Beringharjo dan Mega-Mega

Setiap kali saya melintas di depan Pasar Beringharjo Jogjakarta, saya selalu teringat pada naskah drama “Mega-Mega” karya almarhum Arifin C. Noer, yang ia tulis antara tahun 1964-1966. Naskah drama – yang mendapat penghargaan sebagai Lakon Sandiwara Terbaik dari Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) 1967 – itu menceritakan kehidupan para gelandangan dan preman di pinggiran Pasar Beringharjo.

Tampak depan Pasar Beringharjo.

Mega-Mega, seperti umumnya naskah-naskah drama yang ditulis Arifin C. Noer, adalah lakon tentang manusia-manusia yang terpinggirkan. Manusia-manusia yang bergulat mengatasi kesengsaraan dengan segala cara, dan mencoba menikmati kesengsaraan itu meskipun dengan nafas yang megap-megap.

Naskah ini pernah saya pentaskan pada akhir 70-an, bersama para remaja asuhan saya yang tergabung dalam grup Teater Gemanti (Generasi Masa Nanti) Jakarta Timur, sebagai keikutsertaan kami pada Festival Teater Remaja se-DKI Jakarta, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Naskah drama karya Arifin C. Noer ini memang merupakan favorit para teaterawan remaja saat itu. Selain karena plot-plotnya yang mudah dibedah, naskah ini tidak terlalu banyak membutuhkan pemain.

Hanya ada tujuh tokoh dalam lakon drama ini, yakni Ma’e, Retno, Koyal, Panut, Tukijan, Hamung dan seorang Pemuda tanpa nama. Jadi tidak perlu mengumpulkan banyak orang untuk mementaskan lakon drama ini. Namun setiap tokoh Mega-Mega, mempunyai karakter yang khas dan kuat, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk “menghidupkannya” di atas pentas.

Mega-mega, yang juga berarti “awan-gemawan” adalah atap rumah suatu kelompok manusia marjinal, yang membentuk sebuah keluarga karena kesamaan nasib. Setiap malam, setelah sepanjang siang mereka mencari makan di sekitar pasar Beringharjo, keluarga yang mempunyai seorang ibu bernama panggilan Ma’e itu bercengkerama di sebuah lapangan luas beratapkan langit. Di situlah mereka bersama-sama merenungi dan menertawakan nasib, sambil “membunuh sepi” agar malam segera berlalu. Dan, esok harinya, mereka akan kembali berkeliaran di pasar Beringharjo yang kumuh dan becek.

Kumuh dan becek. Itulah gambaran pasar Beringharjo yang tersirat dalam lakon drama tersebut, dan konon seperti itu pulalah kenyataannya pada dekade 60-an. Sebuah pasar tradisional yang belum tertata dengan baik. Gambaran ini jualah yang menyebabkan saya tidak pernah tertarik untuk memasuki pasar Beringharjo, walau berulang-kali saya mengunjungi Jogja, dan berulang-ulang saya mengitari jalan Malioboro. Padahal pasar yang legendaris ini letaknya tak terpisahkan dengan jalan Malioboro, pusat wisata belanja kota Jogja.  

Jalan Malioboro di siang hari.

Ketidaktertarikan terhadap pasar bersejarah ini terus berlangsung sampai saya menikahi Indri. Isteri saya ini sangat gandrung bahkan nyaris tergila-gila pada pasar Beringharjo. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar Beringharjo setiap kali kami berlibur atau bertugas di Jogjakarta. Dan, saya, lebih suka memilih untuk tetap beristirahat di hotel, atau berjalan kaki di pinggiran jalan Malioboro dan mengacak-acak toko Mirota Batik, ketimbang harus menemani Indri memasuki gang-gang sempit di pasar Beringharjo.

“Batiknya bagus-bagus dan murah-murah,” kata isteri saya setiap kali pulang dari pasar Beringharjo dengan sejumlah kantong kresek berisikan kain dan baju batik untuk pria dan wanita.

“Yang ini harganya cuman 20 ribu, yang ini 50 ribu, yang ini 75 ribu. Nah yang ini agak mahal, 100 ribu. Tapi batiknya dan jahitannya memang bagus,” celoteh Indri sambil memperlihatkan barang-barang belanjaannya. “Ini semua oleh-oleh untuk keluarga kita. Bukan untuk kamu. Kamu kan gak suka batik.”

