Wisata Kabut Ciwidey


Jika Anda menyukai kabut, datanglah ke Ciwidey pada musim penghujan. Kabutnya begitu tebal, terutama di daerah-daerah wisata seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, yang terletak di puncak gunung Patuha. Tetapi terkadang, ketika Anda tengah menikmati kabut, tiba-tiba sang kabut beranjak pergi. Itu lantaran awan kelabu yang semula menutupi sinar mentari, sekonyong-konyong membuyarkan diri.

situ-patengang-3Situ Patenggang dalam selimut kabut.

Jangan pergi dulu. Tunggulah beberapa saat lagi, sampai angin dingin pegunungan secara perlahan membelai tubuh kita. Dan, awan kelabu di langit yang sudah tidak lagi biru, kembali menghalangi cahaya sang surya. Pada saat itulah, sambil tersipu malu, sang kabut datang lagi merayap dari puncak Patuha. Perlahan. Merayapi pepohonan. Meluncur gemulai menuruni lereng. Sampai akhirnya menyentuh permukaan air di Kawah Putih maupun di Situ Patenggang. Ia pun berjalan di atas air, seperti Kian Santang, putra Prabu Siliwangi, yang konon trampil berjalan di atas air. Seperti Yesus Kristus, yang dalam Alkitab, dikisahkan pernah berjalan di atas telaga.

view-kawah-putih-21

view-kawah-putih-4

view-kawah-putih-31

Ketika kabut merayapi Kawah Putih.

Hanya dalam beberapa detik setelah sang kabut mempertontonkan performing art di atas telaga, tanpa terasa diri kita pun diselimuti kabut. Di depan kita kabut. Di samping kita kabut. Di belakang kita kabut. Di bawah kita kabut. Di atas kita kabut. Yang ada, hanya kabut. Kabut yang menyatu bersama keheningan. Sayangnya, banyak pengunjung Kawah Putih dan Situ Patenggang yang tidak pernah bisa menyatu dengan keheningan. Tidak pernah bisa merasakan getar misteri Illahi di balik kemegahan sang kabut. Tak sedikit di antara para pelancong domestik justru berteriak-teriak memecah sunyi, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara pecah seperti kaleng rombeng.

kabut-kawah-putih-2-editedIndri dan saya di depan Kawah Putih berkabut.

kawah-putih-3-editedIndri dan saya, di depan Kawah Putih tanpa kabut.

billy-di-kawah-putih-1Saya, di “bibir” Kawah Putih penuh kabut.

Untungnya, ada original sound denting kecapi Parahyangan, mengiringi lagu klasik Sunda Hariring Nu Kungsi Leungit. Dentingnya terdengar sayup diterbangkan angin. Liriknya menyayat hati. Tunggu dulu. Jangan mengira denting kecapi berirama Cianjuran itu berasal dari alam gaib, atau dari kahyangan tempat para dewa bersemayam. Melainkan memang benar-benar berasal dari kecapi sungguhan, yang dimainkan oleh seorang pengamen tetap di kawasan wisata Kawah Putih.

kecawi-bw1Denting kecapi Sunda di Kawah Putih.

Rasanya lebih baik mendengarkan lagu Cianjuran daripada menyimak teriakan para wisatawan yang tidak pernah bisa merasakan kesunyian. Denting kecapi dan keheningan alam Pasundan, terasa menjalin harmoni. Seperti musik blues di tengah daerah kumuh masyarakat Afro-Amerika. Hanya nuansanya saja yang berbeda.

Kawah Putih dan Situ Patenggang, adalah juga surga bagi para fotografer. Baik fotografer amatir maupun professional. Merekalah yang paling sabar menunggu datang dan perginya kabut, untuk mendapatkan momen terindah yang mampu ditangkap mata lensanya. Dalam diam mereka menunggu. Dalam diam mereka membidik. Dalam diam mereka merekam. Hasilnya, bisa kita lihat di berbagai website yang mem-posting foto-foto indah Kawah Putih dan situ Patenggang.

Kawasan Wisata Ciwidey yang Tidak Ditata Dinas Pariwisata

Ciwidey adalah sebuah kota Kecamatan, yang berbatasan dengan Kecamatan Soreang dan Cianjur Selatan. Ciwidey dan Soreang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung, yang juga sering disebut sebagai Bandung Selatan. Jalan yang paling mudah untuk menuju Ciwidey adalah melalui pintu tol Kopo dan Soreang di jalur tol Purbaleunyi. Begitu keluar pintu tol, dan sesampainya di perempatan, berbeloklah ke kanan. Ikuti saja jalan raya Soreang terus lurus, hingga Soreang pun terlewati dan kita akan bertemu dengan kecamatan Ciwidey.

