawaci, yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang, Banten. Di sini, waktu terasa lambat merayap. Padahal kalau Anda berkunjung ke mal di sebelahnya, yakni Lippo Supermall, putaran waktu di tempat itu terasa bergerak sangat cepat.

benton15benton12

Makan dan minum di alam terbuka.

Di Benton Junction, berderet sejumlah warung makanan dan minuman yang menawarkan berbagai citarasa. Mulai dari citarasa pribumi, oriental hingga citarasa yang kebarat-baratan. Para pengunjungnya dipersilakan memilih, mau duduk di dalam restoran sambil menikmati musik yang tidak terlalu keras, atau duduk di kursi-kursi yang telah disediakan di halaman pinggir jalan, sambil merasakan semilir angin yang sejuk namun tidak terlalu kencang.

Di malam hari, Anda bisa makan dan minum di halaman pinggir jalan itu, diterangi lilin dan cahaya rembulan. Ada juga cahaya lampu, yang dipantulkan lampu-lampu jalanan dan lampu mobil yang berseliweran serta lampu-lampu dari dalam restoran. Tetapi cahayanya tidak terlalu terang. Pokoknya, tidak ada yang “terlalu” di Benton Junction, termasuk harga makanan dan minumannya yang tidak terlalu mahal, bila dibandingkan dengan harga makanan dan minuman di restoran-restoran modern.

Di siang hari, Benton Junction lebih banyak dikunjungi para mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) yang kampusnya memang berhadap-hadapan dengan tempat ini. Benton Junction juga berhadap-hadapan dengan pusat jajanan serba ada Taman Sari dan Time Bookstore yang cukup besar. Diapit Menara Matahari dan Lippo Supermall. Di bulan puasa, Benton Junction menjadi tempat berbuka puasa yang nyaman. Tidak perlu berebutan atau mengantri tempat duduk seperti di berbagai mal dan restoran lainnya.

Alfresco Dining, alias makan dan minum di alam terbuka, itulah yang ditawarkan Benton Junction. Gaya hidup seperti ini bisa ditemukan di berbagai kota di Eropa, yang tingkat polusinya masih sangat rendah. Juga di Singapura. Namun jangan berharap, gaya hidup seperti itu bisa ditemukan di Jakarta, yang cuacanya sangat panas dan tingkat polusi udaranya sangat tinggi.

benton06benton07

Sisi lain Benton Junction.

Benton Junction menjadi salah satu alternatif bagi penduduk Jakarta, yang ingin berleha-leha di alam terbuka sambil menyantap makanan dan minuman. Tetapi, tidak banyak masyarakat Jakarta yang memanfaatkan kesempatan ini. Sebab jika dilihat dari komposisi pengunjung Benton Junction, tampaknya kebanyakan berasal dari wilayah hunian sekitar. Yakni orang-orang yang tinggal di komplek-komplek perumahan dan apartemen di kawasan Lippo Karawaci, atau para ekspatriat (terutama Korea) yang bekerja di kawasan industri Cilegon.

Suasana yang cukup ramai, biasanya terjadi setiap Sabtu malam dan malam-malam liburan lainnya, terutama malam pergantian tahun. Ada live music, ada TV screen yang lumayan besar, ada hiburan untuk anak-anak berupa sandiwara boneka dan pertunjukan badut. Dan, ada bazaar, untuk kaum ibu dan kaum bapak yang doyan belanja. Atau, kalau mau sekedar menikmati segelas cappuchino, berbagai minuman cokelat dan beberapa gelas draft beer, silakan saja.

Di sini banyak restoran yang menawarkan berbagai racikan minuman seperti BT Cocca House, Coffee Bean and Tealeaf,Lau’s Kopitiam, House of Bintang. Kalau mau makan yang mengenyangkan, ada Planet Noodle, Nasi Campur Putra Kenanga, Primavera Eurocafe, Bistro Delifrance, Dixie, Margos a Cup of Java,  Betawi Kitchen, Istana Nelayan, T. Grill, Korean Restaurant, Taal Restaurant India, Dragone Japanese Resto, Soup2u.

benton05benton08benton03

Live music, badut dan bazaar.

Kawasan Benton Junction ini dirancang oleh Gordon Benton, Senior Executive PT. Lippo Karawaci Tbk. Dari nama sang perancang inilah, agaknya, nama Benton dilekatkan. Sayangnya, kenyamanan ber-alfresco dining di tempat ini tidak diimbangi dengan tempat parkir yang memadai. Para pengunjung terpaksa memarkir mobil mereka di pinggir jalan di sepanjang Benton Junction, karena tidak tersedia tempat parkir khusus.

Beberapa waktu lalu, para pengunjung Benton Junction masih diperbolehkan memarkir mobil di area parkir Lippo Supermall. Tetapi sekarang tidak lagi karena batas antara mal dengan Benton Junction sudah ditutup. Dulu juga ada tempat parkir yang lumayan besar di belakang restoran. Sekarang tidak boleh digunakan lagi karena tempat tersebut sedang dipugar untuk membangun gedung bagi para official dan wartawan peliput formula A1.

benton02benton01

Tempat parkir yang sempit, di pinggir jalan.

