Adegan Seks Berbalut Film Horor


Betulkah film Indonesia bangkit kembali? Jika menilik jumlah film Indonesia yang dibuat setiap tahun, angka-angkanya memang terlihat meningkat dengan cukup meyakinkan. Jika di tahun 2007 sekitar 53 film Indonesia diproduksi, di tahun 2008 angkanya sudah menjadi 87 film. Jumlah 100 film yang  diproduksi dalam waktu 1 tahun, bahkan sudah terlampaui di tahun 2009 lalu.

Secara kasat mata, coba saja lihat gedung-gedung bioskop di sekitar Anda. Setidaknya, dalam satu masa pemutaran, ada 1 film Indonesia. Sering kali dari (biasanya) 4 teater, 2 hingga 3 teater di antaranya  memutar film Indonesia.

Namun kalau dilihat lebih cermat, ada satu fenomena menarik. Film-film Indonesia yang diproduksi dan tentunya diputar di bioskop belakangan ini, sebagian di antaranya adalah film horor. Masalahkah itu?

Bumbu Seks dalam Film Horor Indonesia

Banyaknya film horor, seharusnya bukan masalah. Apalagi ternyata genre film yang muncul di Indonesia sejak tahun 1941 melalui Film Tengkorak Hidoep ini juga diminati banyak penikmat film tanah air. Sebut saja film Sundel Bolong yang menjadi Film Terlaris III di Jakarta di tahun 1981 setelah ditonton 301.280 orang.

Di tahun 1982, film Nyi Blorong bahkan menjadi Film Terlaris I di Jakarta 1982, dengan jumlah penonton 354.790. Penonton sebanyak itu, mampu membuat Nyi Blorong menggondol Piala Antemas FFI (Festival Film Indonesia) untuk Film Terlaris 1982-1983.  Di tahun-tahun lain, film-film horor juga terus mampu meraup jumlah penonton yang besar. Kalaupun tidak menjadi yang terlaris, pendapatan dari pembeli tiket bioskop dapat memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Lantas, di mana masalahnya?

Masalahnya adalah, bumbu adegan seks yang banyak ada di film-film horor Indonesia. Malahan di sebagian film horor, adegan seks tidak lagi menjadi sekedar bumbu. Adegan seks seakan menjadi bahan dasar dalam racikan film.

Beberapa adegan dalam film  “Suster Keramas”.

Adegan seks yang berbalut film horor seakan membenarkan kekhawatiran saya tentang berulangnya peta tema film Indonesia (baca: Adegan Berulang di Film Indonesia). Sama seperti di masa lalu, sebelum perfilman Indonesia mati suri, setelah era film komedi, layar perak diambil alih oleh film esek-esek.

Siasat Membalut Seks dengan Horor

Adalah kreativitas para sineas Indonesia untuk membalut seks dengan label film horor. Kreativitas yang makin lama, makin menjadi. Dari sedikit, adegan seks makin merajalela di film-film horor anak negeri. Melihat judul-judulnya saja, aroma seks sangat terasa. Sebutlah film Hantu Puncak Datang Bulan, Suster Keramas, Diperkosa Setan dan masih banyak lagi.

Belakangan, banyaknya adegan seks di film (horor) Indonesia membuat gerah banyak pihak. Kecaman dan ancaman dikeluarkan berbagai organisasi dalam berbagai bidang tapi para sineas tetap bergeming. Film-film sejenis tetap mengisi layar perak di tanah air, bahkan diekspor hingga ke negara tetangga serumpun.

Cara para pembuat film menyiasati kecaman dan ancaman juga makin kreatif. Tentu belum hilang dari ingatan kita, pro dan kontra diimpornya Miyabi, bintang film porno Jepang, untuk membintangi film Menculik Miyabi. Miyabi memang gagal datang tapi Rin Sakuragi, rekan seprofesi Miyabi di negeri Sakura, tiba-tiba menyengat dengan adegan-adegan berbau syahwat di film Suster Keramas.

Dewi Persik dalam film “Paku Kuntilanak”.

Tidak hanya artis impor, artis lokal juga tidak kurang berani. Tidak sekedar memperlihatkan paha dan dada, nama-nama seperti Andi Soraya, Julia Perez dan Dewi Persik mau beradegan berani dengan pameran bagian tubuh yang vital meski hanya beberapa detik. Jika begini kondisinya, di mana peran LSF?

Memotong Sedikit, Menyisakan Banyak

Sekian detik atau menit adegan berani yang lolos sensor seringkali menimbulkan pertanyaan, masihkah ada peran LSF? Pertanyaan ini rasanya sering muncul dalam diskusi dengan rekan-rekan media. Jawabannya, LSF (Lembaga Sensor Film) tentu akan bilang mereka sudah garang.

