Digital, Teknologi dengan Banyak Kemungkinan


Penjualan album fisik alias CD (Compact Disc) di Amerika Serikat memperlihatkan penurunan dari tahun ke tahun. Merujuk laporan IFPI (organisasi perusahaan rekaman tingkat dunia) mengenai musik digital, di tahun 2007 penjualan album fisik memang mengalami penurunan hingga 19%.
Tapi, berbeda dengan Indonesia, pembajakan tidaklah dianggap sebagai biang masalah. Di negara adi daya itu, perkembangan teknologi yang kini berada di ranah digital dianggap sebagai penyebab utama. Hal ini terbukti dengan meningkatnya penjualan album digital di Amerika Serikat sepanjang tahun 2007, yang meningkat 54% dibanding tahun sebelumnya.
Masih menurut laporan IFPI, kondisi yang sama juga terlihat di hampir seluruh dunia meski dengan gradasi yang berbeda-beda. Namun secara umum, di hampir semua negara di berbagai belahan dunia, angka penjualan album musik digital trend-nya terus meningkat. Jika di tahun 2003 artis dan musisi hanya mengandalkan penjualan album fisik, di tahun 2006, perubahan sudah terlihat karena penjualan album digital di seluruh dunia berkisar pada angka 11%.
Peningkatan ini makin signifikan terlihat di tahun 2007 karena penjualan album digital telah mencapai 15%. Di beberapa negara, penjualan album digital sudah tergolong tinggi. Di Korea Selatan, penjualan album digital bahkan sudah mengungguli angka penjualan album fisik.
Meningkatnya penjualan album digital bukanlah suatu hal yang aneh mengingat perkembangan teknologi belakangan ini yang arahnya memang digitalisasi. Jumlah penjualan album digital yang meningkat, sejalan dengan maraknya penggunaan alat-alat multimedia di berbagai belahan dunia.
Untuk menghadapi gempuran era digital yang membuat penjualan album fisik menurun, berbagai perusahaan rekaman memiliki langkahnya sendiri. Saat ini sudah semakin banyak perusahaan rekaman yang menggunakan dan menanda tangani kesepakatan dengan jaringan sosial seperti MySpace, YouTube, LastFM dan Imeem.
”Dulu promosi sangat sederhana, taruh di radio, menjadi cover majalah Rolling Stone dan muncul di acara talk show ’Permainan ini seharusnya suatu hal sederhana. Anda mendapat rekaman di radio, Anda mendapat wajah di majalah Rolling Stone, dan Anda memperoleh Saturday Night Live,’ kata Tag Strategic yang biasa jadi konsultan untuk label besar. Tapi sekarang tidak bisa begitu lagi karena harus mengurusi jaringan internet, facebook, YouTube dan lain-lain”
Meski lebih rumit, dalam kondisi seperti sekarang, menghitung penggunaan jaring komunitas sebagai salah satu cara berpromosi sudah merupakan keharusan. Ini diakui grup musik seperti Letto yang melihat banyak kemudahan yang diberikan media digital walaupun akan semakin ampuh saat digunakan untuk memasarkan seorang artis yang memang sudah dikenal.
Menjadi pertanyaan sekarang, betulkah media digital juga sudah mumpuni untuk digunakan sebagai sarana promosi para artis dan musisi dalam negeri? Untuk menjawab itu tentu tidak mudah, mengingat Indonesia merupakan sarang pembajakan. Apalagi download atau upaya mengunduh lagu dari format digital nyaris tidak dianggap perlu ada permisi. Karena ada di internet yang dianggap fasilitas umum, download berhak dilakukan.
Namun agar adil melihatnya, fenomena negatif seperti itu nyatanya tidak hanya menjadi milik dan ciri para penikmat musik di Indonesia. Simak saja pengakuan grup band Saosin, yang diwawancara saat mereka melakukan tur konser promosi di Indonesia.