O, ya, sirkuit formula A1, adalah ambisi lainnya Gordon Benton. Ia dan grup Lippo Karawaci-nya, sekarang sedang bersibuk-ria mempersiapkan sirkuit formula A1 yang kira-kira sekelas dengan sirkuit Sentul. Targetnya, sirkuit tersebut sudah bisa digunakan di awal Februari 2009, pada ajang A1GP Worldcup of Motorsport. Areal yang akan digunakan untuk ajang A1 Grand Prix ini, adalah jalan raya utama di kawasan terpadu Lippo Karawaci, yang melintasi Benton Junction dan memutari Lippo Supermall. Kini jalan raya tersebut sedang diperlebar agar bisa segera digunakan pada saatnya nanti.

Bisa dibayangkan, betapa riuh rendahnya suasana di kawasan itu nantinya. Akankah Benton Junction masih dipertahankan eksistensinya oleh Pak Gordon Benton, setelah “mainan baru” bernama sirkuit formula A1 dipergunakan? Atau, kalaupun Benton Junction dipertahankan, akankah suasananya masih terasa nyaman seperti sekarang? Jangan-jangan, putaran waktu yang kini terasa lambat, kelak akan terasa sangat cepat, secepat para pembalap berkejaran melintasi sirkuit.

Billy Soemawisastra

Australia dan Tembang Mantrawi Kaum Pribumi

australia01

Di penghujung tahun 2008 ini, para penggemar sinema di seluruh dunia disuguhi film berjudul: Australia. Sebuah karya besar sutradara Baz Luhrmann, yang pernah sukses dengan film Moulin Rouge (2001) dan William Shakespeare’s Romeo & Juliet (1996). Film termahal berbiaya 150 juta dollar Australia, atau sekitar 1,1 trilyun rupiah itu, merupakan film yang sudah lama diimpi-impikan Baz Luhrmann. Maklum, Baz adalah sutradara kelahiran Australia.

Impiannya bukan sekedar membuat film tentang negeri kelahirannya, tetapi ia juga ingin film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris asal Australia, dan dikerjakan oleh kru kelahiran Australia. Kebetulan di Hollywood, cukup banyak pemain film terkenal kelahiran benua kangguru. Begitu pula orang-orang yang biasa bekerja di balik layar, tak sedikit yang berasal dari Australia. Maka jadilah Baz Luhrmann memboyong para pemain dan pekerja film yang hampir keseluruhannya merupakan orang Australia. Lokasi pembuatannya, langsung di Australia. Judulnya pun tak tanggung-tanggung: Australia.

australia1

“Saya ingin film Australia menjadi film yang bisa berbekas di hati penonton, dan dapat dinikmati oleh semua usia,” ujar Baz Luhrmann, dalam behind the scene yang saya tonton melalui Star Movie. Dan, film itu memang membekas di hati saya. Sehingga saya pun mensejajarkannya dengan film-film legendaris seperti The God Father, Dancing with Wolves, The Kingdom of Heaven, Gang of New York, Brave Heart dan film-film besar serta kolosal lainnya.

australia12-director

Sutradara Baz Luhrmann.

Bagi mereka yang berharap bahwa film ini akan berkisah tentang sejarah Australia, dan penindasan terhadap bangsa Aborigin yang dilakukan para imigran kulit putih dari Inggris, tentu akan kecewa. Karena film ini sebenarnya “hanya” film drama dengan latar belakang Australia akhir dasarwarsa 1930-an hingga meletusnya Perang Dunia Kedua. Salah satu yang kecewa adalah pembuat resensi film di harian Kompas. Sang penulis resensi tersebut menyatakan, judul: Australia, terlalu berat untuk sebuah film yang hanya bercerita di seputar peternakan sapi bernama Faraway Downs, di wilayah Northern Territory. Seharusnya, kata sang penulis, judul film ini cukup Faraway Downs saja.

Itulah akibatnya jika menonton film dengan ekspektasi terlalu tinggi, dan membuat mindset terlebih dulu, sebelum memelototi layar bioskop. Kompas, yang diwakili sang penulis resensi, berharap Baz Luhrmann akan membuat film tentang sejarah penindasan atas kaum aborigin, oleh para imigran dari Britania Raya. Kompas, tampaknya berharap film ini akan dipenuhi adegan-adegan ngeri, yang menggambarkan betapa dahsyatnya penyiksaan-penyiksaan yang dialami bangsa Aborigin, penduduk asli Australia. Sehingga Kompas, yang merupakan harian terkemuka di negeri ini, sama sekali tidak melihat sisi lain kelebihan Aborigin dan keserakahan kaum kulit putih, yang dituturkan Baz Luhrmann secara halus namun sinikal itu.

australia3

King George (David Gulpilil)

australia9

Nullah (Brandon Walters)

Melalui tokoh King George (yang diperankan oleh David Gulpilil) dan aktor cilik Brandon Walters (12 tahun) yang memerankan tokoh Nullah, Baz Luhrmann dengan indahnya mengungkapkan kearifan lokal bangsa Aborigin. King George, tetua Aborigin yang disebut Guppala (orang pintar) itu, sering mengajarkan tembang-tembang mantrawi kepada Nullah, yang tak lain adalah cucunya. Senandung mantrawi itu, mampu menjinakkan ikan-ikan di sungai, menghentikan ribuan ekor sapi yang berlarian panik menuju bibir jurang, membangkitkan kerinduan orang-orang tercinta di tempat yang jauh. Senandung mantrawi itu dinyanyikan seirama angin, sehingga seolah terbang menyatu bersama alam, menuju orang-orang tercinta.

