Negeri Pembajak Itu Bernama Indonesia

Gue punya 16 versi album the best of Ari Lasso,” ceritanya dengan penuh semangat. “Waktu gue tur di 30 kota tempo hari, gue selalu beli versi yang berbeda. Judulnya macam-macam. Ari Lasso & Friends, The Best of Ari Lasso, Balada Ari Lasso, Lagu Cinta Ari Lasso, Cinta dan Kehidupan Ari Lasso, Keseimbangan Cinta Ari Lasso, Rahasia Ari Lasso sampai Misteri Ari Lasso. Semuanya bajakan! Ha ha ha …”

Itu keluhan Ari Lasso waktu diwawancarai Majalah Rolling Stones Indonesia (baca artikel ”Industri Musik Rasa Baru” pada Majalah Rolling Stones Indonesia edisi 35). Keluhan Ari Lasso bisa dianggap mewakili teman-temannya, para musisi Indonesia lainnya. Pembajakan membuat penjualan album mereka berantakan. Pembajakan mengancam dapur sebagian besar musisi Indonesia. Apa daya mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Pembajakan di Indonesia memang sudah jadi rahasia umum. Tapi, data IFPI (sebuah organisasi industri rekaman tingkat dunia) bisa bikin mata kita terbuka lebih lebar untuk melihat betapa parahnya masalah pembajakan di Indonesia. Tahukah Anda kalau di tahun 2008 ini, Indonesia jadi pemegang medali perak negara pembajak utama dunia? Indonesia cuma kalah dari Cina sebagai raja pembajak dunia.

Memang bukan baru kali ini Indonesia masuk daftar negara pembajak utama di dunia. Beberapa tahun terakhir, nama Indonesia selalu masuk dalam evaluasi tahunan organisasi industri rekaman sedunia itu. Pastinya ini bukan prestasi yang membanggakan.

Yang mengejutkan sebenarnya angka pembajakan yang dianggap terjadi di Indonesia yang mencapai 85 persen. Artinya, dari 100 materi audio visual yang dijual di Indonesia, 85 di antaranya adalah bajakan. Setiap beredar 1 cakram audio atau video asli, sudah akan ada 6 versi bajakannya.

Mau cari produk bajakan? Sangat mudah. Tidak cuma di kota, sekarang produk audio-video bajakan sudah merambah desa. Tidak cuma di kaki lima, produk bajakan juga bisa dibeli di mal-mal.

Mencari DVD bajakan.

Anda pelanggan produk bajakan? Jangan khawatir, Anda punya banyak teman. Harga produk bajakan yang sangat murah dengan kualitas yang ”tidak jelek-jelek amat” biasanya jadi alasan para pembeli produk bajakan lainnya (termasuk Anda?). Harga album rekaman asli berkisar antara Rp. 20.000,- hingga Rp. 70.000,-. Mahal sekali kalau dibandingkan dengan harga 1 keping mp3 (yang memuat setidaknya 100 lagu dari berbagai penyanyi), yang dijual paling mahal Rp 7000,-. Padahal dengan harga produk asli, pembeli hanya memperoleh satu album dengan paling banyak 14 lagu.

Apapun alasannya, beredarnya produk bajakan pasti merugikan seniman dan produser serta jelas melanggar hukum menyangkut hak cipta. Pertanyaannya, kenapa petugas membiarkan para pembajak bebas berkarya. Mengapa Indonesia menjadi lahan subur pembajakan?

Sebetulnya, bukan tidak ada usaha untuk menghilangkan pembajakan dari bumi pertiwi. Berbagai operasi sudah digelar aparat kepolisian untuk mencari lokasi-lokasi dijualnya produk bajakan bahkan tempat produksinya. Tapi sepertinya usaha bapak dan ibu polisi belum memperlihatkan hasil maksimal.

Menjelang razia.

Mudahnya teknologi pembajakan dan besarnya keuntungan yang dijanjikan bisnis ini, membuat langkah polisi memberantas pembajakan bagaikan menyiram air di musim kemarau. Jika tidak dilakukan terus menerus, pembajakan akan kembali dan terus marak.

Perhatikan saja kondisi yang terjadi setelah polisi melakukan razia dan penggrebekan pada lapak-lapak penjual cakram bajakan atau bahkan pabrik ilegal yang membuatnya. Jika hari ini polisi melakukan penggrebekan di suatu pusat pembajakan, bisnis pembajakan atau jual-beli cakram bajakan memang akan terhenti sesaat.

Pemusnahan DVD/VCD/MP3 bajakan di Polda

Metro Jaya. (Foto: Usman Iskandar/TEMPO)

Tapi, dalam dua-tiga hari, paling lambat 1 minggu, bisnis jual beli biasanya sudah menggeliat kembali di tempat yang sama. Malah kadang, bila penggrebekan dilakukan di pagi hari, sekitar tengah hari para pembajak sudah mulai membuka kembali lapak-lapak dagangannya. Apalagi jika diyakini para anggota polisi sudah pergi. Lebih-lebih lagi, jika mereka yakin, aparat yang tersisa sebetulnya sudah disumpal mulutnya.

