Orang Indonesia Malas Membaca?

Andrea Hirata sangat gembira karena tiras penjualan buku Laskar Pelangi sudah berada di atas angka 700 ribu eksemplar, pada penghujung tahun lalu. Kemudian Maryamah Karpov, bagian terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi yang baru diterbitkan di akhir 2008, jumlah penjualannya sudah menembus angka 150 ribu eksemplar. Tentu saja Andrea harus gembira, karena sangat jarang di Indonesia, ada buku yang bisa laris terjual hingga ratusan ribu eksemplar.

laskar-pelangi

Tetapi mari bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah berada di atas 200 juta jiwa. Angka 700 ribu, belumlah mencapai lima persen dari keseluruhan populasi. Itu artinya, sangat sedikit sebenarnya, orang Indonesia yang membaca dan membeli novel-novel laris karya Andrea Hirata. Dan, jauh lebih sedikit lagi, jumlah orang Indonesia yang membaca novel-novel karya para pengarang lainnya. Padahal untuk membaca novel, orang tidak perlu berpikir keras. Ikuti saja alur ceritanya, sambil menikmati ungkapan-ungkapan kalimat yang disajikan sang pengarang.

Lantas, kalau karya-karya fiksi saja tidak begitu banyak yang mau membacanya, bagaimana dengan karya-karya nonfiksi yang membuat pembacanya harus mengerutkan dahi? Atau, tengok saja oplah surat kabar di Indonesia. Kompas, surat kabar harian terkemuka itu, oplahnya “hanya” 530 ribu eksemplar, dan jumlah tiras ini nyaris stagnan sejak 2004.

Data-data ini menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia di era globalisasi ini, terbukti masih sangat minim. Jangan bilang hal itu terjadi karena harga-harga buku dan koran masih mahal. Sebab jika diukur dari pendapatan per kapita masyarakat Indonesia, yang kini mencapai 1.946 dolar Amerika, atau sekitar 21.500 rupiah per hari, harga buku yang berkisar antara 50-100 ribu rupiah per buah, sebenarnya tergolong murah.

Membeli buku tentunya tidak perlu setiap hari. Satu judul buku per bulan saja, sudah sangat memadai untuk menambah wawasan. Apalagi koran yang harganya paling mahal 3.500 rupiah per eksemplar. Mestinya, setiap hari, setiap keluarga di Indonesia minimal bisa membeli sebuah surat kabar. Karena untuk membeli sebungkus rokok yang rata-rata berharga 10 ribu rupiah saja, mereka mampu.

toko-buku

Masyarakat peminat baca di toko buku.

Kalau sebagian besar masyarakat Indonesia dianggap tidak mampu membeli buku dan koran, dengan asumsi hampir 50% penduduk Indonesia masih tergolong miskin, tentunya masih ada orang-orang kaya yang mampu untuk itu. Kita asumsikan saja, ada sekitar 10 persen atau 20 juta penduduk Indonesia yang tergolong mampu. Jika separuhnya saja dari orang-orang kaya ini membeli buku, berarti akan ada buku yang yang bisa terjual hingga 10 juta eksemplar. Atau, setidaknya 5 juta eksemplar. Atau setidaknya lagi satu juta eksemplar. Kenyataannya, tak ada buku yang mampu mencapai tiras penjualan hingga satu juta eksemplar. Begitu pula surat kabar.

Membaca Belum Menjadi Kebutuhan?

Tampaknya belum. Karena sebagian besar rakyat Indonesia, masih berkutat memenuhi hajat hidupnya yang paling utama, yakni pangan dan sandang. Belum lagi kebutuhannya untuk memperoleh tempat berteduh alias rumah, dan membiayai pendidikan anak-anaknya, yang wow … selangit mahalnya. Itu, bagi yang kurang mampu. Sementara di kalangan masyarakat yang lebih mampu, membeli barang-barang konsumtif (yang bukan merupakan kebutuhan pokok) agaknya lebih dianggap penting ketimbang membeli buku. Lihat saja pasar telepon selular di Indonesia, yang setiap harinya terjual rata-rata delapan ribu unit, atau hampir tiga juta unit per tahun. Padahal harga handphone termurah berkisar 200-300 ribu rupiah per unit. Jauh lebih mahal dibandingkan harga buku.

toko-handphone1

Toko handphone.