Tentu saja ini legenda. Tetapi bangsa mana yang tidak memiliki legenda? Bahkan bangsa Inggris yang modern itu pun, sangat percaya pada legenda tentang King Arthur dengan pedang Excalibur-nya. Selain itu, bukankah legenda juga dibuat berdasarkan kejadian nyata, yang diberi bumbu di sana-sini?

Kembali pada film Australia, yang menyelipkan tembang-tembang mantrawi bangsa pribumi. Menyaksikan adegan-adegan King George dan Nullah menyenandungkan tembang mantrawi, saya jadi ingat cerita tentang John Glenn, astronot Amerika pertama yang berhasil mengililingi orbit Bumi. Dalam perjalanannya di luar angkasa yang gelap dan sepi, ia tak bisa melihat apapun di hadapannya. Kondisi itu dilaporkannya ke markas Nasa di Cape Canaveral.

Temannya, Allan B. Sheppard, yang juga astronot, segera terbang menuju Australia karena John Glenn diperkirakan sedang melayang di atas orbit benua tersebut. Di salah satu pojok negeri kangguru, Allan meminta sekelompok Aborigin untuk menggelar upacara ritual. Bangsa asli atau kaum pribumi Australia ini segera melakukan tarian-tarian sakral ditingkahi sara tifa, seraya mengghidupkan api unggun yang percikan-percikan apinya tampak terbang vertikal ke arah  langit.

Tak lama kemudian, John Glenn melapor melalui radio bahwa kini ia bisa melihat pemandangan di depannya, karena ada ribuan kunang-kunang menerangi jalannya. Kunang-kunang yang dilihat Glenn, tak lain percikan-percikan api unggun yang membumbung tinggi menggapai langit.

Dan, melalui film Australia, penulis skenario dan sutradara Baz Luhrmann, sekali lagi mengedepankan kearifan lokal bangsa Aborigin, yang selalu bersahabat dengan alam. Kearifan lokal masyarakat pribumi Australia, yang selalu diabaikan dan bahkan dicoba dihapuskan oleh bangsa kulit putih, pendatang dari Eropa.

Generasi yang Dicuri dan Runtuhnya Keangkuhan Bangsawan

Si kecil Nullah (Brandon Walters) adalah wakil Generasi yang Dicuri (Stolen Generation). Demikian istilah resmi yang digunakan untuk menyebut anak-anak Aborigin itu. Sejak 1880-an hingga awal 1970-an, anak-anak pribumi, terutama yang berdarah campuran, dipisahkan secara paksa dari para orangtua mereka, sebagai realisasi dari politik asimilasi. Mereka dididik dengan cara Barat, agar akar budaya mereka tercerabut. Tujuannya tak lain supaya kehidupan sosial dan budaya Aborigin benar-benar punah dari bumi Australia. Sementara para orangtuanya harus melakukan kerja paksa sebagai buruh kasar di tempat-tempat peternakan milik kulit putih.

australia10

Anak-anak Aborigin.

Nullah, adalah satu-satunya anak Aborigin (dalam film tersebut) yang selalu berusaha menghindar dari incaran aparat pemerintah, yang ingin membawanya ke tempat proyek asimilasi. Untuk sementara upayanya berhasil karena mendapat perlindungan dari Lord Maitland Ashley, pemilik peternakan Faraway Downs, yang bersahabat dengan penduduk asli. Tetapi keadaan menjadi lain, setelah Lord Ashley ditemukan tewas dengan tombak menghunjam tubuhnya. Neil Fletcher (David Wenham) menuduh King George sebagai pembunuh Lord Ashley. Tentu saja polisi pun percaya karena Fletcher adalah orang kepercayaan Lord Ashley.

australia4

The Drover  dan Lady Sarah Ashley.

Sebelum menemui kematian, Lord Ashley selalu menolak bujukan Fletcher, agar menjual peternakannya kepada saudagar King Carney (Bryan Brown). Saudagar serakah yang berkeinginan memegang monopoli peternakan sapi di seluruh Australia, supaya menjadi satu-satunya pemasok daging sapi untuk tentara Australia. Secara kebetulan, pada hari tewasnya Lord Ashley, isterinya, Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) tiba di peternakan tersebut bersama The Drover atau Sang Penggembala (Hugh Jackman). Setelah berhari-hari melewati perjalanan yang melelahkan, melintasi padang savana Australia, dengan berkendaraan truk.

australia02

The Drover (Hugh Jackman)

Mengikuti jejak suaminya, Lady Ashley pun bersikeras untuk tetap mempertahankan Faraway Downs, dan memecat Fletcher, setelah dilihatnya Fletcher berlaku kasar terhadap Nullah dan ibunya. Padahal tujuan semula kedatangan Lady Ashley ke peternakan tersebut, tak lain untuk menjual Faraway Downs, agar sang suami kembali ke Inggris. Cerita selanjutnya diisi dengan perjuangan Lady Ashley, The Drover, Nullah dan beberapa pekerja Faraway Downs, yang bahu-membahu menggiring ribuan sapi milik Faraway Downs, menuju Darwin, untuk dijual kepada tentara.

