Australia dan Tembang Mantrawi Kaum Pribumi

australia01

Di penghujung tahun 2008 ini, para penggemar sinema di seluruh dunia disuguhi film berjudul: Australia. Sebuah karya besar sutradara Baz Luhrmann, yang pernah sukses dengan film Moulin Rouge (2001) dan William Shakespeare’s Romeo & Juliet (1996). Film termahal berbiaya 150 juta dollar Australia, atau sekitar 1,1 trilyun rupiah itu, merupakan film yang sudah lama diimpi-impikan Baz Luhrmann. Maklum, Baz adalah sutradara kelahiran Australia.

Impiannya bukan sekedar membuat film tentang negeri kelahirannya, tetapi ia juga ingin film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris asal Australia, dan dikerjakan oleh kru kelahiran Australia. Kebetulan di Hollywood, cukup banyak pemain film terkenal kelahiran benua kangguru. Begitu pula orang-orang yang biasa bekerja di balik layar, tak sedikit yang berasal dari Australia. Maka jadilah Baz Luhrmann memboyong para pemain dan pekerja film yang hampir keseluruhannya merupakan orang Australia. Lokasi pembuatannya, langsung di Australia. Judulnya pun tak tanggung-tanggung: Australia.

australia1

“Saya ingin film Australia menjadi film yang bisa berbekas di hati penonton, dan dapat dinikmati oleh semua usia,” ujar Baz Luhrmann, dalam behind the scene yang saya tonton melalui Star Movie. Dan, film itu memang membekas di hati saya. Sehingga saya pun mensejajarkannya dengan film-film legendaris seperti The God Father, Dancing with Wolves, The Kingdom of Heaven, Gang of New York, Brave Heart dan film-film besar serta kolosal lainnya.

australia12-director

Sutradara Baz Luhrmann.

Bagi mereka yang berharap bahwa film ini akan berkisah tentang sejarah Australia, dan penindasan terhadap bangsa Aborigin yang dilakukan para imigran kulit putih dari Inggris, tentu akan kecewa. Karena film ini sebenarnya “hanya” film drama dengan latar belakang Australia akhir dasarwarsa 1930-an hingga meletusnya Perang Dunia Kedua. Salah satu yang kecewa adalah pembuat resensi film di harian Kompas. Sang penulis resensi tersebut menyatakan, judul: Australia, terlalu berat untuk sebuah film yang hanya bercerita di seputar peternakan sapi bernama Faraway Downs, di wilayah Northern Territory. Seharusnya, kata sang penulis, judul film ini cukup Faraway Downs saja.

Itulah akibatnya jika menonton film dengan ekspektasi terlalu tinggi, dan membuat mindset terlebih dulu, sebelum memelototi layar bioskop. Kompas, yang diwakili sang penulis resensi, berharap Baz Luhrmann akan membuat film tentang sejarah penindasan atas kaum aborigin, oleh para imigran dari Britania Raya. Kompas, tampaknya berharap film ini akan dipenuhi adegan-adegan ngeri, yang menggambarkan betapa dahsyatnya penyiksaan-penyiksaan yang dialami bangsa Aborigin, penduduk asli Australia. Sehingga Kompas, yang merupakan harian terkemuka di negeri ini, sama sekali tidak melihat sisi lain kelebihan Aborigin dan keserakahan kaum kulit putih, yang dituturkan Baz Luhrmann secara halus namun sinikal itu.

australia3

King George (David Gulpilil)

australia9

Nullah (Brandon Walters)

Melalui tokoh King George (yang diperankan oleh David Gulpilil) dan aktor cilik Brandon Walters (12 tahun) yang memerankan tokoh Nullah, Baz Luhrmann dengan indahnya mengungkapkan kearifan lokal bangsa Aborigin. King George, tetua Aborigin yang disebut Guppala (orang pintar) itu, sering mengajarkan tembang-tembang mantrawi kepada Nullah, yang tak lain adalah cucunya. Senandung mantrawi itu, mampu menjinakkan ikan-ikan di sungai, menghentikan ribuan ekor sapi yang berlarian panik menuju bibir jurang, membangkitkan kerinduan orang-orang tercinta di tempat yang jauh. Senandung mantrawi itu dinyanyikan seirama angin, sehingga seolah terbang menyatu bersama alam, menuju orang-orang tercinta.