Itulah Indonesia, yang menurut beberapa ahli, mengalami loncatan budaya, dari budaya bertutur ke budaya menonton. Tanpa melalui budaya membaca terlebih dulu. Ini bisa dilihat dari angka penjualan pesawat televisi yang rata-rata mencapai 300 ribu unit per bulan, atau enam juta unit per tahun. Sementara harga pesawat TV, paling murah 500 ribu rupiah per unit.

penjualan-tv

Salah satu pusat penjualan pesawat TV.

nonton-tv

Orang Indonesia lebih suka nonton TV.

Pertanyaannya sekarang, adakah buku yang mencapai tiras penjualan 3-6 juta eksemplar per tahun, seperti pesawat handphone dan TV? Andrea Hirata saja harus menunggu beberapa tahun, untuk mencapai tiras 700 ribu eksemplar. Tetapi ketika Laskar Pelangi difilmkan, jumlah penontonnya bisa membludak hingga empat juta orang, hanya dalam waktu satu setengah bulan (www.tempointeraktif.com, 14 November 2008).

poster-laskar-pelangi

Kesimpulannya? Orang Indonesia umumnya memang malas membaca. Orang Indonesia lebih suka menonton bioskop dan televisi ketimbang membaca buku atau koran. Orang Indonesia lebih gemar membeli handphone daripada membeli buku dan sumber bacaan lainnya. Jadi, kalau usaha penerbitan dan penjualan buku hingga kini masih tertatih-tatih, jangan salahkan harganya. Jangan salahkan pula kemiskinan.

Lalu siapa yang harus disalahkan? Entahlah. Wong di era globalisasi ini, ternyata masih ada orang Indonesia yang buta huruf. Jumlahnya cukup signifikan, 10,16 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas, masih buta aksara. Data ini disampaikan Mendiknas Bambang Sudibyo pada Hari Aksara Internasional bulan September 2008. Nah, bagaimana mungkin meminta mereka membeli buku, bila mengenali aksara saja belum bisa. Kalau begitu, Anda pasti bilang yang salah itu adalah sistem pendidikan di Indonesia. Tapi jangan salahkan Mendiknas sekarang, karena Pak Bambang Sudibyo itu baru beberapa tahun saja jadi Mendiknas. Nanti, kalau Mendiknas-nya sudah berganti, jangan pula berharap keadaan akan berubah. Ha ha ha

Billy Soemawisastra

[Sumber Tulisan & Foto: www.laskarpelangithemovie.com, www.handphoneshop.co.id, www.hartonoelektronika.com, www.clickbookshop.com, mystique.blogsome.com]

Bung, Di Mana Kini Kau Berada?

Bung, di mana kini kau berada

Bertahun lamanya kita berpisah

Tak tentu di mana rimbanya

Semenjak …

Malam itu kita bersua

Bung, bilakah kau akan kembali

Gelisah …

Tak sabar hamba menanti lagi.


Kalimat-kalimat di atas, merupakan cuplikan lirik lagu “Bung di Mana” yang dipopulerkan Diah Iskandar pada sekitar tahun 1960-an. Sayangnya, saya tidak ingat lagi siapa penciptanya (Ada yang tahu?).


Sejak era revolusi fisik (1940-an) hingga 1960-an, memang tak sedikit pencipta lagu pop maupun lagu perjuangan, yang mencantumkan panggilan “Bung” dalam lirik lagunya. Mungkin Anda, atau Ayah Anda, atau Kakek Anda, masih ingat dengan lirik lagu sebagai berikut: … waktu semalam Bung/aku bermimpi/digigit ular Bung/ besar sekali.