Di sepanjang perjalanan, mereka selalu diganggu oleh Fletcher dan kawan-kawan, yang berusaha keras menggagalkan upaya mereka. Melalui berbagai adegan menegangkan, Lady Ashley, The Drover, Nullah dan tiga orang pekerja lainya, akhirnya berhasil menjual sekitar 1500 ekor sapi milik peternakan Faraway Downs kepada tentara, mengalahkan King Carney.

australia11

Neil Fletcher (David Wenham)

Sampai di sini, banyak penonton mengira bahwa film akan segera berakhir. Tetapi ternyata masih ada babak kedua. The Drover, yang biasa mengembara di setiap musim panas, memutuskan pergi bersama tentara Australia, meninggalkan Lady Ashley. Padahal di antara keduanya telah terjalin kisah cinta. Sementara Nullah, dengan paksa dibawa aparat pemerintah untuk mengikuti proyek asimilasi seperti anak-anak aborigin lainnya. Lady Ashley pun kehilangan dua orang yang dicintainya. The Drover, yang sudah dianggap calon suaminya, dan Nullah, anak blasteran kulit putih dengan aborigin, yang sudah dianggap anaknya sendiri.

Kepiawaian Nicole Kidman dalam berakting, tampak sangat menonjol. Ia yang semula memerankan perempuan bangsawan yang angkuh dan kurang menyukai Aborigin, tiba-tiba berubah menjadi sosok seorang ibu yang mencintai anak aborigin, dan bergaul sangat dekat dengan penduduk asli. Sedangkan Hugh Jackman, sejak awal hingga akhir memang berperan sebagai laki-laki yang sangat keras, sosok pengembara padang savana, yang memang sudah menyatu dengan penduduk asli. Bahkan isteri pertamanya yang telah meninggal dunia, adalah seorang wanita Aborigin.

australia03

Adegan percintaan: The Drover dan Lady Ashley.

Di tengah suasana kehilangan yang melanda Lady Ashley, sekonyong-konyong ratusan pesawat bomber Jepang, membombardir Darwin, dan kota ini pun luluh-lantak, menjadi lautan api. Lady Ashley lalu menjadi sukarelawan, yang bertugas membantu komunikasi tentara. Sementara pulau tempat Nullah dan kawan-kawan diasimilasi, juga dikabarkan musnah dibom tentara Dai Nippon.

australia6

Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman)

Singkat cerita, Nullah dan kawan-kawan akhirnya diselamatkan The Drover, yang merasa terpanggil datang ke pulau tempat penampungan anak-anak Aborigin yang telah diduduki tentara Jepang, berkat nyanyian mantrawi yang disenandungkan Nullah. Nyanyian mantrawi ini pula, yang membuat Lady Ashley merasa akan bertemu Nullah, sehingga menunda evakuasi. Dan, orang-orang tercinta ini pun berkumpul kembali untuk melanjutkan hidup mereka.

Tetapi Nullah harus pergi untuk sementara waktu. Sebagai anak blasteran (ia ternyata anaknya Fletcher, hasil hubungan gelap dengan ibunya Nullah) Nullah merasa tidak diakui oleh kulit putih maupun Aborigin. Sehingga ia sering dijuluki sebagai anak krim, karena kulitnya yang kecoklatan. Untuk membuktikan bahwa ia merupakan keturunan penduduk asli, Nullah harus melakukan walkabout, suatu perjalanan spiritual yang biasa dijalani anak-anak Aborigin menjelang dewasa. Nullah pun berangkat untuk melakukan tradisi walkabout, bersama kakeknya, King George, alias Sang Guppala.

australia8

King George dan Nullah.

Film berdurasi sekitar 2,5 jam ini sungguh tidak membosankan. Jalan ceritanya berjalan cepat, dibumbui adegan-adegan menegangkan. Dipadu gambar-gambar indah khas alam Australia, yang kemudian menjadi kontras dan ironis dengan munculnya gambar-gambar kehancuran akibat perang. Lalu, senandung-senandung mantrawi itu. Senandung mantrawi milik pribumi, selalu menyelusup di sela-sela berbagai adegan, seperti suara angin yang mistis, menyuarakan kepedihan sekaligus kebahagiaan.

Jadi, di penghujung tahun 2008 ini, tak ada salahnya jika Anda menonton film Australia. Tetapi tontonlah tanpa kerangka pikiran apapun. Nikmatilah sebagaimana Anda menikmati karya seni, apa adanya, tanpa prasangka. Sebab kalau tidak, Anda mungkin akan kecewa. Atau menyesal seperti pemerintah Australia, yang baru menyampaikan permintaan maaf kepada bangsa Aborigin di awal tahun 2008 ini. Permintaan maaf yang sangat terlambat, setelah lebih dari dua abad bangsa Aborigin ditindas hingga nyaris musnah, dan anak-anaknya menjadi stolen generation. Tetapi pemerintah Australia masih lebih baik bila dibandingkan dengan pemerintah Amerika Serikat, yang tidak pernah meminta maaf kepada bangsa Indian, hingga sekarang.