”Lagu kami di-download jutaan orang melalui internet. Itu artinya mereka mendukung Saosin meski dengan cara yang berbeda. Saosin tetap terus bisa berkarya melalui pertunjukan musik, bukan dengan menjual produk. Ini sih agar kami tidak merasa dirugikan akibat aksi download tersebut.”
Jika di mancanegara kondisinya masih seperti itu, bagaimana dengan Indonesia? Nyatanya, era digital belum benar-benar masuk di Indonesia. Di negara-negara maju, sudah banyak tersedia portal yang menjual album-album secara digital. Di Indonesia, portal sejenis nyaris tidak ada. Kalaupun ada masih banyak kendala yang membuat masyarakat enggan mengunduh lagu secara legal, mulai dari soal akses internet sampai tentu saja mudahnya mendapat album bajakan dengan harga murah (dengan hanya membayar Rp. 5.000,- untuk sebuah CD atau MP 3 bajakan yang bisa berisi 100 lagu, tentu lebih menguntungkan dari pada membayar dengan harga yang sama untuk men-download secara legal sebuah lagu milik seorang artis).
Siasat lainpun ditempuh para produser rekaman Indonesia. Sulitnya berjualan album, baik fisik maupun digital secara resmi membuat mereka mengalihkan sasaran pada Ring Back Tone atau RBT alias nada tungga pada telepon genggam. RBT hingga saat ini dipercaya menjadi satu-satunya perangkat jual lagu yang masih bebas dari pembajakan.
Hasil penjualan RBT memang bisa membuat artis, musisi dan juga label musik sedikit lega. Keberhasilan beberapa musisi mengumpulkan pendapatan yang relatif lumayan dari RBT bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Lihat saja hasil yang didapat grup musik Vagetoz yang mencapai 12 M.
Hasil besar dari RBT memang sangat mungkin dinikmati para artis dan musisi selain tentunya label dan operator telepon genggam. Para penyedia jasa RBT atau operator telepon selular mengaku hasil dari penggunaan nada tunggu mencapai 2% dari total omset mereka. Telkomsel misalnya, yang menyediakan fasilitas nada tunggu NSP 1212, diperkirakan mengantongi hasil hingga Rp. 776 milyar hanya dari nada tunggu.
Hasil RBT tentu tidak hanya mengisi pundi-pundi operator telepon selular. Sang artis juga menikmati hasil yang tidak sedikit karena dari setiap pelanggan yang mengunduh sebuah lagu dengan durasi 40 detik, mereka mendapat Rp. 1000,-. Jumlah itu, setara dengan royalti sebuah album kaset atau CD. Label pun ikut menikmati manisnya RBT karena biasanya mereka mendapat 50%.
Bagaimanapun kondisi dan pemanfaatannya di Indonesia, digital sebetulnya tetap menawarkan berbagai kemungkinan baik bagi sang artis maupun label tempatnya bernaung. Dengan menggunakan digital, sebagian ongkos promosi bisa dipangkas. Karena digital pula beberapa musisi Indonesia yang namanya tidak terlalu bergaung di dalam negeri, malah bisa menembus pasar internasional. Majalah Rolling Stone Indonesia mencatat nama-nama seperti White Shoes & The Couples Company, Mocca, The S.I.G.I.T yang mungkin nyaris tidak pernah kita dengar kiprahnya di tanah air, namun akhirnya dikenal di beberapa negara dengan dunia maya sebagai comblangnya.
Indriati Yulistiani

[Sumber data: ”Digital Music Report 2008” dari IFPI di www.ifpi.org; “Sejumlah Artis Tinggalkan Label. Apakah Perusahaan Rekaman Mengalami Kematian?” pada Harian Suara Pembaruan, 22 Oktober 2007; “Legitnya Bisnis Konten Mobile Music”- A. Mohammad BS dan “Bait Baru Industri Musik Indonesia”- Hidayat, Taufik di Majalah Swasembada nomor 12/XXIV. Foto: mediaku-mediamu.blogspot.com, www.music2dot0.com, usefullingake.blogspot.com, www.musikator.com]

{Tulisan ini juga bisa dilihat di Beranda}
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s