Kemudian, keterlaluan saja kalau Anda tidak ingat lagi dengan lirik lagu yang berbunyi: … Mari Bung rebut kembali … Itu lirik penutup lagu perjuangan karangan Ismail Marzuki, untuk menyemangati para prajurit Siliwangi yang tengah berjuang merebut kembali Bandung dari tentara Belanda, dalam peristiwa “Bandung Lautan Api”.


Bung Karno


Memasuki dekade 1970-an hingga sekarang, lagu-lagu yang mencantumkan panggilan “Bung” tak pernah lagi diciptakan, seiring surutnya panggilan Bung dalam pergaulan masyarakat Indonesia. Panggilan Bung, yang terasa lebih demokratis karena tidak membeda-bedakan strata sosial ataupun rentang usia, kembali digantikan dengan panggilan yang feodalistik: Bapak. Atau panggilan primordialistik: Mas, Akang, Abang.


Bung Hatta


Saya tidak tahu siapa yang mulai mempopulerkan panggilan Bung. Tetapi kemungkinan besar, panggilan Bung mulai muncul ke permukaan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.


Saat itu, para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta, dengan membawa berbagai kekhasannya, termasuk kekhasannya dalam memanggil sesama teman. Pemuda dari Jawa tengah dan Jawa Timur, misalnya, akan terbiasa memanggil temannya dengan sebutan Mas. Sebutan itu tentu saja terasa asing bagi para pemuda dari daerah lainnya. Sebut saja bagi para pemuda Pasundan yang biasa menggunakan panggilan Akang.


Untuk itu diperlukan suatu panggilan yang bersifat umum dan terasa lebih demokratis, egaliter, tidak membeda-bedakan usia, suku dan golongan. Maka muncullah panggilan Bung. Panggilan Bung, kemudian menjadi semakin populer di kalangan para pejuang kemerdekaan RI. Terutama setelah para pendiri Republik, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir, memberikan contoh dengan menyebut diri mereka: Bung.


Bung Syahrir


Para pejuang kemerdekaan akan menyapa teman-teman seperjuangannya dengan seruan: Merdeka, Bung! Panggilan Bung pun sering terdengar, baik dalam pertemuan formal maupun informal, bahkan masuk pula dalam karya sastra. Salah satunya termaktub dalam puisi Chairil Anwar, Antara Krawang-Bekasi:


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir


Pernah, di masa Orde Baru, para deklamator tidak berani membaca baris-baris: menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Syahrir … Baris-baris tersebut dibuang begitu saja, sehingga puisi Chairil Anwar yang satu ini, menjadi tidak utuh lagi. Bukan karena alergi terhadap panggilan Bung, tetapi lantaran takut dicap antek-antek Soekarno, atau antek-antek Orde Lama.


Tiga serangkai: Bung Syahrir, Bung Karno, Bung Hatta


Tetapi panggilan Bung memang perlahan menghilang, sejak Soeharto menjadi Presiden RI. Encyclopaedia Americana volume lama yang terbit tahun 1970-an, secara khusus menulis dalam bab tentang Soeharto, bahwa panggilan Bung, sejak Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI, digantikan dengan panggilan Bapak. Dan, panggilan seperti itu tampaknya sesuai bagi masyarakat Indonesia yang paternalistik.


Bukan soal paternalisme, sebetulnya. Namun lebih disebabkan hirarki dalam ketentaraan. Tentara diharuskan memanggil Bapak kepada atasannya, atau kepada orang yang pangkatnya lebih tinggi. Ini berlaku secara universal di kalangan militer. Di Amerika Serikat saja, yang mengklaim sebagai negara paling demokratis pun, para prajuritnya diwajibkan memanggil Sir, kepada atasannya.


Di zaman revolusi fisik, panggilan Bung memang lebih populer di kalangan pejuang sipil, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo, Bung Chairul Saleh, Bung Adam Malik. Sedangkan di kalangan militer panggilannya memang tetap Pak, seperti Pak Dirman, Pak Nasution, Pak Harto, Pak Simatupang, Pak Kawilarang, Pak Urip.