Bila Anda berminat menonton film Australia, ajak pula anak-anak Anda, karena film ini memang dibuat untuk semua usia. Biarkan anak-anak menikmati akting mengesankan dari Brandon Walters yang memerankan Nullah, malaikat kecil yang juga berperan sebagai narator film ini.

Billy Soemawisastra

[Poster dan foto: www.australiamovie.com, movie.yahoo.com]

Manajemen Artis, Sangkar Emas Baru Bagi Para Musisi?

Kontrak antara grup musik Paramore dengan label Atlantik beberapa waktu lalu, menyentak industri musik dunia. Istilah 360-degree deal, kemudian dilekatkan dalam kontrak jenis baru itu. Bagi banyak orang, 360-degree deal antara Paramore dengan Atlantik, menandai semakin dalamnya kuku label musik menancap pada artis-artisnya.

Kalau dulu, label hanya mendapat bagian dari musik yang direkam artisnya, dengan 360-degree deal pundi-pundi uang label juga bertambah dari sebagian hasil konser serta penjualan berbagai barang yang berhubungan dengan sang artis.

Alasan ekonomi jelas terlihat di balik munculnya kontrak 360-degree deal. Label memang harus segera memperoleh pendapatan lain setelah telur emas berupa penjualan album fisik tidak lagi menjanjikan, digantikan penjualan album atau lagu secara digital yang belakangan memang marak. Keuntungan label juga tentu makin menipis dengan banyaknya pembajakan.

Tentu saja ada investasi yang harus ditanam label dalam kontrak jenis baru ini. Dengan menggunakan 360-degree deal, segala kebutuhan bisnis sang artis akan menjadi urusan label. Artis tidak akan dipusingkan dengan urusan-urusan manajemen. Masalah kontrak, panggung, produksi hingga promosi tidak perlu lagi mereka pikirkan.

Bahkan, karena kontrak seperti itu berlandaskan kepentingan bisnis, segala sesuatu yang berhubungan dengan menjual nama sang artis sudah akan ada yang menanganinya. Karena itu, kontrak seperti 360-degree deal juga termasuk menangani bisnis-bisnis retail dengan nama sang artis sebagai sebuah brand atau merek dagang, misalnya saja dalam penjualan merchandise seperti kaos, topi atau pernak-pernik lain yang mungkin diproduksi.

Kontrak 360-degree deal memiliki timbal balik yang tidak sedikit bagi sang artis karena semua penghasilan mereka, yang berhubungan dengan kegiatannya di industri musik, tidak akan lolos dari kalkulasi label. Tapi jangan menganggap pelakunya merasa dirugikan. Buat mereka, pendapatan tambahan bagi label adalah ongkos yang memang layak dibayar.

Ongkos itu biasanya dikeluarkan sang artis kepada beberapa pihak dalam bentuk management fee. Dengan 360-degree deal, management fee akan berupa satu paket utuh yang diberikan kepada sang label.

Tidak sedikit artis yang justru merasa diuntungkan dengan cara demikian. “Kita harus berkorban agar bisa maju,” kata Hayley Williams, vokalis Paramore. ”Harus memberi sebagian agar bisa mendapat sesuatu dari karya kita. Kami beruntung. Ini merasa seperti kemitraan yang hebat.”

Ada yang pro, tidak sedikit pula yang kontra pada 360-degree deal. Banyak alasan untuk menilai negatif kontrak itu. Tudingan putus asa dialamatkan kepada para artis yang mengambil kontrak itu. Setidaknya, banyak pihak menilai kontrak 360-degree deal harus dilihat dengan lebih waspada.

Pro-kontra tentu tidak akan ada habisnya karena semua pihak tentu merasa jenis kontrak yang disepakati adalah langkah terbaik yang bisa diambil, tentu dengan melihat pada kondisinya masing-masing. Bagaimanapun keras reaksi yang muncul, kontrak seperti itu sudah ada dan mengikat beberapa artis. Pertanyaannya kemudian, sudah adakah kontrak jenis itu di Indonesia?

Jika merujuk pada nama 360-degree deal, belum ada artis Indonesia yang menyatakan menggunakan jenis kontrak itu dengan labelnya. Tapi jika dikulik lebih teliti, model yang digunakan dalam 360-degree deal sebetulnya mirip dengan bentuk kerjasama artis dengan labelnya di Indonesia. Hanya saja di sini, di Indonesia, wujudnya adalah manajemen artis.

Trinity Optima Production, adalah salah satu label lokal yang yang sudah menerapkan manajemen artis. Biasanya, klausul mengenai penanganan menyeluruh atas aspek bisnis sang artis dalam manajemen artis akan masuk saat kontrak awal ditanda tangani. Karena itu, hampir seluruh artis Trinity, yang antara lain menangani grup Band Ungu, masuk dalam manajement artis mereka.

Tidak hanya Trinity, Musica Studio’s, salah satu label lokal terbesar di tanah air, juga sudah menerapkan kontrak jenis baru pada beberapa artisnya. Setidaknya saat ini ada 6 artis Musica Studio’s yang juga berada di bawah manajemen artis Musica.

Nama-nama grup musik papan atas seperti Nidji, Letto hingga D’Masive yang baru belakangan mendaki puncak tangga popularitas, tidak lepas dari jaring manajemen artis Musica.

