Ciater Masih yang Ter …


Begitu banyak gunung berapi di Indonesia, baik yang masih aktif maupun yang sedang “tidur”. Di dekat gunung-gunung berapi itu, hampir selalu ditemukan tempat-tempat wisata yang menyediakan fasilitas pemandian air panas atau air belerang. Air panas alami yang bersumber dari kawah gunung berapi itu, dialirkan dan ditampung di kolam-kolam renang atau kolam rendam milik para pengelola hotel dan cottage di sekitarnya.

Ada mitos yang dipercaya sejak dulu bahwa air belerang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, karena sejumlah kandungannya. Tetapi mitos itu, ada benarnya. Menurut berbagai penelitian, air belerang dari kawah gunung berapi, mengandung zat-zat seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), aluminium (Al), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (S) dan sulfur (S). Zat-zat kimia tersebut, secara medis sudah dibuktikan memang dapat menghilangkan berbagai penyakit kulit. (Lihat: www.kabarindonesia.com)

Tentu saja manfaat air belerang itu baru efektif bila suhunya terjaga, kolam penampungannya cukup bersih, dan tidak terlalu sering kita berendam di dalamnya. Bila terlalu sering (apalagi kalau berlama-lama berendamnya) justru akan merusak kulit. Begitu pula bila kolam penampungannya tidak bersih (tidak mengalir) atau berendamnya beramai-ramai hingga membuat airnya cepat tercemar.

Suhu air belerang yang bagus untuk kulit, konon harus berada dalam kisaran 45 derajat celsius, sesuai suhu aslinya. Lalu bagaimana dengan air belerang yang suhunya hangat-hangat kuku? Saya tidak tahu apakah masih efektif menyehatkan kulit atau tidak. Yang jelas, kalau suhunya hangat-hangat kuku, apalagi kalau semakin drop saja kehangatannya, tentunya kurang nikmat untuk direndami.

Seperti itulah kondisi air belerang di kolam-kolam pemandian air panas di kawasan wisata Cipanas, Garut. Hangat-hangat kuku. Nyaris tidak terasa lagi kehangatannya. Berbeda dengan kolam pemandian air panas di kawasan Ciater, Bandung-Subang. Di sini, air belerangnya benar-benar terasa hangat, bahkan masih terlihat kepulan asap di permukaan airnya. Lagi-lagi saya tidak tahu apa yang menyebabkan air belerang di Cipanas Garut kurang terasa hangat. Mungkinkah karena sudah terlalu banyak bercampur dengan air biasa, atau lantaran air belerang di sana sudah berkurang kadarnya?

Tetapi di Ciater, khususnya di Ciater Spa Resort, bukan hanya kehangatan air belerangnya yang selalu terjaga konstan, melainkan juga kolamnya yang rajin dibersihkan. Sehingga airnya selalu terlihat jernih. Pemandangan di sekitarnya berupa bukit-bukit hijau dan pegunungan, membuat pengunjung semakin betah berendam di sana. Ditambah lagi dengan suhu udara di kawasan Ciater yang selalu terasa dingin, mengundang pengunjung untuk sebentar-sebentar memasukkan tubuhnya ke dalam kolam.

Kolam rendam Ciater Spa Resort.

Dari tiga tempat pemandian air panas di kawasan Jawa Barat yang sempat saya kunjungi, hanya Ciater-lah yang ter … baik. Ciater selalu membuat saya nyaman. Di tempat-tempat lainnya, seperti Cipanas Garut dan Ciseeng Bogor, saya memperoleh kesan: para pengelolanya malas merawat obyek-obyek wisata tersebut. Kumuh. Membuat pengunjung tak betah berlama-lama. Padahal tiket masuk ke tiga tempat pemandian air panas tersebut, tidak jauh berbeda, antara Rp 25.000-Rp 35.000 per orang.

Pemandangan di Ciater.

Jalan menuju Ciater.

Di Ciater Spa Resort, kalau kita menginap, bukan hanya berendam air panas saja yang bisa kita lakukan. Kita juga bisa menikmati terapi kesehatan tubuh yang tersedia di sana (ada klinik dengan dokter-dokternya yang terlatih) dan beberapa jenis rekreasi seperti bermain go kart. Mau tahu biaya keseluruhannya? Lihat saja situs Ciater Spa Resort. Kalau  ingin memperoleh diskon untuk biaya penginapannya, Anda bisa membeli voucher di beberapa biro perjalanan. Selisih harganya lumayan, Anda bisa mendapat potongan harga hingga sekitar 35 persen.