Saya memang tidak terlalu suka pada pakaian bermotif batik. Bodo amat. Meskipun bakal dicap tidak mencintai produk lokal buatan bangsa sendiri, kalau tidak suka memang kenapa? Ini kan soal selera. Ya, sesekali suka juga saya pakai baju batik kalau pergi kondangan – itu pun kalau dipaksa isteri saya. Tetapi bukan karena kekurangsukaan saya terhadap batik, yang membuat saya malas memasuki bagian dalam pasar Beringharjo. Melainkan, ya itu tadi, kesan yang membekas di kepala saya: kumuh dan becek.

“Itu kan tahun 60-an,” kata isteri saya. “Coba deh. Sekali saja kamu ikut aku ke pasar Beringharjo, pasti kamu kaget.”

Hingga pada suatu hari, saya paksakan diri mengikuti sang isteri memasuki pasar Beringharjo. Dan, benar saja, kesan becek dan kumuh itu seketika menghilang. Pasar Beringharjo, ternyata sebuah pasar yang megah, bersih, rapi, tertata dan apik. Batik, batik dan batik sepanjang mata memandang. Mulai dari batik tradisional hingga batik kontemporer, ada di sini. Harganya beragam, mulai dari yang 20 ribuan hingga di atas 100 ribuan rupiah. Meskipun tetap saya kurang menyukai batik, namun deretan batik beraneka model dan corak itu, membuat saya terpana.

Pusat belanja batik.

Pasar Beringharjo, menurut gudeg.net, berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar yang semula merupakan tanah berlumpur, agak becek dan banyak pohon beringinnya. Pada tahun 1758, Sultan Jogja yang bertahta pada saat itu, menjadikan wilayah ini sebagai tempat pertemuan rakyat. Lalu rakyat setempat pun membangun payon-payon sebagai peneduh.

Tahun 1925, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan  pemerintah Hindia-Belanda memandang perlu untuk membangun pasar sebagai pusat transaksi niaga rakyat Jogja di atas lahan tersebut. Los-los pasar pun dibangun dengan menggunakan konstruksi beton, dan selesai setahun kemudian (1926). Nama Beringharjo diberikan setelah bertahtanya Sri Sultan Hamengku Bowono IX. Selain untuk mengenang cikal-bakal pasar yang semula merupakan hutan beringin, juga lantaran beringin adalah lambang kebesaran dan pengayoman bagi masyarakat Jawa.

Pasar Beringharjo pernah direnovasi pada tahun 1951 dan 1970, dan pernah pula terbakar pada tahun 1986. Perbaikan demi perbaikan pasar Beringharjo terus berlangsung dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan, sekarang, pasar Beringharjo adalah pasar yang megah terdiri atas tiga lantai, dengan produk utama tekstil, khususnya batik. Di sini juga terdapat banyak jajanan pasar.

Pasar tradisional tiga lantai.

Sekarang, justru sayalah yang selalu mengajak isteri saya untuk berkunjung ke pasar Beringharjo, setiap kali kami bertandang ke Jogja. Menyaksikan isteri saya mengobrak-abrik tumpukan batik bersama kaum ibu lainnya, dan bertransaksi secara tradisional dengan para pedagangnya yang ramah-ramah, sungguh merupakan pertunjukan yang cukup menghibur hati. Tak ada lagi kekumuhan di pasar ini. Tak ada lagi tanah becek. Meski Mega-Mega tetap berarak di langit Jogja, dan melintas di atas pasar Beringharjo.

Billy Soemawisastra

Bakmi Kadin dan Musik Kroncong

Jika Anda termasuk manusia “jadul” berusia minimal 40-an tahun, Anda pasti mengenal atau paling tidak pernah mendengar lagu The Autumn Leaves, yang pertama kali dilantunkan oleh Nat King Cole pada tahun 50-an. Dekade berikutnya lagu ini dikumandangkan oleh Frank Sinatra, dan dasawarsa berikutnya lagi Andy Williams tak mau ketinggalan mendendangkan lagu ini. Singkat kata, lagu ini pernah sangat terkenal hingga sekitar tahun 80-an, karena berganti-ganti dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kelas dunia seperti Elvis Presley, Tom Jones, Engelbert Humperdinck, Eva Cassidy, Johny Mathis, bahkan George Benson dengan irama Jazz-nya.