Musica menampik tudingan bahwa manajemen artis biasanya hanya diperuntukkan serta diterima oleh para artis baru yang dianggap belum kuat posisi tawar menawarnya. Rafika Duri dan d.o.t adalah contoh 2 nama lama yang baru kemudian masuk dalam manajemen artis Musica Studio’s.

Sama halnya dengan 360-degre deal di luar negeri, maka dengan masuk ke manajemen artis milik label, sang artis menyerahkan masalah dan kepentingan bisnisnya kepada label. Mereka tidak perlu lagi memikirkan aspek bisnis dari karirnya. Tentu saja, cara menangani artis yang berbentuk kelompok pasti berbeda dengan artis solo.

Untuk sebuah kelompok musik misalnya, perlu ada pemisahan antara aspek bisnis masing-masing personilnya dengan bisnis yang membawa nama kelompok. Manajemen artis dari label hanya akan mengurusi berbagai kesepakatan bisnis yang mengusung nama kelompok. Untuk urusan bisnis masing-masing personil, kecuali ia juga terikat pada manajemen yang sama, akan menjadi urusannya sendiri.

Selain itu, sederet keuntungan lain juga dirujuk label sebagai iming-iming agar artis mau masuk dalam manajemen artis mereka. Salah satunya adalah masalah kepercayaan. Nama label dianggap bisa menjadi jaminan kepercayaan bagi lawan bisnis yang ingin menjalin kerja sama dengan sang artis.

Ada jasa pasti ada bayaran. Keuntungan yang akan didapat tentu harus sebanding dengan ongkos yang dibayar artis saat ia memutuskan masuk dalam manajemen artis milik label. Biasanya, label sudah mempersiapkan kontrak yang dibuat bersama sang artis. Tidak hanya masalah bayaran, kontrak juga akan mengatur segala hak dan kewajiban managamen dan sang artis.

Pada dasarnya, semua hal yang menyangkut aspek bisnis sang artis masuk dalam kontrak yang tentu tujuannya menghindarkan terjadinya konflik di kemudian hari. Dengan adanya kontrak, segala masalah yang tidak bisa diselesaikan, bisa di bawa ke meja hijau untuk mendapat penyelesaian artis.

Label pasti akan berpromosi betapa menguntungkannya bergabung bersama manajemen artis yang mereka kelola. Namun tentunya keputusan akhir tetap berada di tangan sang artis. Letto, salah satu artis yang masuk dalam manajemen artis Musica Studio’s berusaha obyektif menilai masalah ini.

Bagi mereka, menguntungkan atau tidaknya pola manajemen artis tidak bisa dilihat hanya dalam satu sisi. Meski mereka sadar betul, apa yang tertulis dalam kontrak dengan label, termasuk dalam masalah manajemen artis, sangat terkait dengan posisi tawar menawar kedua pihak. Seperti juga mereka sadar, betapa lemahnya posisi tawar mereka sebagai grup musik baru, saat menanda tangani kontrak dengan Musica Studio’s, salah satu raja industri rekaman di tanah air.

”Kalau gini sih, waktu pertama kali masuk Musica kita sama sekali nol ya. Jadi mau ditawarin apa aja mungkin kita caplok karena pengetahuan tentang kontrak dan industri musik masih minim. Kita belajar setelah masuk. Setelah itu banyak keterangan tambahan di sana-sini, tentang kontrak. Jadi kita maunya gini,” ujar Letto,dalam wawancara dengan penulis, 5 Juni 2008.

Untunglah bagi mereka karena Musica mau bersikap fleksibel. Sejalan perkembangan karir Letto, yang sekaligus berarti semakin kuatnya posisi tawar mereka, berbagai penambahan dilakukan dalam kontrak. Patut dicatat, penambahan artikel baru (adendum) dalam kontrak yang sudah disepakati bersama tentu bukan kewajiban label. Apalagi sedari awal kontrak sudah mengikat secara hukum.

Siapapun yang lalai terhadap isi kontrak sebetulnya dengan mudah akan mendapat sanksi yang biasanya berimplikasi besar. Namun mekanisme ”duduk bersama” lebih dipilih Musica Studio’s untuk menghadapi masalah dengan para artisnya.

Kerja sama model Trinity atau Musica bukanlah satu-satunya jenis kerja sama yang bisa dijalin antara label rekaman dengan artisnya. Sebagian artis lebih memilih untuk memproduksi sendiri album mereka.

Untuk distribusi, barulah mereka bergantung pada label rekaman besar yang tentunya sudah memiliki jaringan distribusi yang luas. Pada sistem yang biasa disebut titip edar ini, sang artis masih memiliki kekuasaan penuh atas arah dan perkembangan karir mereka karena tidak diikat oleh label.

Masih ada model lain yang bisa dikembangkan antara label dengan manajemen. Misalnya, model yang digunakan Universal Music Indonesia (UMI) saat mengikat hubungan dengan grup musik Samsons. Sistem yang dipakai Universal bukanlah sistem kontrak. Sistem yang dipakai malah belum pernah dipakai di Indonesia. Sistem itu adalah dengan membeli lisensi master rekaman grup Samsons.

