Beringharjo dan Mega-Mega


Setiap kali saya melintas di depan Pasar Beringharjo Jogjakarta, saya selalu teringat pada naskah drama “Mega-Mega” karya almarhum Arifin C. Noer, yang ia tulis antara tahun 1964-1966. Naskah drama – yang mendapat penghargaan sebagai Lakon Sandiwara Terbaik dari Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) 1967 – itu menceritakan kehidupan para gelandangan dan preman di pinggiran Pasar Beringharjo.

Tampak depan Pasar Beringharjo.

Mega-Mega, seperti umumnya naskah-naskah drama yang ditulis Arifin C. Noer, adalah lakon tentang manusia-manusia yang terpinggirkan. Manusia-manusia yang bergulat mengatasi kesengsaraan dengan segala cara, dan mencoba menikmati kesengsaraan itu meskipun dengan nafas yang megap-megap.

Naskah ini pernah saya pentaskan pada akhir 70-an, bersama para remaja asuhan saya yang tergabung dalam grup Teater Gemanti (Generasi Masa Nanti) Jakarta Timur, sebagai keikutsertaan kami pada Festival Teater Remaja se-DKI Jakarta, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Naskah drama karya Arifin C. Noer ini memang merupakan favorit para teaterawan remaja saat itu. Selain karena plot-plotnya yang mudah dibedah, naskah ini tidak terlalu banyak membutuhkan pemain.

Hanya ada tujuh tokoh dalam lakon drama ini, yakni Ma’e, Retno, Koyal, Panut, Tukijan, Hamung dan seorang Pemuda tanpa nama. Jadi tidak perlu mengumpulkan banyak orang untuk mementaskan lakon drama ini. Namun setiap tokoh Mega-Mega, mempunyai karakter yang khas dan kuat, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk “menghidupkannya” di atas pentas.

Mega-mega, yang juga berarti “awan-gemawan” adalah atap rumah suatu kelompok manusia marjinal, yang membentuk sebuah keluarga karena kesamaan nasib. Setiap malam, setelah sepanjang siang mereka mencari makan di sekitar pasar Beringharjo, keluarga yang mempunyai seorang ibu bernama panggilan Ma’e itu bercengkerama di sebuah lapangan luas beratapkan langit. Di situlah mereka bersama-sama merenungi dan menertawakan nasib, sambil “membunuh sepi” agar malam segera berlalu. Dan, esok harinya, mereka akan kembali berkeliaran di pasar Beringharjo yang kumuh dan becek.

Kumuh dan becek. Itulah gambaran pasar Beringharjo yang tersirat dalam lakon drama tersebut, dan konon seperti itu pulalah kenyataannya pada dekade 60-an. Sebuah pasar tradisional yang belum tertata dengan baik. Gambaran ini jualah yang menyebabkan saya tidak pernah tertarik untuk memasuki pasar Beringharjo, walau berulang-kali saya mengunjungi Jogja, dan berulang-ulang saya mengitari jalan Malioboro. Padahal pasar yang legendaris ini letaknya tak terpisahkan dengan jalan Malioboro, pusat wisata belanja kota Jogja.  

Jalan Malioboro di siang hari.

Ketidaktertarikan terhadap pasar bersejarah ini terus berlangsung sampai saya menikahi Indri. Isteri saya ini sangat gandrung bahkan nyaris tergila-gila pada pasar Beringharjo. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar Beringharjo setiap kali kami berlibur atau bertugas di Jogjakarta. Dan, saya, lebih suka memilih untuk tetap beristirahat di hotel, atau berjalan kaki di pinggiran jalan Malioboro dan mengacak-acak toko Mirota Batik, ketimbang harus menemani Indri memasuki gang-gang sempit di pasar Beringharjo.

“Batiknya bagus-bagus dan murah-murah,” kata isteri saya setiap kali pulang dari pasar Beringharjo dengan sejumlah kantong kresek berisikan kain dan baju batik untuk pria dan wanita.