Liriknya sederhana, nadanya pun sederhana, bisa dinyanyikan dengan nada rendah maupun nada tinggi. Kalau Anda tergolong manusia jadul lalu mengaku tak pernah mengenal atau mendengar lagu The Autumn Leaves sepanjang hidup Anda, maka akuilah bahwa Anda termasuk manusia jadul yang gak gaul pada jamannya. Kalau begitu buru-burulah searching di You Tube. Di situ, akan Anda temukan lagu The Autumn Leaves yang dilantunkan berbagai penyanyi dalam beragam versi.

The Autumn Leaves, tiba-tiba lagu itu terdengar kembali mengalun secara live, dalam irama kroncong, pada pertengahan Juni lalu. Yang menyanyikannya bukan penyanyi terkenal, yang mengiringinya pun bukan band terkenal. Melainkan sebuah grup orkes kroncong jalanan di sudut kota Jogja. Tepatnya di emper  jalan, di teras warung Bakmi Kadin, menghibur para penikmat bakmi. Membuat bakmi Jawa yang sudah terkenal puluhan tahun itu semakin nikmat disantap.

Para musisi kroncong di Bakmi Kadin Jogjakarta.

Warung Bakmi Kadin. Menurut riwayat yang cukup shahih, warung bakmi ini didirikan pada tahun 1947 oleh Mbak Hj, Karto, dan sekarang dikelola penerusnya bernama Rochadi. Disebut bakmi Kadin karena letaknya berada di belakang kantor Kadin (kamar Dagang dan Industri) Jogjakarta, di jalan Bintaran Kulon nomor 3 & 6. Warung bakmi ini sangat terkenal. Dari sudut mana pun di kota Jogja, kalau Anda meminta tukang becak mengantarkan Anda ke warung tersebut, Anda pasti diantarkan ke sana tanpa bertanya lagi. Tentunya setelah tercapai  kesepakatan harga atau ongkos becak.

Para pengunjung Warung Bakmi Kadin.

Di warung bakmi Kadin, Anda akan disambut alunan orkes kroncong yang melantunkan berbagai jenis lagu. Lagu kroncong tradisional, modern, pop Indonesia maupun Barat, termasuk lagu The Autumn Leaves tadi. Sebelum pulang, jangan lupa masukkan uang ke dalam wadah yang memang disediakan untuk upah para penyanyi dan pemusik kroncong ini. Jumlahnya terserah Anda, sekedar untuk  menghargai kreativitas mereka, para musisi kroncong yang tak luluh tergerus jaman.

Dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang.

Bakmi Kadin adalah bakmi tradisional Jawa, yang dimasak di atas tungku dengan bahan bakar arang. Mau bakmi godog (rebus), bakmi goreng ataupun kwetiau, semuanya ada di sini. Anda tinggal pesan. Warung yang buka sejam pukul 9 pagi hingga jam 12 malam itu tak pernah sepi pengunjung. Konon setiap harinya, warung Bakmi Kadin mampu menjual sedikitnya 500 porsi.

Billy Soemawisastra

Hollywood Hengkang, Bioskop Digerayangi Setan dan Perempuan Setengah Telanjang?

Sekitar satu minggu lalu (18/02/2011), sebuah kabar menyentak para pecinta film. Sumbernya, sangat bisa diandalkan, Noorca M. Massardi yang saat ini menjabat sebagai juru bicara 21 Cineplex, perusahaan penguasa perbioskopan di tanah air.

Isi beritanya tidak tanggung-tanggung mengagetkan: film Hollywood terancam tidak lagi ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air setelah Motion Picture Association menyetop distribusi film mereka ke Indonesia. Dikabarkan, masalah bermula dari adanya pajak (baru) yang dibebankan kepada para importir film. Pajak yang konon tidak pernah ada di seluruh dunia hinga membuat Hollywood geram dan mengeluarkan ancaman jitu.

21 cineplex, raja bioskop Indonesia.