Daniel Tumiwa dari Universal menjelaskan mengenai hal ini dalam percakapannya dengan Majalah Swa (Majalah Swasembada, edisi 11/2006, terbit 1 Juni 2006). ”Saat menangani album Samsons, UMI menggunakan sistem yang sama sekali berbeda dari yang digunakan perusahaan rekaman lain, khususnya terhadap artis lokal.Kami menggunakan sistem master licensing,”

Bentuk kerja sama Antara Universal Music Indonesia dengan Samsons membuat salah satu grup musik papan atas Indonesia itu masih memiliki hak dan kewajiban untuk memikirkan aspek bisnis dari karir mereka. Samsons tetap memiliki manajer atau manajemen artis sendiri untuk menangani segala kebutuhan bisnisnya. Label, dalam hal ini Universal Music Indonesia, tidak akan campur tangan.

Apapun bentuk kerja sama antara label dengan sang artis, pasti merupakan bentuk kompromi bisnis kedua pihak. Yang paling penting bagi sang artis adalah benar-benar mempelajari bentuk kerja sama yang akan dijalaninya sehingga tidak harus terjebak dalam kurungan sangkar label, meski itu adalah sangkar emas.

Indriati Yulistiani

{Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari tesis master penulis mengenai industri musik Indonesia yang akan segera dibukukan, dan juga dapat dilihat pada blog Beranda.}
[Foto: www.stikersanddonuts.com, www.paramore.com, www.musikji.net, www.picasaweb.google.net, www.wikimedia.or, www.letto.blog.friendster.com]

Negeri Pembajak Itu Bernama Indonesia

Gue punya 16 versi album the best of Ari Lasso,” ceritanya dengan penuh semangat. “Waktu gue tur di 30 kota tempo hari, gue selalu beli versi yang berbeda. Judulnya macam-macam. Ari Lasso & Friends, The Best of Ari Lasso, Balada Ari Lasso, Lagu Cinta Ari Lasso, Cinta dan Kehidupan Ari Lasso, Keseimbangan Cinta Ari Lasso, Rahasia Ari Lasso sampai Misteri Ari Lasso. Semuanya bajakan! Ha ha ha …”

Itu keluhan Ari Lasso waktu diwawancarai Majalah Rolling Stones Indonesia (baca artikel ”Industri Musik Rasa Baru” pada Majalah Rolling Stones Indonesia edisi 35). Keluhan Ari Lasso bisa dianggap mewakili teman-temannya, para musisi Indonesia lainnya. Pembajakan membuat penjualan album mereka berantakan. Pembajakan mengancam dapur sebagian besar musisi Indonesia. Apa daya mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Pembajakan di Indonesia memang sudah jadi rahasia umum. Tapi, data IFPI (sebuah organisasi industri rekaman tingkat dunia) bisa bikin mata kita terbuka lebih lebar untuk melihat betapa parahnya masalah pembajakan di Indonesia. Tahukah Anda kalau di tahun 2008 ini, Indonesia jadi pemegang medali perak negara pembajak utama dunia? Indonesia cuma kalah dari Cina sebagai raja pembajak dunia.

Memang bukan baru kali ini Indonesia masuk daftar negara pembajak utama di dunia. Beberapa tahun terakhir, nama Indonesia selalu masuk dalam evaluasi tahunan organisasi industri rekaman sedunia itu. Pastinya ini bukan prestasi yang membanggakan.

Yang mengejutkan sebenarnya angka pembajakan yang dianggap terjadi di Indonesia yang mencapai 85 persen. Artinya, dari 100 materi audio visual yang dijual di Indonesia, 85 di antaranya adalah bajakan. Setiap beredar 1 cakram audio atau video asli, sudah akan ada 6 versi bajakannya.

Mau cari produk bajakan? Sangat mudah. Tidak cuma di kota, sekarang produk audio-video bajakan sudah merambah desa. Tidak cuma di kaki lima, produk bajakan juga bisa dibeli di mal-mal.

Mencari DVD bajakan.

Anda pelanggan produk bajakan? Jangan khawatir, Anda punya banyak teman. Harga produk bajakan yang sangat murah dengan kualitas yang ”tidak jelek-jelek amat” biasanya jadi alasan para pembeli produk bajakan lainnya (termasuk Anda?). Harga album rekaman asli berkisar antara Rp. 20.000,- hingga Rp. 70.000,-. Mahal sekali kalau dibandingkan dengan harga 1 keping mp3 (yang memuat setidaknya 100 lagu dari berbagai penyanyi), yang dijual paling mahal Rp 7000,-. Padahal dengan harga produk asli, pembeli hanya memperoleh satu album dengan paling banyak 14 lagu.

Apapun alasannya, beredarnya produk bajakan pasti merugikan seniman dan produser serta jelas melanggar hukum menyangkut hak cipta. Pertanyaannya, kenapa petugas membiarkan para pembajak bebas berkarya. Mengapa Indonesia menjadi lahan subur pembajakan?

Sebetulnya, bukan tidak ada usaha untuk menghilangkan pembajakan dari bumi pertiwi. Berbagai operasi sudah digelar aparat kepolisian untuk mencari lokasi-lokasi dijualnya produk bajakan bahkan tempat produksinya. Tapi sepertinya usaha bapak dan ibu polisi belum memperlihatkan hasil maksimal.

Menjelang razia.