Permasalahan makin rumit dengan tidak memadainya aturan hukum yang mengatur masalah hak cipta dari sebuah karya. Makanya jangan heran kalau selama bertahun-tahun Indonesia selalu menjadi target pengawasan negara-negara lain menyangkut masalah pelanggaran hak cipta.

Masalah semakin runyam karena biasanya pelaku pembajakan, baik audio atau video, biasanya jika diajukan ke meja hijau, cuma mendapat hukuman yang relatif ringan. Terkadang, dengan sekedar jaminan uang mereka bisa segera bebas. Kembali menekuni bisnis bajakan, menjadi langkah umum yang mereka ambil, sesaat setelah menghirup udara bebas.

Pembajakan juga dituding menjadi ”biang keladi” turunnya jumlah penjualan album fisik (audio & video) legal. Data ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) memang memperlihatkan fenomena itu. Jika di tahun 2005 jumlah kaset, CD dan VCD yang beredar di Indonesia mencapai angka 30.032.460 keping, di tahun berikutnya angkanya sudah menciut menjadi 23.736.355 keping. Di tahun 2007, angka itu tergerus lagi hingga tinggal 19.398.208. Ini artinya, rata-rata penurunan peredaran cakram audio dan video legal di Indonesia mencapai sekitar 20% setiap tahun!

Bagi industri musik, kondisi turunnya angka penjualan album legal bukan sesuatu yang ringan untuk ditanggung. Angka fantastis penjualan album hingga jutaan copy, kini hanya tinggal kenangan. Angka penjualan album beberapa musisi tercatat menurun tajam. Menurut catatan majalah Rolling Stones Indonesia, Ada Band adalah salah satu korbannya.

Tahun 2005 Ada Band masih mampu menjual 1 juta keping cd untuk album ”Heaven Of Love”. Penjualan sebanyak itu, tentu menghasilkan royalti yang tidak sedikit. Tapi, saat meluncurkan ”Romantic Rhapsody” angka penjualan tercatat hanya sekitar 708.000 keping. Nasib yang sama juga dialami grup band Radja. Album ”Hanya Untukmu” terjual 500.000 keping, jauh di bawah album ”Langkah Baru” yang mencapai 1,3 juta keping.

Grup band Padi malah mengalami nasib yang lebih ironis. Angka penjualan albim baru mereka sangat sedikit, apalagi jika dibandingkan album mereka sebelumnya. Dengarlah keluh kesah mereka:

“Tetapi masa jaya itu tak bisa lagi kami nikmati. Grup band lain juga sama. Mereka nggak akan bisa mengulang prestasi yang pernah mereka raih sebelumnya. Kami pernah menjual album hingga 2 juta copy untuk album kedua. Album terakhir hanya 150.000 keping dengan susah payah. Penyebabnya adalah pembajakan.”

Grup papan atas seperti Peterpan juga berantakan penjualan albumnya, setelah pembajakan marak. Penjualan album Peterpan terbaru adalah salah satu buktinya. Double Platinum memang masih didapat tapi bicara angka penjualan, jauh di bawah biasanya.

Korban akibat pembajakan album sesungguhnya lebih banyak jatuh di pihak perusahaan rekaman. Tidak tahan menghadapi kondisi persaingan, sudah banyak perusahaan rekaman Indonesia yang gulung tikar. Jika masalah pembajakan tidak segera diatasi, jumlah anggota ASIRI yang kini hanya tinggal 70 label rekaman saja, setelah 117 anggotanya bangkrut, niscaya akan semakin sedikit. Para personil grup Letto bahkan mengganggap kondisi industri musik Indonesia sudah mulai sekarat. Jika tidak ada usaha yang konkrit, kondisi sekarat saat ini bukan tidak mungkin bisa berujung kematian

Indriati Yulistiani

{Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari tesis master penulis mengenai industri musik Indonesia yang akan segera dibukukan, dan juga dapat dilihat pada blog Beranda}

[Foto-foto diambil dari: www.liputan6.com; www.gudangmusik.blogspot.com; reunion.web.id; letto.blogs.friendster.com.]

Cita-cita: Menjadi Presenter Televisi

Tampaknya sudah mulai terjadi pergeseran cita-cita di kalangan anak-anak Indonesia dan para orangtuanya, sekarang ini. Jika dulu, para orangtua mencita-citakan anak-anaknya menjadi dokter atau insinyur, kini tak sedikit di antara mereka yang kepingin anaknya menjadi presenter televisi. Tak peduli apakah presenter berita atau presenter hiburan. Yang penting, tampil terkenal menjadi selebritis televisi.