Kabar yang kemudian berkembang, tidak hanya Hollywood, tapi film-film Bollywood & Mandarin pun  ikut mengancam tidak bisa lagi dinikmati di layar bioskop kita. Penyebabnya juga sama. Namun, apa sesungguhnya yang terjadi? Betulkah Indonesia dengan gagah berani menjadi pelopor penerapan pajak distribusi film yang tidak pernah ada di negara manapun di dunia?

Niat Mulia Menuai Malapetaka?

Kabar demi kabar susul menyusul bermunculan. Seperti banyak kasus di negeri ini, semakin banyak kabar maka kejelasan semakin kabur. Mulai dari akar masalah, hingga akibat apalagi solusi.  Agar tidak terjebak dalam kondisi yang sama, mari kita telaah masalah ini satu persatu, mulai dari akarnya. Meski  asal=muasal masalah ini sempat tidak jelas.

Media memang menghubungkan adanya beban pajak baru dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sang Presiden kaget  membaca keluhan Hanung Bramantyo, sineas Indonesia yang belakangan naik daun, bahwa pajak untuk film nasional lebih tinggi daripada pajak untuk film impor. Kalau begini keadaannya, menurut sang sineas, bagaimana film Indonesia mau maju. SBY pun prihatin. Petunjuk pada bawahan diturunkan. Hasilnya ya pajak baru itu.

Baru  beberapa hari kemudian pernyataan resmi keluar melalui Menbudpar Jero Wacik. Pajak baru memang bermula dari keprihatinan Presiden. Niatnya sungguh mulia, memajukan film nasional.  Tapi tampaknya, niat mulia justru menuai malapetaka.

Hollywood Kabur, Siapa yang Untung?

Pajak baru yang disebut-sebut, kemudian menjadi alasan Hollywood berniat hengkang dari bioskop tanah air. Film asing yang biasanya menghias 2 hingga 3 layar Cineplex Indonesia terancam hilang.

Pengusaha bioskop jelas khawatir pemasukannya jauh berkurang jika film asing hilang dari layar-layar bioskop. Produksi film nasional yang masih di bawah 100 judul per tahun jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan sekitar 500 layar bioskop di seluruh negeri. Kekhawatiran lanjutannya jelas, bioskop bisa gulung tikar dan sekitar 10.000 karyawan Cineplex saja bisa kehilangan pekerjaan.

Bioskop Indonesia, akankah sepi penonton jika Hollywood hengkang?

Bagaimana dengan perfilman nasional? Bukankah pajak baru yang disebut-sebut dihadirkan pemerintah memang tujuannya untuk memajukan perfilman nasional? Bukankah layar yang telah kosong bisa diisi film nasional? Tapi tampaknya, kondisinya tidak semudah itu.

Para sineas justru yang paling awal buka suara menyuarakan kekhawatiran mereka. Dengan kondisi seperti saat ini, amat sangat tidak mungkin menghasilkan sedemikan banyak film bermutu untuk menggantikan film-film Hollywood yang selama ini mengisi sebagian besar layar bioskop tanah air.

Jikapun dipaksakan lahir ratusan film nasional setiap tahunnya maka bentuknya tidak akan jauh berbeda dengan yang selama ini merajai peta film nasional, film bergenre horror atau komedi dengan bumbu seks yang tentunya jauh dari berkualitas.

Film horor berbumbu seks yang belakangan banyak diproduksi.

Kekhawatiran yang lebih besar justru diungkap Ody Mulya Hidayat, seorang produser film. Menurutnya, film asing masih menjadi penopang penghasilan bioskop di tanah air. Tanpa film asing, layar bioskop Indonesia akan tergulung. Lantas, di mana film Indonesia akan ditayangkan?

Mengurai Benang Kusut, Mencegah Hollywod Kabur

Jika penerapan pajak (baru) yang berujung hengkangnya Hollywood dari layar bioskop Indonesia ternyata lebih banyak membawa mudarat dari pada manfaat, apakah layak diteruskan? Bukankah yang dikeluhkan para sineas adalah lebih tingginya pajak film nasional ketimbang film asing? Dan, yang diminta  para sineas adalah mengurangi pajak film nasional dan bukan sebaliknya ditanggapi berbeda dengan justru menaikkan pajak film asing?

