Adegan Cium Itu …

Masih ingat ribut-ribut soal film Buruan Cium Gue di tahun 2004? Karena judulnya yang dianggap kontroversial, ditambah memang ada adegan cium di film tersebut, film besutan itu, ramai-ramai diprotes banyak orang. Tidak kurang dari ulama-ulama kondang Indonesia ikut berkomentar dan mendesak supaya film yang sudah terlanjur diloloskan Lembaga Sensor Film (LSF) itu ditarik dari peredaran.

Akhir cerita kita sudah tahu, film Buruan Cium Gue ditarik dari peredaran, walau kemudian muncul lagi berganti judul menjadi Satu Kecupan. Sang produser (Raam Pundjabi-Multivision) dan tentunya juga LSF, tidak mau dan tidak juga berani melawan suara (sebagian- besar/kecil?) masyarakat Indonesia. LSF bahkan mengaku kecolongan dalam peredaran film itu.

Sebetulnya tidak ada yang aneh ketika film yang dianggap tidak menjunjung tinggi nilai ketimuran serta tidak sesuai dengan etika moral bangsa Indonesia itu, menuai kontroversi. Reaksi (lagi-lagi harus dibilang sebagian) masyarakat adalah reaksi yang sudah bisa diduga. Walaupun harus dicatat juga banyak pihak dan kalangan yang justru menyesalkan kenapa film Buruan Cium Gue ditarik dari peredaran. Logika mereka sederhana, bukankah ciuman antar-remaja yang berpacaran bukan perilaku langka?

Kalau bicara mengenai adegan cium dalam film Indonesia, harus diakui Buruan Cium Gue bukanlah satu-satunya film yang mengandung adegan cium. Masih banyak film lain yang memiliki adegan serupa, bahkan dilengkapi berbagai adegan seks yang menggidikkan bulu roma. Tidak percaya? Coba anda buka koleksi film-film tahun ’80an.

Pertanyaannya, kenapa gunting sensor LSF (yang pernah bernama BSF- Badan Sensor Film) saat itu tidak tajam? Apakah film-film di masa itu yang mengumbar adegan sekitar paha dan dada, dianggap sesuai dengan norma bangsa Indonesia sehingga tidak mengundang protes keras?


Lolosnya Adegan Cium Sesama Jenis.

Jika adegan cium antar-sepasang kekasih (remaja laki-laki dan perempuan) sudah menimbulkan protes, bagaimana jika adegan yang sama dilakukan oleh pasangan sesama jenis? Logika sederhana akan menyatakan, mestinya reaksi dan protes yang muncul lebih keras. Sehingga adegan-adegan semacam itu akan tercincang habis. Nyatanya tidak demikian, seperti yang bisa kita lihat dalam film Arisan dan Coklat Stroberi.

Adegan ciuman dalam film Arisan menjadi tidak sekedar adegan cium karena dilakukan oleh dua tokoh gay. Adegan ciuman itu terjadi setelah adanya suasana intim yang dibangun di antara kedua tokoh. Pada saat itu, salah satu tokoh (yang diperankan oleh Tora Sudiro) baru mulai bisa menerima dirinya sendiri sebagai seorang gay. Penerimaan yang didorong hubungannya dengan tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra.

Lolosnya adegan mesra antar gay dari gunting Lembaga Sensor Film sebetulnya cukup mengagetkan. Meski adegan ciumnya tidak jelas terlihat, tapi pesan tentang adanya adegan yang sensual sangat terasa. Reaksi masyarakat umum terhadap adegan itu cenderung biasa saja. Film ini bahkan bisa dibilang sukses bila dilihat dari jumlah penontonnya. Di Jakarta saja pada 4 minggu pertama diputar telah meraup penonton hingga 100.000 orang.

Reaksi atas “tidak adanya reaksi” terhadap adegan cium antar-gay, justru banyak muncul dari kalangan gay. Di beberapa situs gay bahkan muncul artikel-artikel yang mempertanyakan mengapa adegan cium antar-gay bisa beredar bebas di layar bioskop. Belum lagi berbagai diskusi di beberapa chat room yang memuat berbagai komentar warga.

Nasib film Coklat Stroberi sama beruntungnya dengan Arisan. Padahal, lebih dari pendahulunya itu, film Coklat Stroberi jelas-jelas menampilkan adegan cium sesama jenis, berupa cium antar-pasangan gay dan lesbi. Tapi ”hebatnya”, adegan yang sebetulnya berpotensi untuk memunculkan kontroversi itu, lagi-lagi lolos. Penonton bebas menikmatinya di ruang-ruang bioskop.