Sayangnya, dalam hal menerapkan peraturan, Ciater Spa Resort kurang tegas. Meski di beberapa pojok dekat kolam rendam tertulis kewajiban menggunakan pakaian renang, nyatanya tak sedikit pengunjung yang berendam dengan menggunakan pakaian biasa, dan tidak ada tindakan dari petugas.

Peraturan yang sering dilanggar.

Kok gak pake baju renang?

Berendam tanpa menggunakan pakaian renang memang kurang sedap dipandang. Apalagi bila pakaian yang dikenakannya berwarna putih transparan. Yang juga tidak elok dilihat adalah kecenderungan pengunjung merokok di kolam rendam, memercikkan abu rokok di kolam, dan membuang puntungnya di sembarang tempat. Tak pernah ada teguran dari petugas untuk kelakuan pengunjung seperti itu. Memang, para petugas cukup rajin membersihkan areal kolam rendam. tapi, apa gak capek?

Billy Soemawisastra

About these ads

3 thoughts on “Ciater Masih yang Ter …

  1. Diralat sedikit, saya termasuk sering mandi air panas di Cipanas, Garut, dan Ciater, Subang. Kalo dibilang air panas di Cipanas Garut suam2 kuku tidak tepat juga, karena tergantung di lokasi mana kita mandinya.

    Cobalah merasakan pancuran (terapi) air panas di Hotel Tirtagangga, itu panas banget. Tetapi di lokasi yang sama di kolam renangnya tidak terlalu panas, cenderung hangat. Atau kalo kita renang di hotel Sabda Alam masih di Cipanas juga, itu air yang baru keluar dari pancuran lebih panas dari yang di kolam, meskipun tidak sepanas di pancuran Hotel Tirtagangga.

    Sama juga halnya dengan di Ciater atau Sariater.

    Di Ciater Spa Resort ada 2 kolam rengan Kunang2 dan Kiara. Di Kiara, panasnya hanya sekitar 39 derajat (kolam untuk anak kecil) tapi sedikit lebih panas di kolam dewasanya. Nah, kalo di kolam renang Kunang2 itu lebih panas dari yang di Kiara, sekitar 45 derajat.

    Di Sari Ater pun sama, ada beberapa kolam dengan tingkat panas yang berbeda, harga masuknya pun beda2.

    Mengenai manfaat, masing2 air panas memiliki perbedaan karena kandungan mineralnya. Di Ciater kandungan sulfurnya memang tinggi, jadi lebih cocok untuk pengobatan kulit. Karena tingginya kandungan sulfur maka airnya terlihat/terkesan berwarna, padahal warna yang terlihat itu endapan sulfur yang mengendap di lapisan batu/permukaan tanah.

    Di Cipanas, kandungan sulfurnya sedikit tapi kandungan mineralnya yang tinggi makanya airnya cenderung tidak berwarna, tetapi kalo mau sedikit melihat2 sumber mata airnya, di lapisan bawahnya tetap ada endapan berwarna meski tidak sebanyak di Ciater.

    Mengenai harga tiket, karena di Ciater hanya dikelola oleh 2 perusahaan jadi tidak ada pilihan lagi, tapi di Cipanas selain ada kolam yang dikelola oleh Pemda (paling atas), ada juga kolam2 yang khusus dikelola oleh banyak hotel mulai dari yang murah sampai yang mahal.

    Kalo kita masuk ke Hotel Tirtagangga untuk menikmati pancuran air panas dan kolam renangnya, cukup bayar Rp 25 ribu, tempatnya bersih. Apalagi di hotel Sumber Alam, malah menurut saya lebih bagus dari Sari Ater sekalipun. Saya bisa membandingkannya karena sudah pernah menginap di kedua tempat itu.

    Kalo kita masuk ke kolam renang yang dikelola pemda, sudah mahfumlah di mana2 tempat wisata yang dikelola pemerintah relatif minim & cenderung kumuh. Tapi jangan salah, coba datang ke Sariater saat sabtu/minggu, itu kawasan wisata jauh dari kesan bersih & nyaman! Sampah berserakan di mana2, bahkan di aliran sungai atau kolam. Orang taruh baju, gelar tikar plus warung2 yang tidak tertata…ini tidak lebih baik dari kesan kumuh.

    Tambahan lagi, keliru kalo dibilang air panas di Cipanas Garut dicampur dengan air biasa.

    Semoga bermanfaat.
    Salam,
    Ontohod

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s