Bagi pemerintah, adanya pajak tentunya menguntungkan. Pendapatan Negara tentu bertambah.  Namun patut dicatat para sineas justru terkaget-kaget ketika ada penambahan jenis pajak baru, yang diklaim para importer tidak layak karena tidak pernah ada di seluruh dunia. Apalagi beban pajak yang selama ini dibayarkan produser film nasional dan distributor serta importir film asing tidak terasa manfaatnya bagi perfilman nasional.

Dengan kondisi yang demikian, permintaan agar beban pajak (baru) dihilangkan semakin sering terdengar. Ditjen Bea Cukai sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam penerapan pajak (baru) itu, menerima desakan yang cukup kuat. Dan setelah berdiam diri cukup lama, Ditjen Bea Cukai akhirnya bersuara. Penjelasan mereka cukup mengagetkan dan menambah kusut masalah yang sudah ada.

Dalam konferensi pers yang sengaja mereka gelar, terungkap bahwa jenis pajak yang dibebankan (berupa pajak royalti film) sebenarnya bukanlah jenis pajak baru. Bahkan pajak royalty film memang harus ditarik sesuai dengan WTO Valuation Agreement yang sudah diratifikasi dalam Undang-undang. Artinya, pajak ini berlaku di semua Negara yang masuk dalam WTO.

Hanya saja, selama ini beban pajak royalty film belum dihitung. Bea Cukai menuding pengusaha yang tidak memasukkan dalam penghitungan pajak mereka.  Importir kaget ketika beban pajak tersebut dihitung. Reaksinya adalah ancaman untuk tidak lagi mengimpor film asing.

Salah satu film Hollywood yang hingga kini masih diputar di 21 Cineplex.

Hingga saat tulisan ini dibuat, titik temu masalah ini masih belum terurai. Ancaman hengkangnya film-film Hollywood juga masih menggantung meski jika melihat situs resmi 21cineplex (www.21cineplex.com) film-film Hollywood juga tetap masih diputar.

Walau tidak sebanyak biasanya, judul-judul film Hollywood masih menemani film-film nasional yang didominasi judul-judul  dengan kandungan setan atau kuntilanak meski dengan bau seks yang sangat kental. Judul-judul film nasional yang semakin lama semakin banyak diproduksi.

Kabarnya kini semua pihak sedang berembuk untuk mencari win win solution. Kita tunggu bagaimana akhirnya. Namun siap-siap saja, jika ujung-ujungnya ternyata antiklimaks. Atau, seperti banyak permasalahan di negeri ini, perkara ini akan menguap begitu saja tanpa kejelasan ujung pangkalnya, dan isu ini pun digantikan dengan isu lain yang lebih “menarik”.

Indriati Yulistiani

Adegan Seks Berbalut Film Horor

Betulkah film Indonesia bangkit kembali? Jika menilik jumlah film Indonesia yang dibuat setiap tahun, angka-angkanya memang terlihat meningkat dengan cukup meyakinkan. Jika di tahun 2007 sekitar 53 film Indonesia diproduksi, di tahun 2008 angkanya sudah menjadi 87 film. Jumlah 100 film yang  diproduksi dalam waktu 1 tahun, bahkan sudah terlampaui di tahun 2009 lalu.

Secara kasat mata, coba saja lihat gedung-gedung bioskop di sekitar Anda. Setidaknya, dalam satu masa pemutaran, ada 1 film Indonesia. Sering kali dari (biasanya) 4 teater, 2 hingga 3 teater di antaranya  memutar film Indonesia.

Namun kalau dilihat lebih cermat, ada satu fenomena menarik. Film-film Indonesia yang diproduksi dan tentunya diputar di bioskop belakangan ini, sebagian di antaranya adalah film horor. Masalahkah itu?

Bumbu Seks dalam Film Horor Indonesia

Banyaknya film horor, seharusnya bukan masalah. Apalagi ternyata genre film yang muncul di Indonesia sejak tahun 1941 melalui Film Tengkorak Hidoep ini juga diminati banyak penikmat film tanah air. Sebut saja film Sundel Bolong yang menjadi Film Terlaris III di Jakarta di tahun 1981 setelah ditonton 301.280 orang.