Mudahnya teknologi pembajakan dan besarnya keuntungan yang dijanjikan bisnis ini, membuat langkah polisi memberantas pembajakan bagaikan menyiram air di musim kemarau. Jika tidak dilakukan terus menerus, pembajakan akan kembali dan terus marak.

Perhatikan saja kondisi yang terjadi setelah polisi melakukan razia dan penggrebekan pada lapak-lapak penjual cakram bajakan atau bahkan pabrik ilegal yang membuatnya. Jika hari ini polisi melakukan penggrebekan di suatu pusat pembajakan, bisnis pembajakan atau jual-beli cakram bajakan memang akan terhenti sesaat.

Pemusnahan DVD/VCD/MP3 bajakan di Polda

Metro Jaya. (Foto: Usman Iskandar/TEMPO)

Tapi, dalam dua-tiga hari, paling lambat 1 minggu, bisnis jual beli biasanya sudah menggeliat kembali di tempat yang sama. Malah kadang, bila penggrebekan dilakukan di pagi hari, sekitar tengah hari para pembajak sudah mulai membuka kembali lapak-lapak dagangannya. Apalagi jika diyakini para anggota polisi sudah pergi. Lebih-lebih lagi, jika mereka yakin, aparat yang tersisa sebetulnya sudah disumpal mulutnya.

Permasalahan makin rumit dengan tidak memadainya aturan hukum yang mengatur masalah hak cipta dari sebuah karya. Makanya jangan heran kalau selama bertahun-tahun Indonesia selalu menjadi target pengawasan negara-negara lain menyangkut masalah pelanggaran hak cipta.

Masalah semakin runyam karena biasanya pelaku pembajakan, baik audio atau video, biasanya jika diajukan ke meja hijau, cuma mendapat hukuman yang relatif ringan. Terkadang, dengan sekedar jaminan uang mereka bisa segera bebas. Kembali menekuni bisnis bajakan, menjadi langkah umum yang mereka ambil, sesaat setelah menghirup udara bebas.

Pembajakan juga dituding menjadi ”biang keladi” turunnya jumlah penjualan album fisik (audio & video) legal. Data ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) memang memperlihatkan fenomena itu. Jika di tahun 2005 jumlah kaset, CD dan VCD yang beredar di Indonesia mencapai angka 30.032.460 keping, di tahun berikutnya angkanya sudah menciut menjadi 23.736.355 keping. Di tahun 2007, angka itu tergerus lagi hingga tinggal 19.398.208. Ini artinya, rata-rata penurunan peredaran cakram audio dan video legal di Indonesia mencapai sekitar 20% setiap tahun!

Bagi industri musik, kondisi turunnya angka penjualan album legal bukan sesuatu yang ringan untuk ditanggung. Angka fantastis penjualan album hingga jutaan copy, kini hanya tinggal kenangan. Angka penjualan album beberapa musisi tercatat menurun tajam. Menurut catatan majalah Rolling Stones Indonesia, Ada Band adalah salah satu korbannya.

Tahun 2005 Ada Band masih mampu menjual 1 juta keping cd untuk album ”Heaven Of Love”. Penjualan sebanyak itu, tentu menghasilkan royalti yang tidak sedikit. Tapi, saat meluncurkan ”Romantic Rhapsody” angka penjualan tercatat hanya sekitar 708.000 keping. Nasib yang sama juga dialami grup band Radja. Album ”Hanya Untukmu” terjual 500.000 keping, jauh di bawah album ”Langkah Baru” yang mencapai 1,3 juta keping.

Grup band Padi malah mengalami nasib yang lebih ironis. Angka penjualan albim baru mereka sangat sedikit, apalagi jika dibandingkan album mereka sebelumnya. Dengarlah keluh kesah mereka:

“Tetapi masa jaya itu tak bisa lagi kami nikmati. Grup band lain juga sama. Mereka nggak akan bisa mengulang prestasi yang pernah mereka raih sebelumnya. Kami pernah menjual album hingga 2 juta copy untuk album kedua. Album terakhir hanya 150.000 keping dengan susah payah. Penyebabnya adalah pembajakan.”

Grup papan atas seperti Peterpan juga berantakan penjualan albumnya, setelah pembajakan marak. Penjualan album Peterpan terbaru adalah salah satu buktinya. Double Platinum memang masih didapat tapi bicara angka penjualan, jauh di bawah biasanya.

Korban akibat pembajakan album sesungguhnya lebih banyak jatuh di pihak perusahaan rekaman. Tidak tahan menghadapi kondisi persaingan, sudah banyak perusahaan rekaman Indonesia yang gulung tikar. Jika masalah pembajakan tidak segera diatasi, jumlah anggota ASIRI yang kini hanya tinggal 70 label rekaman saja, setelah 117 anggotanya bangkrut, niscaya akan semakin sedikit. Para personil grup Letto bahkan mengganggap kondisi industri musik Indonesia sudah mulai sekarat. Jika tidak ada usaha yang konkrit, kondisi sekarat saat ini bukan tidak mungkin bisa berujung kematian

Indriati Yulistiani

{Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari tesis master penulis mengenai industri musik Indonesia yang akan segera dibukukan, dan juga dapat dilihat pada blog Beranda}

[Foto-foto diambil dari: www.liputan6.com; www.gudangmusik.blogspot.com; reunion.web.id; letto.blogs.friendster.com.]