Mereka memang sebisa mungkin masih meloloskan film. Alasannya, jika banyak film tidak bisa tayang tentu banyak biaya terbuang. Produser bisa malas lagi membuat film dan industri film Indonesia bisa kembali tidur panjang.

Meski begitu, LSF menjamin gunting sensor tetap tajam. Tidak sedikit adegan panas yang masuk sampah terkena sensor. Misalnya, untuk film Hantu Puncak Datang Bulan. Film dengan suguhan Andi Soraya yang membuka bra serta akting panas Trio Macan ini menurut Muklis Paeni, Ketua LSF, sudah dipotong lebih dari 100 meter.

Adegan pembangkit syahwat

di film “Hantu Puncak Datang Bulan”.

Angka 100 meter film terkesan sangat banyak. Tapi sesungguhnya dalam hitungan waktu atau durasi, berapakah durasi dari 100 meter film? Dengan menggunakan standar 24 frame per detik untuk film bioskop yang biasanya berformat 35 mm maka dalam 100 meter ada 5249,2 frame (bisa dihitung sendiri menggunakan film calculator)  Jika tiap detik ada 24 frame, maka 5249,2 frame berdurasi 218,7 detik yang setara dengan sekitar 3,5 menit.

Durasi 3,5 menit tentu tidak lagi memperlihatkan angka yang besar. Apalagi harus diingat ada 1 resep jitu yang dipakai pembuat film: kasih adegan yang sangat vulgar sehingga adegan vulgar bisa tertutup dan akhirnya lolos sensor.

Nah jika sudah begini, tinggal penonton yang menentukan. Apakah mau terus dicekoki adegan seks dalam beragam variannya? Jika kembali mengaca pada sejarah termasuk sejarah perfilman Indonesia, saya percaya akan ada titik jenuh. Penonton akan bosan dan kembali menjauhi bioskop dengan film Indonesia. Kondisi ini pernah terjadi hanya sesaat sebelum dunia film Indonesia mati suri. Relakah kita perfilman Indonesia yang baru seumur jagung bangkit harus kembali tidur panjang…..???

Indriati Yulistiani

About these ads

36 thoughts on “Adegan Seks Berbalut Film Horor

  1. Sungguh heran juga ya? kok Badan Sensor Film masih meloloskan film2 aneh gitu… Terus terang saya kurang suka dengan perfileman Indonesia yang asal jadi seperti saat ini. Maklum Direktur dan sutradaranya adalah orang2 muda yang asal jadi dan tidak memiliki talenta yg cukup untuk menandingi kualitas film seperti yg disutradarai oleh para senior2 di dunia perfileman seperti Dedy Mizwar.
    Harapan saya suatu saat kelak muncul satu generasi perfileman yg bisa mengangkat film Indonesia di mata Internasional dan layak di tonton oleh siapa saja.
    Salam Kenal

  2. mungkin sekarang adalah zaman dimana kreativitas perfilman hanya dituntut untuk mengikuti hukum pasar, Yang mana dalam hukum pasar hanya mementingkan laku atau tidak di prodak /film tersebut. tanpa mau melihat apa efek negatif yang bisa di biaskan oleh dari bentuk cerita-cerita berbau sensualitas dan pornoaksi. harapan saya sebagai penikmat film, kedepannya kreativitas dalam berkarya haruslah memiliki tanggung jawab moril, sehingga hasil karya dapat membangun manusia bukan hanya sekedar menghibur. salam kenal
    salut untuk artikelnya..

  3. fil horor Indonesia kdang msih terlalu kasar dlm proses pembutannya!!! Nggk ada lah,,, penampakan yg menyentuh tanah. Jd kurang detail dlm msalah yg sepele spt ini, stidaknya mendekati aslinya.

  4. salam sejahtera kepada pembuat film2 yang ada di indonesia,, saya sebagai warga negara indonesia sangat bangga sekali karna film2 kita ini sudah beranjak di seluruh dunia,,, saya mau bertanya, kalau menurut anda kira2 kalau membuat film yang tidak menyangkut hal2 yang aneh seperti halnya pornografi itu bisa terkenal ngga ya?????