Di tahun 1982, film Nyi Blorong bahkan menjadi Film Terlaris I di Jakarta 1982, dengan jumlah penonton 354.790. Penonton sebanyak itu, mampu membuat Nyi Blorong menggondol Piala Antemas FFI (Festival Film Indonesia) untuk Film Terlaris 1982-1983.  Di tahun-tahun lain, film-film horor juga terus mampu meraup jumlah penonton yang besar. Kalaupun tidak menjadi yang terlaris, pendapatan dari pembeli tiket bioskop dapat memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Lantas, di mana masalahnya?

Masalahnya adalah, bumbu adegan seks yang banyak ada di film-film horor Indonesia. Malahan di sebagian film horor, adegan seks tidak lagi menjadi sekedar bumbu. Adegan seks seakan menjadi bahan dasar dalam racikan film.

Beberapa adegan dalam film  “Suster Keramas”.

Adegan seks yang berbalut film horor seakan membenarkan kekhawatiran saya tentang berulangnya peta tema film Indonesia (baca: Adegan Berulang di Film Indonesia). Sama seperti di masa lalu, sebelum perfilman Indonesia mati suri, setelah era film komedi, layar perak diambil alih oleh film esek-esek.

Siasat Membalut Seks dengan Horor

Adalah kreativitas para sineas Indonesia untuk membalut seks dengan label film horor. Kreativitas yang makin lama, makin menjadi. Dari sedikit, adegan seks makin merajalela di film-film horor anak negeri. Melihat judul-judulnya saja, aroma seks sangat terasa. Sebutlah film Hantu Puncak Datang Bulan, Suster Keramas, Diperkosa Setan dan masih banyak lagi.

Belakangan, banyaknya adegan seks di film (horor) Indonesia membuat gerah banyak pihak. Kecaman dan ancaman dikeluarkan berbagai organisasi dalam berbagai bidang tapi para sineas tetap bergeming. Film-film sejenis tetap mengisi layar perak di tanah air, bahkan diekspor hingga ke negara tetangga serumpun.

Cara para pembuat film menyiasati kecaman dan ancaman juga makin kreatif. Tentu belum hilang dari ingatan kita, pro dan kontra diimpornya Miyabi, bintang film porno Jepang, untuk membintangi film Menculik Miyabi. Miyabi memang gagal datang tapi Rin Sakuragi, rekan seprofesi Miyabi di negeri Sakura, tiba-tiba menyengat dengan adegan-adegan berbau syahwat di film Suster Keramas.

Dewi Persik dalam film “Paku Kuntilanak”.

Tidak hanya artis impor, artis lokal juga tidak kurang berani. Tidak sekedar memperlihatkan paha dan dada, nama-nama seperti Andi Soraya, Julia Perez dan Dewi Persik mau beradegan berani dengan pameran bagian tubuh yang vital meski hanya beberapa detik. Jika begini kondisinya, di mana peran LSF?

Memotong Sedikit, Menyisakan Banyak

Sekian detik atau menit adegan berani yang lolos sensor seringkali menimbulkan pertanyaan, masihkah ada peran LSF? Pertanyaan ini rasanya sering muncul dalam diskusi dengan rekan-rekan media. Jawabannya, LSF (Lembaga Sensor Film) tentu akan bilang mereka sudah garang.

Mereka memang sebisa mungkin masih meloloskan film. Alasannya, jika banyak film tidak bisa tayang tentu banyak biaya terbuang. Produser bisa malas lagi membuat film dan industri film Indonesia bisa kembali tidur panjang.

Meski begitu, LSF menjamin gunting sensor tetap tajam. Tidak sedikit adegan panas yang masuk sampah terkena sensor. Misalnya, untuk film Hantu Puncak Datang Bulan. Film dengan suguhan Andi Soraya yang membuka bra serta akting panas Trio Macan ini menurut Muklis Paeni, Ketua LSF, sudah dipotong lebih dari 100 meter.

Adegan pembangkit syahwat

di film “Hantu Puncak Datang Bulan”.

Angka 100 meter film terkesan sangat banyak. Tapi sesungguhnya dalam hitungan waktu atau durasi, berapakah durasi dari 100 meter film? Dengan menggunakan standar 24 frame per detik untuk film bioskop yang biasanya berformat 35 mm maka dalam 100 meter ada 5249,2 frame (bisa dihitung sendiri menggunakan film calculator)  Jika tiap detik ada 24 frame, maka 5249,2 frame berdurasi 218,7 detik yang setara dengan sekitar 3,5 menit.