Lantas bagaimana reaksi masyarakat? Sebelas dua belas alias tidak berbeda dengan film Arisan, yaitu tidak ada reaksi apalagi protes terhadap adegan itu. Kalaupun muncul perdebatan, justru menyangkut kualitas film atau masalah penggambaran kaum gay-lesbi yang dianggap tidak tepat. Soal cium pasangan sesama jenis, tampaknya aman dari hujatan.


Mengundang Birahi atau Sekedar Akibat Judul?

Dalam obrolan dengan beberapa sineas Indonesia, ada joke yang cederung disepakati. Joke itu berawal dari penjelasan LSF bahwa adegan ”panas” yang akan disensor, adalah adegan yang berpotensi mengundang birahi. Birahi siapa? Mungkin birahi para anggota LSF, yang semuanya heteroseksual itu. Birahi mereka hanya akan terbangkitkan, jika melihat adegan mesra antar-pasangan lawan jenis. Tapi tidak demikian halnya bila adegan mesra yang ditunjukkan dalam film, adalah adegan mesra homoseksual.

Para sineas juga punya trik untuk menghindari tajamnya gunting sensor LSF, yaitu dengan menghadirkan adegan panas (yang mereka yakini tidak akan terlewat sensor) untuk mengalihkan perhatian dari adegan ”agak panas” yang diharapkan tidak dibabat. Resep ini mungkin yang terjadi pada kasus Arisan. Adegan cium hilang tapi adegan mesra dan sensual lainnya tetap aman.

Jika alasan di atas dianggap bisa menjelaskan perilaku lembaga resmi penyensor, bagaimana penjelasan kita atas reaksi masyarakat? Mengapa masyarakat cenderung tenang-tenang saja dengan adegan mesra antar-pasangan sejenis? Padahal hubungan homoseksual belumlah menjadi pola hidup yang diterima masyarakat luas. Jika perilaku pasangan sejenis masih tabu, mengapa adegan kemesraan mereka di layar (perak dan kemudian setelah habis masa edarnya berpindah ke layar kaca) tidak menimbulkan kontroversi?

Apakah mungkin karena kebanyakan orang memang tidak menonton? Ataukah seperti dugaan sebagian orang bahwa reaksi itu muncul bukan karena adegannya tapi karena judul, resensi atau bahkan gunjingan orang? Jika kembali lagi melihat kasus film Buruan Cium Gue, indikasi itu mungkin ada benarnya. Judul Buruan Cium Gue-lah yang mengundang kontroversi. Karena soal isi, Buruan Cium Gue masih jauh lebih sopan dibandingkan banyak film lain yang beredar, tetapi aman dari reaksi, protes, apalagi hujatan.

Indriati Yulistiani.

(Referensi: Devi Asmarani, “Guy Kisses Guy, And Movie Crowds Lap It Up” dalam www.utopia-asia.com, 5 Januari 2004, Diskusi di BoyzForum! www.readybb.com, Devi Asmarani dan Tomi Soetjipto, “Gay Kiss Unlock Ancient Taboo” di http://thescotsman.scotsman.com)
[Foto: www.sctv.co.id, www.geocities.com/maayadbali/film1, http://phantermerahputih.wordpress.com]

Cita-cita: Menjadi Presenter Televisi

Tampaknya sudah mulai terjadi pergeseran cita-cita di kalangan anak-anak Indonesia dan para orangtuanya, sekarang ini. Jika dulu, para orangtua mencita-citakan anak-anaknya menjadi dokter atau insinyur, kini tak sedikit di antara mereka yang kepingin anaknya menjadi presenter televisi. Tak peduli apakah presenter berita atau presenter hiburan. Yang penting, tampil terkenal menjadi selebritis televisi.

Gejala ini terlihat sewaktu Liputan 6 SCTV menggelar acara Presenter Cilik selama sebulan penuh, sebagai bagian dari acara Dino’s Live atau Summer Holiday with SCTV and Dinosaurus, di Plaza Tenggara Senayan, Jakarta, 21 Juni hingga 20 Juli 2008. Acara ini terbuka untuk umum, terutama anak-anak, pengunjung Dino’s Live. Dengan hanya membayar 30 ribu rupiah per orang, anak-anak bisa tampil seperti presenter beneran. Membaca berita melalui teleprompter di depan kamera.

Aksi mereka di depan kamera selama sekitar lima menit ini, direkam ke dalam keping DVD. Hasil rekaman ini bisa mereka bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Sebelum direkam, para petugas magang dari SCTV akan membimbing mereka bagaimana cara membaca teleprompter.