Tentu saja ini legenda. Tetapi bangsa mana yang tidak memiliki legenda? Bahkan bangsa Inggris yang modern itu pun, sangat percaya pada legenda tentang King Arthur dengan pedang Excalibur-nya. Selain itu, bukankah legenda juga dibuat berdasarkan kejadian nyata, yang diberi bumbu di sana-sini?

Kembali pada film Australia, yang menyelipkan tembang-tembang mantrawi bangsa pribumi. Menyaksikan adegan-adegan King George dan Nullah menyenandungkan tembang mantrawi, saya jadi ingat cerita tentang John Glenn, astronot Amerika pertama yang berhasil mengililingi orbit Bumi. Dalam perjalanannya di luar angkasa yang gelap dan sepi, ia tak bisa melihat apapun di hadapannya. Kondisi itu dilaporkannya ke markas Nasa di Cape Canaveral.

Temannya, Allan B. Sheppard, yang juga astronot, segera terbang menuju Australia karena John Glenn diperkirakan sedang melayang di atas orbit benua tersebut. Di salah satu pojok negeri kangguru, Allan meminta sekelompok Aborigin untuk menggelar upacara ritual. Bangsa asli atau kaum pribumi Australia ini segera melakukan tarian-tarian sakral ditingkahi sara tifa, seraya mengghidupkan api unggun yang percikan-percikan apinya tampak terbang vertikal ke arah  langit.

Tak lama kemudian, John Glenn melapor melalui radio bahwa kini ia bisa melihat pemandangan di depannya, karena ada ribuan kunang-kunang menerangi jalannya. Kunang-kunang yang dilihat Glenn, tak lain percikan-percikan api unggun yang membumbung tinggi menggapai langit.

Dan, melalui film Australia, penulis skenario dan sutradara Baz Luhrmann, sekali lagi mengedepankan kearifan lokal bangsa Aborigin, yang selalu bersahabat dengan alam. Kearifan lokal masyarakat pribumi Australia, yang selalu diabaikan dan bahkan dicoba dihapuskan oleh bangsa kulit putih, pendatang dari Eropa.

Generasi yang Dicuri dan Runtuhnya Keangkuhan Bangsawan

Si kecil Nullah (Brandon Walters) adalah wakil Generasi yang Dicuri (Stolen Generation). Demikian istilah resmi yang digunakan untuk menyebut anak-anak Aborigin itu. Sejak 1880-an hingga awal 1970-an, anak-anak pribumi, terutama yang berdarah campuran, dipisahkan secara paksa dari para orangtua mereka, sebagai realisasi dari politik asimilasi. Mereka dididik dengan cara Barat, agar akar budaya mereka tercerabut. Tujuannya tak lain supaya kehidupan sosial dan budaya Aborigin benar-benar punah dari bumi Australia. Sementara para orangtuanya harus melakukan kerja paksa sebagai buruh kasar di tempat-tempat peternakan milik kulit putih.

australia10

Anak-anak Aborigin.

Nullah, adalah satu-satunya anak Aborigin (dalam film tersebut) yang selalu berusaha menghindar dari incaran aparat pemerintah, yang ingin membawanya ke tempat proyek asimilasi. Untuk sementara upayanya berhasil karena mendapat perlindungan dari Lord Maitland Ashley, pemilik peternakan Faraway Downs, yang bersahabat dengan penduduk asli. Tetapi keadaan menjadi lain, setelah Lord Ashley ditemukan tewas dengan tombak menghunjam tubuhnya. Neil Fletcher (David Wenham) menuduh King George sebagai pembunuh Lord Ashley. Tentu saja polisi pun percaya karena Fletcher adalah orang kepercayaan Lord Ashley.

australia4

The Drover  dan Lady Sarah Ashley.

Sebelum menemui kematian, Lord Ashley selalu menolak bujukan Fletcher, agar menjual peternakannya kepada saudagar King Carney (Bryan Brown). Saudagar serakah yang berkeinginan memegang monopoli peternakan sapi di seluruh Australia, supaya menjadi satu-satunya pemasok daging sapi untuk tentara Australia. Secara kebetulan, pada hari tewasnya Lord Ashley, isterinya, Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) tiba di peternakan tersebut bersama The Drover atau Sang Penggembala (Hugh Jackman). Setelah berhari-hari melewati perjalanan yang melelahkan, melintasi padang savana Australia, dengan berkendaraan truk.

australia02

The Drover (Hugh Jackman)

Mengikuti jejak suaminya, Lady Ashley pun bersikeras untuk tetap mempertahankan Faraway Downs, dan memecat Fletcher, setelah dilihatnya Fletcher berlaku kasar terhadap Nullah dan ibunya. Padahal tujuan semula kedatangan Lady Ashley ke peternakan tersebut, tak lain untuk menjual Faraway Downs, agar sang suami kembali ke Inggris. Cerita selanjutnya diisi dengan perjuangan Lady Ashley, The Drover, Nullah dan beberapa pekerja Faraway Downs, yang bahu-membahu menggiring ribuan sapi milik Faraway Downs, menuju Darwin, untuk dijual kepada tentara.