Durasi 3,5 menit tentu tidak lagi memperlihatkan angka yang besar. Apalagi harus diingat ada 1 resep jitu yang dipakai pembuat film: kasih adegan yang sangat vulgar sehingga adegan vulgar bisa tertutup dan akhirnya lolos sensor.

Nah jika sudah begini, tinggal penonton yang menentukan. Apakah mau terus dicekoki adegan seks dalam beragam variannya? Jika kembali mengaca pada sejarah termasuk sejarah perfilman Indonesia, saya percaya akan ada titik jenuh. Penonton akan bosan dan kembali menjauhi bioskop dengan film Indonesia. Kondisi ini pernah terjadi hanya sesaat sebelum dunia film Indonesia mati suri. Relakah kita perfilman Indonesia yang baru seumur jagung bangkit harus kembali tidur panjang…..???

Indriati Yulistiani

Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian Menyengat

Ciater selalu membuat saya dan Indri (isteri saya) rindu. Jika dalam tiga bulan saja kami tidak berkunjung ke Ciater, sudah bisa dipastikan Indri akan merengek-rengek minta diajak ke sana, barang satu hingga dua hari. Ciater memang ngangenin.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat kami selalu kangen Ciater. Pertama, udaranya yang sejuk dan masih bersih alias bebas polusi karena berada di lereng pegunungan. Kedua, di tempat ini waktu terasa sangat lambat, sehingga kami benar-benar bisa beristirahat tanpa harus merasa terburu waktu. Ketiga, nah ini yang paling penting, air belerangnya yang hangat (bahkan nyaris panas) yang dialirkan dari kawah Tangkuban Parahu.

Kami bisa berjam-jam berada di kolam rendam berair hangat itu. Ketika hampir seluruh tubuh  (mulai dari leher hingga ke kaki) ditenggelamkan ke dalam kolam rendam, rasanya seperti ada yang memijati tubuh dengan lembut dan hangat.

Tentu saja tidak selama berjam-jam kami merendamkan tubuh, karena tekanan sulfur dan kandungan garamnya akan membuat kita lemas bila terlalu lama berada di dalamnya. Paling-paling 15-30 menit kami berendam, lalu naik ke tepian kolam untuk mengeringkan tubuh sekitar 20 menit, lantas nyebur lagi berkali-kali sampai puas.

Belum lama ini ketika kami berkunjung ke Ciater, hujan sedang turun teramat deras. Semula kami berniat menunggu sampai hujan reda, baru kami akan pergi ke kolam rendam. Tetapi hujan malahan semakin lebat, padahal kerinduan kami pada air belerang Tangkuban Perahu sudah tak tertahankan lagi.

Di kolam rendam, dalam guyuran hujan.

Hujan pun akhirnya tak lagi menjadi masalah. Toh kami memang akan berbasah-basahan di kolam rendam, mengapa pula harus menghindari air hujan. Hujan tak hujan, efek yang akan dihasilkan sama saja: basah kuyup.

Tadinya, saya pikir, kehangatan kolam rendam akan berkurang karena bercampur air hujan. Namun ternyata waw … panas sekali. Mungkin karena udara di luar kolam lebih dingin dibandingkan air kolam yang hangat, maka air kolam pun terasa panas menyengat. Atau mungkin juga karena debit air kolam yang terus-menerus mengalir dari arah kawah, lebih tinggi dibandingkan debit air hujan.

Hanya beberapa detik kami berusaha menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu kolam dan suhu di luar kolam, hingga kemudian kami benar-benar berendam. Sangat menyegarkan rasanya. Namun sekonyong-konyong petir menyambar-nyambar di atas kami dengan kilatnya yang menyilaukan mata,  dan gelegarnya yang membuat jantung berdegup kencang.  Kami pun menyingkir sejenak menjauhi kolam. Tetapi ternyata hanya kami yang pengecut. Para pengunjung lainnya tetap berendam, tak peduli petir.

Keharusan Berpakaian Renang Diabaikan

Sambil menunggu petir berhenti berpentas, dari tempat teduh yang agak jauh, kami mulai memerhatikan para pengunjung kolam rendam satu per satu. Rupanya banyak pengunjung kolam rendam yang tidak menggunakan pakaian renang. Padahal peraturannya jelas-jelas tertulis bahwa semua pengunjung yang berendam di kolam, tanpa terkecuali, harus mengenakan pakaian renang.