  5. film sich film tapi gak usah kaya gitu kali, ngerusak moral bangsa tau.
    saya bangsa indonesia sangat kecewa dengan film seperti itu.
    KITA INI HIDUP DENGAN BUDAYA YANG BAIK TAU…………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. Sangat disayngkan perfilm Indonesia saat2 inI yg dengAN mudahNY melOloskan adEgan2 yG sePatutnY tidak baIk dI tAyangkan.. APa kta duNIa ?? kTnya Indonesia negara yG cInta budaya

  7. Terima kasih untuk semua komentar yang masuk ke tulisan ini… Sekedar berbagi pikiran saja, menilai kondisi perfilman Indonesia masa kini memang tidak bisa dilihat hitam dan putih. Agar adil kita harus melihat bahwa ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi. Ada banyak tekanan yang juga tentunya dialami oleh para pekerja film. Faktor produser, penonton sangat besar, pun tekanan dari mereka. Tuntutan tak lagi sekedar kualitas tapi kuantitas (dalam nama rupiah). Walaupun ini tentunya bukan alasan mereka tidak memperdulikan yang lain (termasuk nilai dan moral) hanya sekedar untuk rupiah. Harus adil juga melihat bahwa para pelakunya bukan hanya kalangan sineas muda. Banyak yang tua yang konsisten menghasilkan film dengan banyak unsur seks. Di sisi lain, banyak pula sineas muda yang menghasilkan film-film ciamik dari segi kualitas. Selanjutnya pengaruh penonton yang menentukan, film mana yang mau dilihat sehingga tidak gagal di pasar. Mungkin kalau penonton se-Indonesia mau bersepakat hanya melihat film berkualitas tidak ada lagi tempat untuk film-film yang hanya menyajikan adegan seks, apapun balutannya…

    • kita sampai pada sebuah titik dimana semua hal dianggap abu-abu dan absurd. selalu ada pembenaran untuk setiap kesalahan. kita tidak perlu membenarkan kebiasaan tetapi biasakanlah kebenaran.

  8. karena mungkin para penulis belum mencari literatur literatur cerita yang mereka angkat. jd kesan yang muncul hampir sama dngn profil yang berbada.;
    krn kita harus perpegang teguh bahwa karya yang setengah setengah hasilnya pun segitu.karya yg luar biasa hasilnyapun memuasakan.
    jd tak harus sex yg mngikuti film film

  9. tulisannya bagus mba, boleh ga kalo topik tersebut saya angkat sebagai penelitian tesis. sudah lama saya geram dengan perfilman indo yang isinya adegan2 syur…saya ingin mengupas lebih jauh ttg hal tsb, siapa tau nanti hasilnya bermanfaat utk masyarakat luas.amin..

    • Terima kasih. Silahkan jika akan diangkat menjadi tesis. Mudah-mudahan apa yang ada di tulisan ini bisa berguna sebagai pijakan awal dalam penulisan anda. Good luck untuk tesisnya. Apapun hasilnya nanti, saya yakin akan bermanfaat bagi masyarakat. Namun tolong disebutkan situs ini sebagai sumbernya.

      • ok…makasih mba.kalo mba indri punya info lain tentang perfilman nasional mohon beritahu saya, sebagai bahan untuk memperkaya wawasan.mudah2an penelitian ini bisa berjalan dengan baik.amin..

  10. kasian penikmat film horor indonesia yg d bubui dengan adegan panas.menunjukan para pelaku film indonesia tdk bisa mencipta kan karya2 yg membangga kan bangsa.y mungkin karena mereka udh tidak mampu mencipta film2 yg kreatif yg isinya cuma adegan2 hot2 para artis bokep dunia,mereka tdk mencip takan seni tp mereka lebih menjual keuntungan semata

  11. y,,, bgmn indonesia akan tertib….. orng bermain horor masih ada seknya kpn2 klo mw main film horor hrus ada syart2na donk biar g senonohnya mengeluarkan film horor khn g semestina film horor sllu dijdikn film yg berbumbu sek!!!!!!

  12. tanpa sexs film horor juga gak bakalan hot… ya itu menurutku
    ambil positifnya aja… gak usah munafik buat kalian yang gak suka ya diam saja.
    semua orang punya alasan masing2 untuk melakukan semua itu
    hargai kreasi bangsa… .

  13. Ambil yang positif nya saja,gk perlu masalahin yang negatif nya . klo emg ingin Indonesia menjadi negara yang baik.mulailah dari diri sendiri,jangan bisanya men judge org

  14. kita nanti akan di kumpulkan di yaumul kiyamah untuk mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan di dunia sekarang ini, jadi sya berharap siapa pun yang membaca pesan ini, tolong pahami dg baik apa yan saya tuliskan… terima kash

  15. khan kita2 semua in punya pilihan tersendiri,, yg mau liat ngga apa2 yg penting i2 yg membuat kt senang. ckup i2lh….. hidup didunia in khn butuh kesenangan… sebelum kita nasehati org..nasehatilh diri sendiri,, perbuatan kt belum tentu baik, jgn sampai kt menegur, eehh mala kt yg melakukannya… berpikiran positip semuanya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s