Di sepanjang perjalanan, mereka selalu diganggu oleh Fletcher dan kawan-kawan, yang berusaha keras menggagalkan upaya mereka. Melalui berbagai adegan menegangkan, Lady Ashley, The Drover, Nullah dan tiga orang pekerja lainya, akhirnya berhasil menjual sekitar 1500 ekor sapi milik peternakan Faraway Downs kepada tentara, mengalahkan King Carney.

australia11

Neil Fletcher (David Wenham)

Sampai di sini, banyak penonton mengira bahwa film akan segera berakhir. Tetapi ternyata masih ada babak kedua. The Drover, yang biasa mengembara di setiap musim panas, memutuskan pergi bersama tentara Australia, meninggalkan Lady Ashley. Padahal di antara keduanya telah terjalin kisah cinta. Sementara Nullah, dengan paksa dibawa aparat pemerintah untuk mengikuti proyek asimilasi seperti anak-anak aborigin lainnya. Lady Ashley pun kehilangan dua orang yang dicintainya. The Drover, yang sudah dianggap calon suaminya, dan Nullah, anak blasteran kulit putih dengan aborigin, yang sudah dianggap anaknya sendiri.

Kepiawaian Nicole Kidman dalam berakting, tampak sangat menonjol. Ia yang semula memerankan perempuan bangsawan yang angkuh dan kurang menyukai Aborigin, tiba-tiba berubah menjadi sosok seorang ibu yang mencintai anak aborigin, dan bergaul sangat dekat dengan penduduk asli. Sedangkan Hugh Jackman, sejak awal hingga akhir memang berperan sebagai laki-laki yang sangat keras, sosok pengembara padang savana, yang memang sudah menyatu dengan penduduk asli. Bahkan isteri pertamanya yang telah meninggal dunia, adalah seorang wanita Aborigin.

australia03

Adegan percintaan: The Drover dan Lady Ashley.

Di tengah suasana kehilangan yang melanda Lady Ashley, sekonyong-konyong ratusan pesawat bomber Jepang, membombardir Darwin, dan kota ini pun luluh-lantak, menjadi lautan api. Lady Ashley lalu menjadi sukarelawan, yang bertugas membantu komunikasi tentara. Sementara pulau tempat Nullah dan kawan-kawan diasimilasi, juga dikabarkan musnah dibom tentara Dai Nippon.

australia6

Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman)

Singkat cerita, Nullah dan kawan-kawan akhirnya diselamatkan The Drover, yang merasa terpanggil datang ke pulau tempat penampungan anak-anak Aborigin yang telah diduduki tentara Jepang, berkat nyanyian mantrawi yang disenandungkan Nullah. Nyanyian mantrawi ini pula, yang membuat Lady Ashley merasa akan bertemu Nullah, sehingga menunda evakuasi. Dan, orang-orang tercinta ini pun berkumpul kembali untuk melanjutkan hidup mereka.

Tetapi Nullah harus pergi untuk sementara waktu. Sebagai anak blasteran (ia ternyata anaknya Fletcher, hasil hubungan gelap dengan ibunya Nullah) Nullah merasa tidak diakui oleh kulit putih maupun Aborigin. Sehingga ia sering dijuluki sebagai anak krim, karena kulitnya yang kecoklatan. Untuk membuktikan bahwa ia merupakan keturunan penduduk asli, Nullah harus melakukan walkabout, suatu perjalanan spiritual yang biasa dijalani anak-anak Aborigin menjelang dewasa. Nullah pun berangkat untuk melakukan tradisi walkabout, bersama kakeknya, King George, alias Sang Guppala.

australia8

King George dan Nullah.

Film berdurasi sekitar 2,5 jam ini sungguh tidak membosankan. Jalan ceritanya berjalan cepat, dibumbui adegan-adegan menegangkan. Dipadu gambar-gambar indah khas alam Australia, yang kemudian menjadi kontras dan ironis dengan munculnya gambar-gambar kehancuran akibat perang. Lalu, senandung-senandung mantrawi itu. Senandung mantrawi milik pribumi, selalu menyelusup di sela-sela berbagai adegan, seperti suara angin yang mistis, menyuarakan kepedihan sekaligus kebahagiaan.