Yang berpakaian renang.

Yang berpakaian jilbab sehari-hari (kiri)

dan yang berpakaian renang model  jilbab (kanan)

Ini membuktikan bahwa orang Indonesia umumnya memang susah diatur karena kesadaran dirinya yang sangat rendah. Beraktifitas di kolam renang ataupun di kolam rendam tanpa menggunakan pakaian renang, sesungguhnya membahayakan si empunya diri. Pakaian biasa yang dipakai untuk berbasah-basahan akan membuat beban tubuh memberat dan tentunya kurang sehat bagi tubuh karena pakaian biasa menyerap dan menyimpan air. Tapi peduli apa? Mereka pasti bilang, “yang penting saya tidak mengganggu Anda. Suka-suka dong.” Itu kalau misalnya kita beritahu mereka tentang tentang pentingnya pakaian renang.

Lalu siapa bilang tidak mengganggu? Kalau Anda beraktifitas di kolam renang atau kolam rendam dengan menggunakan cangcut atau kolor atau celana panjang dan kaos singlet, bukankah itu mengganggu? Ya, paling tidak mengganggu pemandangan orang lain. Apalagi kalau yang menggunakannya perempuan: Masalah ini pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya tentang Ciater: Ciater Masih yang Ter ….

Selain itu, para pengelola wisata kolam rendam pun tidak pernah bersikap tegas bila ada pengunjung yang bericikiprah di kolam tanpa berpakaian renang. Mereka membiarkan diri mereka kehilangan wibawa, dengan mencantumkan larangan tertulis di tepi kolam, tapi bersikap “menutup mata” terhadap sebagian besar pengunjung yang mengabaikan larangan itu.

Pakaian renang model jilbab, ada dijual.

Tak ada alasan jelas, mengapa sebagian besar pengunjung enggan berpakaian renang. Kalau tidak punya, bisa membeli atau menyewa dari pengelola kolam rendam. Harga jual dan harga sewanya pun tidak lebih mahal dari karcis masuk ke kolam rendam. Bagi kaum ibu yang biasa berpakaian jilbab dan tidak mau kelihatan auratnya di kolam rendam, juga tersedia pakaian renang khusus bagi para pengguna jilbab. Secara kasat mata pun akan terlihat lebih elok, melihat perempuan memakai pakaian renang model jilbab, ketimbang memakai jilbab sehari-hari lalu menceburkan diri ke dalam kolam.

Sari Ater Hot Spring Resort

Hanya ada dua tempat yang sering saya datangi bila ingin berendam di Ciater, yakni  Ciater Spa Resort dan Sari Ater Hot Spring Resort. Keduanya mempunyai pemilik yang sama, hanya manajemennya saja yang berbeda. Ciater Spa Resort lebih ditujukan untuk mereka yang ingin berobat atau memelihara kebugaran, sedangkan Sari Ater Hot Spring Resort difokuskan pada wisata.

Belakangan saya dan isteri lebih gandrung pada Sari Ater Hot Spring Resort, karena resort yang telah berusia sekitar 35 tahun itu sangat lengkap dan sangat tertata. Resort ini memiliki banyak kolam rendam dan air hangat yang mengalir di sungai-sungai, lengkap dengan air terjunnya. Juga tersedia berbagai hiburan seperti Bioskop 4 dimensi, rumah hantu, fasilitas outbond dan lain  sebagainya.

Air terjun yang panas.

Sungai yang mengalirkan air panas dari sumbernya.

Tetapi saya dan isteri lebih suka menghabiskan waktu dengan berendam di kolam rendam Mayang Sari, yang airnya paling hangat (paling panas?) dibandingkan kolam-kolam rendam lainnya di komplek Sari Ater. Suhu air di kolam rendam Mayang Sari diatur agar tidak kurang dari 42 derajat Celius dan tidak lebih dari 45 derajat Celcius. Ah, saya jadi ingin segera berendam lagi di sana. Ciater memang ngangenin (Sssttt … sebenarnya saya yang tergila-gila pada Ciater, bukan isteri saya. Dia mah nurut ajah kalau diajak ke sana).

Billy Soemawisastra