Gejala ini terlihat sewaktu Liputan 6 SCTV menggelar acara Presenter Cilik selama sebulan penuh, sebagai bagian dari acara Dino’s Live atau Summer Holiday with SCTV and Dinosaurus, di Plaza Tenggara Senayan, Jakarta, 21 Juni hingga 20 Juli 2008. Acara ini terbuka untuk umum, terutama anak-anak, pengunjung Dino’s Live. Dengan hanya membayar 30 ribu rupiah per orang, anak-anak bisa tampil seperti presenter beneran. Membaca berita melalui teleprompter di depan kamera.

Aksi mereka di depan kamera selama sekitar lima menit ini, direkam ke dalam keping DVD. Hasil rekaman ini bisa mereka bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Sebelum direkam, para petugas magang dari SCTV akan membimbing mereka bagaimana cara membaca teleprompter.

Karena peserta acara presenter cilik ini tidak dibatasi usia, tak jarang tampil pula anak-anak yang masih balita (di bawah lima tahun) atau bahkan batita (di bawah tiga tahun), yang umumnya belum bisa membaca. Untuk anak-anak yang belum bisa membaca ini, para petugas harus bekerja ekstra keras menuntun mereka melafalkan kalimat-kalimat pengantar berita, kata demi kata, sambil direkam.

Maklum, acara ini memang dirancang layaknya siaran berita televisi yang sebenarnya. Presenter membacakan lead atau pengantar berita, lalu paket berita yang sudah direkam ditayangkan, setelah itu  membaca pengantar berita berikutnya. Ada tiga paket berita yang disiapkan untuk itu. Pura-puranya mereka sedang live dalam siaran Liputan 6 Terkini.

Minat pengunjung untuk mengikuti acara presenter cilik ini di luar dugaan. Penyelenggara terpaksa membatasi peminat paling banyak 60 peserta per hari, untuk Sabtu dan Minggu, dan 35 orang per hari untuk Senin hingga Jum’at. Dengan 35 orang per hari, para petugas masih bisa beristirahat untuk makan siang. Tapi dengan 60 orang per hari, para petugas tidak akan beristirahat selama 10 jam. Karena untuk setiap peserta, mulai dari persiapan sampai finalisasi DVD, dibutuhkan waktu sedikitnya 10 menit.

Para peserta yang sudah mendaftar rela menunggu berjam-jam untuk mendapat giliran shooting. Dalam beberapa kasus, meski kami sudah menutup pendaftaran, tak jarang ada orangtua anak-anak yang memaksa atau menghiba-hiba agar anaknya diikutsertakan. Atau, anaknya menangis karena ingin tampil di depan kamera.

Banyak alasan yang mereka kemukakan. Misalnya, mereka datang dari daerah yang sangat jauh dari Jakarta, dan ini merupakan satu-satunya kesempatan. Sebab besok mereka harus pulang ke daerahnya dengan penerbangan yang paling pagi. Untuk kasus-kasus seperti ini, kami mengalah, walau acara Dino’s Live sudah tutup untuk hari itu. Maka  stand SCTV pun menjadi satu-satunya oth di Dino’s Live yang bubar paling akhir.

Keinginan untuk tampil dalam acara Presenter Cilik, tidak selalu datang dari anak-anak. Para orangtua justeru memegang peranan yang paling besar. Banyak di antara para orangtua ini yang membujuk anak-anaknya untuk tampil. Bahkan ada yang dengan cara memaksa, meski anaknya tidak mau. Tentu saja sebagian besar keiikutsertaan dalam acara ini, muncul dari anak-anak, yang memang bercita-cita menjadi presenter televisi.

Maka tampillah mereka di depan kamera, dengan berbagai gaya. Ada yang tampil serius layaknya presenter berita. Ada yang bergenit-genit sepeti presenter infotainmen atau presenter hiburan. Umumnya mereka puas, karena telah berhasil tampil di “layar televisi”. Tidak usah dijelaskan bagaimana cara mereka melafalkan berita. Sebagai anak-anak yang belum terlatih, kualitas mereka masih jauh di bawah standar. Tetapi minat mereka, antusiasme mereka, sungguh luar biasa.

Dalam beberapa obrolan dengan para orangtua peserta, tertangkap kesan bahwa mereka umumnya kepingin anaknya menjadi presenter televisi, bila sudah dewasa kelak. Begitu pula anak-anaknya. Tak sedikit yang mengira bahwa acara Presenter Cilik tersebut adalah semacam audisi untuk rekruitmen presenter, dan terlihat kecewa setelah dijelaskan bahwa acara ini hanya sekedar ajang untuk menghibur anak-anak.

Minat yang sangat besar ini, sedikit banyak membuktikan bahwa profesi presenter televisi telah menjadi impian banyak orang. Jangan-jangan memang telah terjadi semacam pergeseran cita-cita, dari dokter atau insinyur, menjadi presenter televisi. Apalagi memang sudah banyak contoh, adanya dokter atau insinyur yang beralih profesi menjadi presenter televisi. Mungkin inilah yang disebut sebagai keberhasilan “sihir televisi”. Begitulah.

Billy Soemawisastra.

[Foto-foto: Dokumentasi Humas SCTV. Tulisan ini juga dapat dilihat di blog Liputan 6 SCTV]