Jadi, di penghujung tahun 2008 ini, tak ada salahnya jika Anda menonton film Australia. Tetapi tontonlah tanpa kerangka pikiran apapun. Nikmatilah sebagaimana Anda menikmati karya seni, apa adanya, tanpa prasangka. Sebab kalau tidak, Anda mungkin akan kecewa. Atau menyesal seperti pemerintah Australia, yang baru menyampaikan permintaan maaf kepada bangsa Aborigin di awal tahun 2008 ini. Permintaan maaf yang sangat terlambat, setelah lebih dari dua abad bangsa Aborigin ditindas hingga nyaris musnah, dan anak-anaknya menjadi stolen generation. Tetapi pemerintah Australia masih lebih baik bila dibandingkan dengan pemerintah Amerika Serikat, yang tidak pernah meminta maaf kepada bangsa Indian, hingga sekarang.

Bila Anda berminat menonton film Australia, ajak pula anak-anak Anda, karena film ini memang dibuat untuk semua usia. Biarkan anak-anak menikmati akting mengesankan dari Brandon Walters yang memerankan Nullah, malaikat kecil yang juga berperan sebagai narator film ini.

Billy Soemawisastra

[Poster dan foto: www.australiamovie.com, movie.yahoo.com]

Wisata Kabut Ciwidey

Jika Anda menyukai kabut, datanglah ke Ciwidey pada musim penghujan. Kabutnya begitu tebal, terutama di daerah-daerah wisata seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, yang terletak di puncak gunung Patuha. Tetapi terkadang, ketika Anda tengah menikmati kabut, tiba-tiba sang kabut beranjak pergi. Itu lantaran awan kelabu yang semula menutupi sinar mentari, sekonyong-konyong membuyarkan diri.

situ-patengang-3Situ Patenggang dalam selimut kabut.

Jangan pergi dulu. Tunggulah beberapa saat lagi, sampai angin dingin pegunungan secara perlahan membelai tubuh kita. Dan, awan kelabu di langit yang sudah tidak lagi biru, kembali menghalangi cahaya sang surya. Pada saat itulah, sambil tersipu malu, sang kabut datang lagi merayap dari puncak Patuha. Perlahan. Merayapi pepohonan. Meluncur gemulai menuruni lereng. Sampai akhirnya menyentuh permukaan air di Kawah Putih maupun di Situ Patenggang. Ia pun berjalan di atas air, seperti Kian Santang, putra Prabu Siliwangi, yang konon trampil berjalan di atas air. Seperti Yesus Kristus, yang dalam Alkitab, dikisahkan pernah berjalan di atas telaga.

view-kawah-putih-21

view-kawah-putih-4

view-kawah-putih-31

Ketika kabut merayapi Kawah Putih.

Hanya dalam beberapa detik setelah sang kabut mempertontonkan performing art di atas telaga, tanpa terasa diri kita pun diselimuti kabut. Di depan kita kabut. Di samping kita kabut. Di belakang kita kabut. Di bawah kita kabut. Di atas kita kabut. Yang ada, hanya kabut. Kabut yang menyatu bersama keheningan. Sayangnya, banyak pengunjung Kawah Putih dan Situ Patenggang yang tidak pernah bisa menyatu dengan keheningan. Tidak pernah bisa merasakan getar misteri Illahi di balik kemegahan sang kabut. Tak sedikit di antara para pelancong domestik justru berteriak-teriak memecah sunyi, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara pecah seperti kaleng rombeng.

kabut-kawah-putih-2-editedIndri dan saya di depan Kawah Putih berkabut.

kawah-putih-3-editedIndri dan saya, di depan Kawah Putih tanpa kabut.

billy-di-kawah-putih-1Saya, di “bibir” Kawah Putih penuh kabut.

Untungnya, ada original sound denting kecapi Parahyangan, mengiringi lagu klasik Sunda Hariring Nu Kungsi Leungit. Dentingnya terdengar sayup diterbangkan angin. Liriknya menyayat hati. Tunggu dulu. Jangan mengira denting kecapi berirama Cianjuran itu berasal dari alam gaib, atau dari kahyangan tempat para dewa bersemayam. Melainkan memang benar-benar berasal dari kecapi sungguhan, yang dimainkan oleh seorang pengamen tetap di kawasan wisata Kawah Putih.

kecawi-bw1Denting kecapi Sunda di Kawah Putih.