Bung Tomo


Jadi wajarlah. Ketika republik ini dipimpin orang sipil (Soekarno), panggilan Bung bergaung dari Sabang sampai Merauke. Tetapi tatkala pimpinannya digantikan orang militer (Soeharto), panggilan Bapak merebak ke seluruh negeri. Lalu mengapa Habibie dan Abdurrahman Wahid yang notabene orang sipil tidak lantas dipanggil Bung sewaktu menjabat Presiden RI? Mungkin karena Habibie sudah keenakan dengan panggilan Bapak sejak ia masih menjabat Menteri, dan Abdurrahman Wahid sudah terlanjur akrab dengan panggilan Gus sejak masa kanak-kanak. Maklum, dia kan anak Kiyai.


Di masa Soeharto, sebenarnya masih ada pejabat pemerintah yang lebih suka dipanggil Bung, yakni Bung Adam Malik. Dia memang salah seorang pejuang sipil di zaman revolusi kemerdekaan. Tatkala Adam Malik meninggal dunia, majalah Times menulis in memoriam tentang mantan wakil presiden ini, dengan judul: The Last Bung.


Bung Adam Malik


Bila ukurannya adalah pejabat pemerintah, Adam Malik sebenarnya bukan The Last Bung. Masih ada pejabat lainnya yang berusaha keras agar dipanggil Bung, yakni Bung Abdul Gafur dan Bung Harmoko.


Bung Gafur memang sudah biasa dipanggil Bung di kalangan Angkatan ’66 (yang rata-rata dilahirkan pada zaman revolusi). Sedangkan Bung Harmoko adalah wartawan sekaligus seniman, dan panggilan Bung sampai sekarang pun masih digunakan di kalangan kedua profesi tersebut. Paling tidak di kalangan wartawan tua dan seniman tua.


Bung Mochtar Lubis, dalam pidato kebudayaannya tentang “Ciri Manusia Indonesia” di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1977, mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali menggunakan panggilan Bung kepada siapapun, sebagai salah satu upaya membudayakan perilaku demokrasi. Tetapi ajakan Mochtar Lubis ini tampaknya tidak berhasil, bahkan di lingkungannya sendiri.


Sebagai bukti, sewaktu saya menemui Mochtar Lubis di kantornya, kantor penerbit Yayasan Obor Indonesia, pada sekitar tahun 1980-an, saya tidak menemukan satu orang pun bawahan atau pegawai Bung Mochtar, yang memanggilnya Bung. Semuanya memanggilnya Bapak. Saya tidak sempat bertanya mengapa Bung Mochtar tidak melarang pegawainya memanggilnya Bapak.

Sekarang, panggilan Bung sudah nyaris sirna. Kalaupun masih ada yang menggunakannya, tetaplah angkatan tua, seperti saya, atau orang-orang yang lebih tua dari saya. Mungkin masih ada kalangan muda yang menggunakannya, namun jumlahnya sangat sedikit. Saya pernah ditertawakan oleh yunior saya, sewaktu saya memanggilnya Bung. Dia bilang, “kayak pejuang kemerdekaan aja.” Temannya (yang juga yunior saya) menimpali, “jadul banget …”

Jadul alias kuno, itulah pandangan anak-anak sekarang terhadap panggilan Bung. Tetapi yang lebih memprihatinkan, tak sedikit orang tua atau orang yang merasa dituakan, tersinggung ketika dipanggil Bung. Panggilan Bung yang diucapkan oleh orang yang lebih muda, dinilainya sebagai kelancangan. Orang-orang ini lebih merasa dihormati jika dipanggil Bapak.

Sayangnya, negeri ini terlalu machoistic, tidak ada panggilan yang setara Bung, untuk perempuan. Ada sih, yaitu Mbak. Tapi panggilan Mbak sangat terasa Jawa. Meski untuk sementara, bolehlah.

Untuk sementara juga, mari kita populerkan kembali panggilan Bung. Itu pun kalau Anda mau. Saya ingin panggilan Bung kembali membumbung. Tetapi, Bung, di mana kini kau berada?

Billy Soemawisastra

[Foto-foto: www.tokohindonesia.com, kolomsejarah.wordpress.com, www.swaramuslim.com]