Karena peserta acara presenter cilik ini tidak dibatasi usia, tak jarang tampil pula anak-anak yang masih balita (di bawah lima tahun) atau bahkan batita (di bawah tiga tahun), yang umumnya belum bisa membaca. Untuk anak-anak yang belum bisa membaca ini, para petugas harus bekerja ekstra keras menuntun mereka melafalkan kalimat-kalimat pengantar berita, kata demi kata, sambil direkam.

Maklum, acara ini memang dirancang layaknya siaran berita televisi yang sebenarnya. Presenter membacakan lead atau pengantar berita, lalu paket berita yang sudah direkam ditayangkan, setelah itu  membaca pengantar berita berikutnya. Ada tiga paket berita yang disiapkan untuk itu. Pura-puranya mereka sedang live dalam siaran Liputan 6 Terkini.

Minat pengunjung untuk mengikuti acara presenter cilik ini di luar dugaan. Penyelenggara terpaksa membatasi peminat paling banyak 60 peserta per hari, untuk Sabtu dan Minggu, dan 35 orang per hari untuk Senin hingga Jum’at. Dengan 35 orang per hari, para petugas masih bisa beristirahat untuk makan siang. Tapi dengan 60 orang per hari, para petugas tidak akan beristirahat selama 10 jam. Karena untuk setiap peserta, mulai dari persiapan sampai finalisasi DVD, dibutuhkan waktu sedikitnya 10 menit.

Para peserta yang sudah mendaftar rela menunggu berjam-jam untuk mendapat giliran shooting. Dalam beberapa kasus, meski kami sudah menutup pendaftaran, tak jarang ada orangtua anak-anak yang memaksa atau menghiba-hiba agar anaknya diikutsertakan. Atau, anaknya menangis karena ingin tampil di depan kamera.

Banyak alasan yang mereka kemukakan. Misalnya, mereka datang dari daerah yang sangat jauh dari Jakarta, dan ini merupakan satu-satunya kesempatan. Sebab besok mereka harus pulang ke daerahnya dengan penerbangan yang paling pagi. Untuk kasus-kasus seperti ini, kami mengalah, walau acara Dino’s Live sudah tutup untuk hari itu. Maka  stand SCTV pun menjadi satu-satunya oth di Dino’s Live yang bubar paling akhir.

Keinginan untuk tampil dalam acara Presenter Cilik, tidak selalu datang dari anak-anak. Para orangtua justeru memegang peranan yang paling besar. Banyak di antara para orangtua ini yang membujuk anak-anaknya untuk tampil. Bahkan ada yang dengan cara memaksa, meski anaknya tidak mau. Tentu saja sebagian besar keiikutsertaan dalam acara ini, muncul dari anak-anak, yang memang bercita-cita menjadi presenter televisi.

Maka tampillah mereka di depan kamera, dengan berbagai gaya. Ada yang tampil serius layaknya presenter berita. Ada yang bergenit-genit sepeti presenter infotainmen atau presenter hiburan. Umumnya mereka puas, karena telah berhasil tampil di “layar televisi”. Tidak usah dijelaskan bagaimana cara mereka melafalkan berita. Sebagai anak-anak yang belum terlatih, kualitas mereka masih jauh di bawah standar. Tetapi minat mereka, antusiasme mereka, sungguh luar biasa.

Dalam beberapa obrolan dengan para orangtua peserta, tertangkap kesan bahwa mereka umumnya kepingin anaknya menjadi presenter televisi, bila sudah dewasa kelak. Begitu pula anak-anaknya. Tak sedikit yang mengira bahwa acara Presenter Cilik tersebut adalah semacam audisi untuk rekruitmen presenter, dan terlihat kecewa setelah dijelaskan bahwa acara ini hanya sekedar ajang untuk menghibur anak-anak.

Minat yang sangat besar ini, sedikit banyak membuktikan bahwa profesi presenter televisi telah menjadi impian banyak orang. Jangan-jangan memang telah terjadi semacam pergeseran cita-cita, dari dokter atau insinyur, menjadi presenter televisi. Apalagi memang sudah banyak contoh, adanya dokter atau insinyur yang beralih profesi menjadi presenter televisi. Mungkin inilah yang disebut sebagai keberhasilan “sihir televisi”. Begitulah.

Billy Soemawisastra.

[Foto-foto: Dokumentasi Humas SCTV. Tulisan ini juga dapat dilihat di blog Liputan 6 SCTV]