Begitu memasuki Ciwidey, udara pegunungan mulai terasa, apalagi bila sudah melewati daerah pesawahan dan kebun-kebun strawberry. Ada banyak hotel dan cottage tempat para wisatawan menginap, yang juga dilengkapi restoran-restoran di tengah sawah. Kalau sudah sampai di Ciwidey, tanya saja penduduk setempat, di mana letaknya Kawah Putih dan Situ Patenggang. Jangan mengandalkan plang-plang penunjuk jalan, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, tampaknya malas membuat plang-plang penunjuk jalan yang memadai. Ada sih beberapa penunjuk jalan, yang anehnya, diletakkan di tempat-tempat yang kurang strategis. Yang paling gampang sih mengikuti Angkot, atau langsung saja naik Angkot dari daerah Kopo, Bandung.

Obyek wisata di kecamatan Ciwidey, bukan hanya Situ Patenggang dan Kawah Putih. Tetapi ada juga kawasan wisata Ranca Upas, Taman Wisata Cimanggu dan Walini yang ada kolam rendam air panasnya. Belum lagi kebun-kebun strawberry yang menawarkan wisata “silakan petik sendiri”. Tapi kalau dalam urusan air panas belerang, kolam rendam Cimanggu maupun Walini sangatlah buruk jika dibandingkan dengan kolam-kolam rendam air panas di kawasan Ciater, Lembang, Bandung. Air yang terdapat di kolam rendam Cimanggu dan Walini tidak begitu panas, kotor alias jarang dibersihkan, dan fasilitasnya pun tidak dikelola dengan baik. Meskipun, harga tiket masuknya memang lebih murah dibandingkan tiket masuk ke kolam-kolam rendam Ciater. (Lihat: Ciater Masih yang Ter …).

Kawasan wisata Ciwidey, juga Pangalengan dan Lembang, dikelola oleh Perum Perhutani III wilayah Jawa Barat dan Banten. Sebagai instansi yang lebih berpengalaman mengelola hutan, Perum Perhutani tampaknya tidak terlalu piawai mengelola kawasan wisata. Sehingga panorama-panorama alam yang indah seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, berkurang keasriannya, begitu kita melihat tempat-tempat penjual makanan dan cinderamata yang tampak kumuh. Tidak terlihat ada “tangan-tangan” Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung di sini, yang mestinya lebih ahli mengelola daerah wisata dibandingkan Perum Perhutani. Atau, jangan-jangan justru Perum Perhutani yang lebih ahli. Buktinya, tempat-tempat wisata di daerah lainnya di Bandung, yang tidak dikelola Perum Perhutani, juga tak kalah carut-marut. Padahal, Bandung sangat kaya dengan potensi wisata.

Billy Soemawisastra

About these ads

5 thoughts on “Wisata Kabut Ciwidey

  1. Atur nuhun Pak Billy atas oleh-oleh memperkenalkan salah satu dari tempat-tempat keindahan ciptaanNya. Saya belum sempat kesana. Mbok diteruskan mengunjungi tempat-tempat lainnya. Prihatin memang dengan instansi berwenang yang mengurusi
    masalah ini, tetapi seperti kurang “berdaya” .Apa study banding dulu melihat gunung patuha, ciwedey2 lain.

    • Terima kasih Pak Soegeng sudah berkunjung ke Alun-Alun. Sebetulnya kepingin sekali saya berkunjung ke tempat-tempat lainnya, tetapi waktunya belum ada. Kalau saya sering ke Ciwidey, itu karena letaknya cukup dekat dengan Jakarta, dan sekalian pulang ke kampung saya di Sumedang. Selain itu, saya memang sangat menyukai kabut, dan di Ciwidey-lah saya menemukan “kabut abadi” yang “membisikkan” keheningan. Sayangnya memang, tempat-tempat yang indah dan masih menyimpan banyak misteri itu, tidak digarap dengan baik oleh instansi yang berwenang. Di mana posisi Pak Sugeng sekarang? Apakah masih di kawasan Atlantik? Sukses selalu untuk Pak Sugeng.

  2. Nuhun, nuhun sekali dengan balesannnya.Saya masih di kawasan Pasifik Pak, Fiji dengan penduduk 820 ribu, dng income percapita 3600 dol as, mengelola negerinya yang bermodal, sun, sea dan sandy dengan cukup baik sehingga negeri ini menjadi salah satu tujuan turis dunia.Jangankan dibanding Fiji, dengan Jepang, Thailand sebetulnya “lahan” kita cukup banyak dan lebih indah dan bervariasi. tetapi dengan alasan klasik selalu terjawab”kurang modal, sarana dan prasarana” Saya kagum dengan keindahan bumi parahyangan, lumrah sekali Bung Karno dulu ingin dikubur dibumi ini. Memang betul Sang Pencipta selalu dengan “tersenyum” waktu menciptakan bumi2, yang selalu penuh keindahan dan keheningan.Sampai ketemu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s