“Yang ini harganya cuman 20 ribu, yang ini 50 ribu, yang ini 75 ribu. Nah yang ini agak mahal, 100 ribu. Tapi batiknya dan jahitannya memang bagus,” celoteh Indri sambil memperlihatkan barang-barang belanjaannya. “Ini semua oleh-oleh untuk keluarga kita. Bukan untuk kamu. Kamu kan gak suka batik.”

Saya memang tidak terlalu suka pada pakaian bermotif batik. Bodo amat. Meskipun bakal dicap tidak mencintai produk lokal buatan bangsa sendiri, kalau tidak suka memang kenapa? Ini kan soal selera. Ya, sesekali suka juga saya pakai baju batik kalau pergi kondangan – itu pun kalau dipaksa isteri saya. Tetapi bukan karena kekurangsukaan saya terhadap batik, yang membuat saya malas memasuki bagian dalam pasar Beringharjo. Melainkan, ya itu tadi, kesan yang membekas di kepala saya: kumuh dan becek.

“Itu kan tahun 60-an,” kata isteri saya. “Coba deh. Sekali saja kamu ikut aku ke pasar Beringharjo, pasti kamu kaget.”

Hingga pada suatu hari, saya paksakan diri mengikuti sang isteri memasuki pasar Beringharjo. Dan, benar saja, kesan becek dan kumuh itu seketika menghilang. Pasar Beringharjo, ternyata sebuah pasar yang megah, bersih, rapi, tertata dan apik. Batik, batik dan batik sepanjang mata memandang. Mulai dari batik tradisional hingga batik kontemporer, ada di sini. Harganya beragam, mulai dari yang 20 ribuan hingga di atas 100 ribuan rupiah. Meskipun tetap saya kurang menyukai batik, namun deretan batik beraneka model dan corak itu, membuat saya terpana.

Pusat belanja batik.

Pasar Beringharjo, menurut gudeg.net, berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar yang semula merupakan tanah berlumpur, agak becek dan banyak pohon beringinnya. Pada tahun 1758, Sultan Jogja yang bertahta pada saat itu, menjadikan wilayah ini sebagai tempat pertemuan rakyat. Lalu rakyat setempat pun membangun payon-payon sebagai peneduh.

Tahun 1925, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan  pemerintah Hindia-Belanda memandang perlu untuk membangun pasar sebagai pusat transaksi niaga rakyat Jogja di atas lahan tersebut. Los-los pasar pun dibangun dengan menggunakan konstruksi beton, dan selesai setahun kemudian (1926). Nama Beringharjo diberikan setelah bertahtanya Sri Sultan Hamengku Bowono IX. Selain untuk mengenang cikal-bakal pasar yang semula merupakan hutan beringin, juga lantaran beringin adalah lambang kebesaran dan pengayoman bagi masyarakat Jawa.

Pasar Beringharjo pernah direnovasi pada tahun 1951 dan 1970, dan pernah pula terbakar pada tahun 1986. Perbaikan demi perbaikan pasar Beringharjo terus berlangsung dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan, sekarang, pasar Beringharjo adalah pasar yang megah terdiri atas tiga lantai, dengan produk utama tekstil, khususnya batik. Di sini juga terdapat banyak jajanan pasar.

Pasar tradisional tiga lantai.

Sekarang, justru sayalah yang selalu mengajak isteri saya untuk berkunjung ke pasar Beringharjo, setiap kali kami bertandang ke Jogja. Menyaksikan isteri saya mengobrak-abrik tumpukan batik bersama kaum ibu lainnya, dan bertransaksi secara tradisional dengan para pedagangnya yang ramah-ramah, sungguh merupakan pertunjukan yang cukup menghibur hati. Tak ada lagi kekumuhan di pasar ini. Tak ada lagi tanah becek. Meski Mega-Mega tetap berarak di langit Jogja, dan melintas di atas pasar Beringharjo.

Billy Soemawisastra

About these ads

One thought on “Beringharjo dan Mega-Mega

  1. Saya sempat mengunjungi beringharjo di saat masih Becek, tapi itu sekitar tahun 80-an yang katanya sudah di renovasi sekitar th 60-70 an. Jadi g bisa bayangkan sebecek apa dan kumuhnya disitu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s