Rasanya lebih baik mendengarkan lagu Cianjuran daripada menyimak teriakan para wisatawan yang tidak pernah bisa merasakan kesunyian. Denting kecapi dan keheningan alam Pasundan, terasa menjalin harmoni. Seperti musik blues di tengah daerah kumuh masyarakat Afro-Amerika. Hanya nuansanya saja yang berbeda.

Kawah Putih dan Situ Patenggang, adalah juga surga bagi para fotografer. Baik fotografer amatir maupun professional. Merekalah yang paling sabar menunggu datang dan perginya kabut, untuk mendapatkan momen terindah yang mampu ditangkap mata lensanya. Dalam diam mereka menunggu. Dalam diam mereka membidik. Dalam diam mereka merekam. Hasilnya, bisa kita lihat di berbagai website yang mem-posting foto-foto indah Kawah Putih dan situ Patenggang.

Kawasan Wisata Ciwidey yang Tidak Ditata Dinas Pariwisata

Ciwidey adalah sebuah kota Kecamatan, yang berbatasan dengan Kecamatan Soreang dan Cianjur Selatan. Ciwidey dan Soreang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung, yang juga sering disebut sebagai Bandung Selatan. Jalan yang paling mudah untuk menuju Ciwidey adalah melalui pintu tol Kopo dan Soreang di jalur tol Purbaleunyi. Begitu keluar pintu tol, dan sesampainya di perempatan, berbeloklah ke kanan. Ikuti saja jalan raya Soreang terus lurus, hingga Soreang pun terlewati dan kita akan bertemu dengan kecamatan Ciwidey.

Begitu memasuki Ciwidey, udara pegunungan mulai terasa, apalagi bila sudah melewati daerah pesawahan dan kebun-kebun strawberry. Ada banyak hotel dan cottage tempat para wisatawan menginap, yang juga dilengkapi restoran-restoran di tengah sawah. Kalau sudah sampai di Ciwidey, tanya saja penduduk setempat, di mana letaknya Kawah Putih dan Situ Patenggang. Jangan mengandalkan plang-plang penunjuk jalan, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, tampaknya malas membuat plang-plang penunjuk jalan yang memadai. Ada sih beberapa penunjuk jalan, yang anehnya, diletakkan di tempat-tempat yang kurang strategis. Yang paling gampang sih mengikuti Angkot, atau langsung saja naik Angkot dari daerah Kopo, Bandung.

Obyek wisata di kecamatan Ciwidey, bukan hanya Situ Patenggang dan Kawah Putih. Tetapi ada juga kawasan wisata Ranca Upas, Taman Wisata Cimanggu dan Walini yang ada kolam rendam air panasnya. Belum lagi kebun-kebun strawberry yang menawarkan wisata “silakan petik sendiri”. Tapi kalau dalam urusan air panas belerang, kolam rendam Cimanggu maupun Walini sangatlah buruk jika dibandingkan dengan kolam-kolam rendam air panas di kawasan Ciater, Lembang, Bandung. Air yang terdapat di kolam rendam Cimanggu dan Walini tidak begitu panas, kotor alias jarang dibersihkan, dan fasilitasnya pun tidak dikelola dengan baik. Meskipun, harga tiket masuknya memang lebih murah dibandingkan tiket masuk ke kolam-kolam rendam Ciater. (Lihat: Ciater Masih yang Ter …).

Kawasan wisata Ciwidey, juga Pangalengan dan Lembang, dikelola oleh Perum Perhutani III wilayah Jawa Barat dan Banten. Sebagai instansi yang lebih berpengalaman mengelola hutan, Perum Perhutani tampaknya tidak terlalu piawai mengelola kawasan wisata. Sehingga panorama-panorama alam yang indah seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang, berkurang keasriannya, begitu kita melihat tempat-tempat penjual makanan dan cinderamata yang tampak kumuh. Tidak terlihat ada “tangan-tangan” Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung di sini, yang mestinya lebih ahli mengelola daerah wisata dibandingkan Perum Perhutani. Atau, jangan-jangan justru Perum Perhutani yang lebih ahli. Buktinya, tempat-tempat wisata di daerah lainnya di Bandung, yang tidak dikelola Perum Perhutani, juga tak kalah carut-marut. Padahal, Bandung sangat kaya dengan potensi wisata.

Billy Soemawisastra